SETELAH TERBIT “TERBENAM” LAHIRLAH POSSORE VERSI ONLINE – Catatan : Nur Terbit.
Terbit yang satu ini tak akan pernah terbenam.
Karena mempunyai cahaya yang indah dalam aksara.
Yang selalu memotivasi dan menginspirasi dalam literasi
Menjadi nur
Menjadi cahaya
Menjadi pelita
Dalam berkarya
Dialah Nur terbit
“Izin Pak. Elok bikin puisi singkat setelah baca artikel Bapak. 🙏Kalau ada salah kata,” begitulah kutipan puisi di Penerbit Buku YPTD Ikhlas, salah satu grup What Grup tempat saya bergabung.
“Terima kasih puisinya Bu @~Elok Dewi Elfia, keren sekali ..👍,” jawab saya, begitu melihat ada notifikasi dari Bu Elok yang melintas di beranda media sosial.
Siapa Bu Elok? Saya dan Bu Elok, memang sudah kenal lama juga beberapa penulis lainnya — aktif menulis di blog pribadi maupun di blog yang sifatnya keroyokan seperti para Kompasianer (penulis di Kompasiana grup Harian Kompas).
Dulu kami juga menulis di Blogdetik yang sudah almarhum dari grup Detikcom, selain di Kompasiana dan Kumparan.
Sekarang ini kebetulan kami semua bertemu lagi sebagai penulis yang berhimpun di penerbit buku Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), pimpinan Kombes Polisi (Pur) Thamrin Dahlan.
SEKILAS TENTANG ERA MEDIA CETAK
Media cetak boleh saja sudah lama tutup, koran atau surat kabar pun sudah kehilangan pembacanya dan tidak bisa bertahan lama.
Tapi yang namanya profesi wartawan, tidak pernah lelah dan tidak mengenal kata pensiun. Profesi satu ini memang kelihatan tidak ada matinya.
Buktinya, Kamis 24 September 2026 mereka berkumpul lagi seolah reuni kembali. Para mantan wartawan “Harian Terbit” dari “Pos Kota Grup” ini.
Antara lain Maghfur Ghazali, Harial Maruhim, Tety Polmasari, Fenti Ruchyat, Marolop Situmorang, Nur Aliem Halvaima (Nur Terbit), menyusul datang Ramly Amin Simbolon dan DR Bagus Sudarmanto yang berhalangan.
Mereka sepakat membuat akte baru pendirian sebuah perusahaan penerbitan media untuk menaungi https://www.possore.id, domain satu media online yang selama ini mereka usung.
Mereka pun — para mantan wartawan Harian Terbit ini — lalu membubuhkan tanda tangan dan cap jempol mereka di atas kertas lembaran akte yang dibuat oleh Dwi Yantoro.
Mas Dwi –– begitu sapaan akrab kami kepada notaris muda ini — memang secara kebetulan juga berlatar belakang wartawan.
Mas Dwi berkantor di bilangan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebelumnya di awal meniti karier sebagai notaris, dia berkantor di Jalan Raya Narogong. kita Bekasi.
Bagi saya pribadi, ini adalah selain sebuah sejarah baru perjalanan profesi wartawan, dari media cetak ke media online yang tidak sekedar reuni dan bernostalgia.
Tapi juga meneruskan dan terus menggelorakan semangat perjuangan dari para “pemburu berita” ini. Selamat sukses.
MANFAAT BADAN HUKUM BAGI MEDIA
Salah satu persyaratan sebuah media apapun, media cetak maupun media online, adalah harus berbadan hukum. Antara lain berupa perseroan terbatas (PT), koperasi atau yayasan..
Selain itu, harus mempunyai alamat jelas dan memiliki kantor redaksi. Pengasuhnya atau awak medianya juga harus sudah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Dewan Pers.
Dari sekian persyaratan tersebut, Alhamdulillah, itulah yang saatnini sedang dilakukan teman-teman para mantan wartawan Harian Terbit untuk media barunya Possore.id dalam versi online.
Nama Pos Sore sendiri, sebenarnya nama lama Harian Terbit sebelum dibredel pemerintah. Sempat juga Harian Terbit ini “terbenam” di bawah pengelolaan manajemen Pos Kota Grup. Pada 10 Januari 2014 resmi “dijual” dan diambilalih pihak lain.
Ketika surat kabar sore ini berganti manajemen, wartawannya yang lama dan tidak ikut bergabung dengan manajemen baru, lalu membuat media baru bernama Pos Sore, menghidupkan kembali nama lama Harian Terbit.
Sebenarnya nasib HARIAN TERBIT adalah “setali tiga uang” dengan SINAR HARAPAN, koran sore yang juga terbitan Jakarta dari manajemen SINAR KASIH.
Berliku-liku, jatuh-bangun, jatuh lagi dan “nyungsep” selamanya.
Ketika saya masih aktif sebagai reporter di lapangan, Sinar Harapan (dengan pengelola redaksi Rorimpandey) pernah dibredel (ditutup) bersama koran POS SORE (Pos Kota Grup milik Harmoko), PRIORITAS (Surya Paloh) era Presiden Soeharto (rezim Orde Baru).
Lalu Menteri Penerangan (ketika itu Harmoko) mengizinkan kembali Sinar Harapan beredar asal berganti awak redaksi dan nama media dari Sinar Harapan menjadi SUARA PEMBARUAN.
Belakangan bekas orang lama menerbitkan kembali Sinar Harapan.
Tidak demikian dengan harian PRIORITAS, koran pertama di Indonesia yang berwarna ini akhirnya “di-PRIORITAS-kan” untuk tidak bisa terbit lagi.
Surya Paloh membeli Media Indonesia dari pemiliknya Tengku Yuslihsyah sebagai pengganti PRIORITAS.
Begitu juga dengan Pos Sore, boleh beredar kembali asal berganti nama. Itulah HARIAN TERBIT, reinkarnasi dari Pos Sore, di mana belakangan sudah TERBENAM seperti yang saya ulas di postingan ini….
Semoga teman-teman termasuk karyawan, mendapat tempat yang layak di media yang baru atau profesi baru dan lapangan kerja berikutnya…
Bagaimana perjalanan “jatuh bangun” HARIAN TERBIT” boleh diklik di link artikel di bawah ini: 👇
1. ARTI SK BAGI SEORANG WARTAWAN
2. SAYA, HARMOKO DAN HARIAN TERBIT
3. TEMANKU SEORANG WARTAWAN FOTO
4. DARI POSSORE, HARIAN TERBIT, LALU TENGGELAM
Demikianlah cerita saya di blog kali ini tentang wartawan yang tidak kenal pensiun. Semangat terus kalian. Semoga bermanfaat.
Salam : Nur Terbit
* Tulisan hari ke-37 Selasa 22 September 2026 Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81 “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri”, yang diadakan Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com
