YANG RIBET DI ATAS KAPAL LAUT SAAT MUDIK – Catatan Mudik Nur Terbit
Bang Nur Terbit dan keluarga mudik dari Jakarta ke Makassar, Selasa sore 7 Februari 2023 dengan KM Ciremai sebagai penumpang kelas ekonomi.
Ini mudik untuk kesekian kalinya bagi Bang Nur, baik sendirian maupun bersama keluarga dengan kapal laut milik PT Pelni.
Mudik sebelumnya sudah lama sekali. Masih zaman KM Kambuna dan KM Kerinci, dua kapal ini kabarnya sudah tidak beroperasi lagi.
Tapi untuk mudik kali ini, ada “misi khusus”. Salah satunya, ingin berpuasa dan berlebaran di kampung halaman. Mau mengulang pengalaman serupa 7 tahun silam.
Untuk perjalanan mudik kali ini, berangkat dari rumah di Kota Bekasi bertiga: saya, istri dan anak, dengan grabcar pukul 12.00 WIB. Nyewa Maxim dengan tarif Rp116.200,-
Namun karena banyak barang, lebih dari 10 potong berikut oleh-oleh (kalau pesawat sudah over bagasi), driver minta borongan saja ke pelabuhan Tanjungpriok seharga Rp280.000, kami bayar Rp300.000, gak ada kembalian 🥱 Juga 3 kali bayar tol baru sampai ke pelabuhan.
Masih sempat mampir dulu ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara, di kawasan Sunter, Ancol, selesaikan urusan klien.
*****
Berikut 11 persoalan di atas kapal yang sempat saya catat selama berlayar dengan KM Ciremai yang melayari rute Jakarta, Surabaya, Makassar, Bau-bau, Sorong, Manokwari, Baik, Jayapura pergi-pulang. Ke-11 persoalan tersebut, yaitu :
1. Makan malam di KM Ciremai.
Antre di Pantry, tempat dapur khusus bagi penumpang ekonomi. Ada tempat pengambilan air panas. Dulu makan pakai piring besi (ompreng, lalu berganti sterofom, kini berganti dengan kemasan plastik ala go food). Cara mengambil makanan di fantry harus pakai tiket.
2. Salat jamaah musafir.
Salat di atas kapal, punya tata cara tersendiri sebagai seorang musafir atau orang yang melakukan perjalanan. Salat digabung (Ashar gabung Dhuhur, Magrib gabung Isya dan Subuh berdiri sendiri).
Uniknya arah kiblat berubah-ubah sesuai posisi buritan kapal. Berkenalan dan ngobrol dengan pengurus DKM mushola kapal, “An Nur”, dengan Pak Nas (Nasir) dkk.
3. Tempat ngopi dan makan cemilan.
Selama mengikuti pelayaran di atas kapal, tidak perlu repot nyari tempat ngopi dan makan cemilan. Ada kantin (kafetaria), mini market. Juga ada asongan di kapal, yang jual adalah crew atau ABK. Siang jual kerupuk (belinya di Surabaya), dan digoreng di atas kapal. Subuh atau pagi hari ganti jualan bubur kacang hijau.
4. Tidur di lantai gelar kasur.
Selama pelayaran, juga menyempatkan keliling kapal melihat situasi. Banyak orang tidur di lantai gelar kasur, sejumlah pengumuman ditempel di dinding kapal, naik ke kantin yang berada di atas mushola, tapi semuanya masih tutup.
5. Tiket yang sudah online.
Mudik kali ini sudah banyak perubahan, terutama cara pembelian tiket yang sudah online. Sebelumnya menggunakan tiket fisik.
6. Antre sejak di darat hingga di kapal.
Soal cetak tiket, terjadi antrian panjang di terminal penumpang Pelabuhan Tanjungpriok saat cetak tiket. Seorang penumpang sarankan kenapa tidak seperti tiket di kereta api? begitu datang tinggal scan tiket.
7. Nama kapal dari nama gunung.
Sejumlah kapal laut milik PT Pelni, semuanya rata-rata memakai nama gunung yang ada di Indonesia. Salah satunya KM Ciremai yang saya tumpangi pulang mudik. Ciremai diambil dari nama gunung yang berada di ketinggian 3000-an meter di atas permukaan laut, merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.
8. Kisah lucu di atas kapal laut.
Di atas kapal, banyak Bang Nur temukan kisah lucu. Mengharukan sekaligus menggelikan. Salah satunya, ada sandal jamaah tertukar saat keluar musholah. Satu sandal berwarna hitam (kiri), satunya lagi warnah hijau (kanan). Akhirnya sandal tersebut ketemu juga setelah ybs capek keliling mencari sendalnya.
9. Susah online di atas kapal laut
Persoalan lain, adalah kendala jaringan internet, sinyal yang timbul tenggelam, tak terhindarkan selama di kapal. Barulah sedikit tertolong ketika kapan sedang sandar di pelabuhan.
10. Peralatan sudah tua dan rusak
Soal kebersihan dan fasilitas kapal, juga memprihatinkan terutama di kamar mandi. Sudah ada tong sampah tapi bekas bungkus sampo, sikat gigi, sabun masih berserakan di lantai. Sedang fasilitas kamar mandi seperti sower, kran, banyak yang rusak, nyaris tak bisa digunakan.
11. Tak ada pemeriksaan tiket
Pemeriksaan tiket, tidak dilakukan lagi. Mungkin karena tiket sudah sistem online. Paling tidak yang saya alami dari Tanjungpriok Jakarta Utara, Tanjungperak Surabaya hingga turun di Makassar.
Juga sudah tak ada lagi latihan bagi penumpang di atas kapal, penggunaan pelampung, cara penyelamatan sebagai antisipasi jika kapal mengalami gangguan di laut.
*****
Demikian catatan saya selama berlayar rute Jakarta – Makassar dengan KM Ciremai dengan nakhoda Capten Usman M. Tang. Sampai jumpa pada pelayaran berikutnya dengan pelayanan yang lebih baik lagi. Terima kasih PT. Pelni
Salam Nur Terbit
#NurTerbit #wartawanbangkotan
KM Ciremai, Makassar, Jumat 100223
Cc. Winda Rosetty, Bunda Sitti Rabiah, Annisa Wulandari, Akbar Ramadhan HjSulaeha, Pt Pelni.


