Transportasi Wisata

Mudik Lewat Laut Sambil Berbulan Madu

Foto : Nur Terbit
Foto : Nur Terbit
Written by nurterbit

Punya kampung yang jauh dan harus keluar dari Pulau Jawa, sensasinya jadi terasa lain di saat pulang mudik lebaran.

Terutama jika bertepatan waktu cuti bersama menjelang dan sesudah Hari Raya Idul Fitri. Sudah bisa terbayang, bagaimana “rempong”-nya masyarakat pemudik yang menggunakan moda transportasi lebaran. Sering juga disebut arus mudik saat “orang kota” pulang kampung, atau arus balik saat dari kampung kembali ke kota.

Saat seperti inilah, pemandangan dan suasana di mana-mana, terasa berbeda dari biasanya. Dari kesibukan kaum muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan, gairah beribadah di mesjid dan musholah, atau ramainya pusat perbelanjaan dari pengunjung yang mau lebaran.

Penuh sesaknya pemudik yang siap-siap pulang kampung ini, nampaknya seolah sudah menjadi tradisi.

Apalagi menjelang hari lebaran. Kondisi ini populer disebut dengan istilah  H-3 atau H-2 (H min 3 atau H min 2), atau 3 hingga 2 hari menjelang lebaran.

Mudik lewat laut sambil bernostalgia (dok Nur Terbit)

Mudik lewat laut sambil bernostalgia (dok Nur Terbit)

Cuti Bersama Tahun 2019 

Hari libur nasional, selama ini umumnya ditetapkan untuk memperingati hari besar keagamaan maupun kenegaraan. Pada beberapa kasus tertentu, akan ada hari terjepit di beberapa libur nasional.

Pemerintah Indonesia pun menetapkan cuti bersama guna memaksimalkan peringatan hari besar yang tengah berlangsung. Cuti bersama tahun 2019 mendatang, diprediksi akan bertambah satu hari pada Pemilu 2019. Jadi, ada total 8 hari cuti bersama yang Anda dapatkan di tahun 2019.

Penetapan cuti bersama tahun 2019 memang masih mungkin berubah. Akan tetapi, sudah dipastikan ada 15 hari libur nasional di Indonesia tahun depan. Sayangnya, beberapa tanggal merah jatuh pada hari Sabtu, Minggu, atau Rabu.

Agarpunya banyak waktu untuk libur, Anda perlu memaksimalkan cuti bersama tahun 2019 dengan memperhatikan daftar cuti bersama yang ada di Traveloka

Untuk Hari Raya Idul Fitri di tahun 2019, diperkirakan jatuh pada tanggal 5 – 6 Juni. Dengan begitu, cuti bersama lebaran diprediksi mulai tanggal 3, 4, serta 7, 8 Juni.

Sebagai keluarga penganut tradisi mudik lebaran setiap tahun, sudah harus mempersiapkan segalanya terkait musik lebaran. Selain tentunya saja kesiapan “doa” dan “dana”.

Belum lagi, tanggal 9 Juni adalah hari Minggu sehingga cuti bersama lebaran di tahun 2019 akan berlangsung sangat panjang.

Apabila dihitung dari cuti bersama Kenaikan Isa Almasih serta Kelahiran Pancasila, libur lebaran 2019 akan berjumlah total 11 hari.

Wow… artinya bisa lebih lama liburan dan silaturahmi di kampung

Santai di tangga kapal KM Tidar menuju anjungan usai sholat jamaah (foto dok pribadi)

Santai di tangga kapal KM Tidar menuju anjungan usai sholat jamaah (foto dok pribadi)p

Mudik Dengan Kapal Laut

Semakin dekat waktu lebaran, suasana persiapan mudik juga semakin terasa. Pusat perbelanjaan penuh pengunjung, begitu juga kondisi serupa terlihat
di terminal bus, stasiun kereta api bagi yang memilih angkutan darat. Atau tak kalah ramainya di bandar udara oleh pemudik calon penumpang pesawat terbang.

Demikian pula kesibukan bongkar-muat barang dan penumpang di dermaga pelabuhan, di tengah banyaknya pemudik yang datang ke pelabuhan untuk pulang kampung menggunakan transportasi laut.

Di atas kapal laut KM Tidar, dalam pelayaran Tanjung Priok ke Makassar (foto dok pribadi)

Di atas kapal laut KM Tidar, dalam pelayaran Tanjung Priok ke Makassar (foto dok pribadi)

Kenapa mudik lewat laut? Nah di sinilah uniknya sebagai perantau yang pulang lebaran dengan kapal laut. Sebagai perantau asal Makassar, Sulawesi Selatan, bagi saya dan keluarga, inilah pilihan kedua angkutan mudik selain pesawat atau kapal udara. Kenapa kapal laut? Irit biaya?

Gak juga. Tidak selamanya yang memilih mudik dengan kapal laut karena pertimbangan ongkos dan bekal yang pas-pasan. Banyak pula pedagang kaya, memilih angkutan laut karena banyaknya barang dagangan yang harus dibawanya.

Contohnya saya sekeluarga yang biasanya pulang kampung ke Makassar, Sulawesi Selatan. Cuma ada dua pilihan moda transportasi yakin lewat laut dan udara. Lewat darat, tentu mustahil.

Kalau lewat laut, sudah pasti harus naik kapal laut, yang tentu saja memerlukan waktu perjalanan panjang, 2 hari 3 malam. Lewat udara lebih cepat, hanya 2 jam tapi ongkosnya mahal karena menggunakan pesawat terbang. Belum lagi sekarang ini harga tiket pesawat makin mahal, barang bagasi dikenai biaya pula — yang sebelumnya penumpang diberi dispensasi biaya gratis sampai 20 kg.

Seperti pada Lebaran Idul Fitri sebelumnya, maka tahun 2019 ini saya ingin mencoba bernostalgia lagi. Mudik dengan kapal laut. Selain biayanya terjangkau, saya sekalian bernostalgia bagaimana “tempo doeloe” merantau ke Jakarta naik kapal laut.

Makam Sultan Hasanuddin (foto2 dok pribadi)

Makam Sultan Hasanuddin (foto2 dok pribadi)

Bulan Madu di Kapal Laut

Lebih dari itu, ketika pulang menikah ke Makassar, saya memang sengaja “berbulan madu” di atas kapal saat saya balik ke Jakarta bersama istri tercinta. So sweet..

Setiap kali mudik, selalu ada aksi balas dendam. Koq balas dendam, memangnya pulang kampung untuk mengamuk? hehehe…

Balas dendam di sini, yakni berburu kuliner khas Makassar, yang memang susah dicari di perantauan. Begitu yang diburu sudah ditangan, balas dendam pun terjadi.

Maka, tidak ada cerita pulang dari lokasi kuliner, kembali dengan tangan kosong. Yang ada kantong kosong, perut yang buncit demi kuliner hehehe…

Jenis kuliner favorit kami saat pulang kampung ke Makassar, di antaranya berburu Bassang, yakni semacam bubur jagung, juga Barobbo yang bahannya sama: dari jagung. Satu lagi yakni kue buroncong.

Nah, begitulah setiap kali kami pulang kampung lebaran ke Makassar. Rencana mudik 2019 nanti, mungkin tidak jauh beda. Memilih moda transportasi kapal laut sambil bernostalgia mengenang awal pertama kali merantau ke Jakarta, dan saat bulan madu di kapal laut. Wow….yang jomblo jangan iri ya hehe…

Salam

Nur Terbit

Ngumpul ora ngumpul mangan

Rumah makan Makassar (foto dok pribadi Nur Terbit)

Leave a Comment