Reportase Transportasi

Puasa Ramadhan di Tengah Laut

Foto : Nur Terbit
Foto : Nur Terbit
Written by nurterbit
Mudik di bulan Ramadhan, punya kesan tersendiri bagi perantau. Apalagi kalau Ramadhan di tengah laut, dan berpuasa di atas kapal laut. Beda sensasinya.

Jika perjalanan memerlukan waktu lama, tentu kewajiban menjalankan ibadah seperti puasa Ramadhan, tetap harus dilaksanakan. Yang namanya ibadah, tidak boleh ditinggalkan, meski dalam perjalanan pulang kampung sekalipun.

Demikian pula jika mudik lewat laut. Menggunakan alat transportasi kapal laut, jelas bukanlah pengecualian. Bahkan semua aktivitas ibadah, tetap bisa dilakukan sambil berlayar di tengah samudera. Makan sahur, buka puasa hingga salat lima waktu. Semua berlangsung di atas kapal laut.

Baca Juga : Puasa di Tengah Laut, Berlayar ke Kota Makassar (2)

Masih adakah pemudik yang memilih kapal laut? Bukankah sudah ada pesawat yang lebih cepat tiba di kampung halaman? “Masih ada. Harga tiketnya lebih murah. Saya biasanya berangkat lebih awal. Tidak berdesak-desakan. Misalnya dipermulaan bulan puasa,” kata Thamrin, perantau asal Makassar, Sulawesi Selatan.

EKONOMI -- Penumpang kelas ekonomi di kapal laut. Tempat tidur berderet (Foto : Nur Terbit)

EKONOMI — Penumpang kelas ekonomi di kapal laut. Tempat tidur berderet (Foto : Nur Terbit)

Bulan Ramadhan seolah identik dengan waktu mudik. Banyak perantau yang sengaja memilih angkutan laut. Selain harga tiketnya terjangkau, juga bisa membawa barang cukup banyak. Berbeda jika naik pesawat yang berat bagasi juga dibatasi. Mereka memanfaatkan waktu Ramadhan untuk mudik lebaran. Kapal laut terkadang  memuat penumpang TKI yang ikut mudik.

“Ketika harga tiket pesawat belum terjangkau oleh isi dompetku, beberapa kali saya harus mudik ke Makassar dengan kapal laut milik Pelni disaat masih Ramadhan. Perjalanan dua hari tiga malam dari Pelabuha Tanjung Priok Jakarta ke Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar”, kata Rasyid, warga Kebon Bawang, Jakarta Utara.

Di atas kapal laut, penumpang Muslim disiapkan jatah makan sahur dan menu buka puasa. Tak ketinggalan kue takjil. Penumpang kapal laut juga harus memegang tiket. Tanpa tiket berarti penumpang gelap alias pelarian.

Berita Terkait : Lebaran di Atas Kapal, Berlayar ke Kota Makassar (3)

Itu sebabnya, naik kapal laut di waktu Ramadhan, punya kekhasan lain dalam hal tiket. Kenapa? tiket yang dipegang masing-masing penumpang, diberi tanda khusus berupa cap stempel bertuliskan: PUASA.

Narsis di anjungan kapal laut KM Tidar (foto dok pribadi)

Narsis di anjungan kapal laut KM Tidar (foto dok pribadi)

Artinya, yang bersangkutan sedang menjalankan ibadah puasa. Karenanya, mereka baru bisa  antre mengambil jatah makan pada Subuh hari. Atau sebelum dan menjelang waktu imsaq serta pengambilan jatah makan pada saat berbuka puasa di waktu Maghrib.

Cara pengaturan dan penjadwalan jatah makan penumpang kapal laut ini, imaksudkan agar jatah makan di atas kapal, tidak sampai dobel dengan mereka — yang non Muslim, atau karena sesuatu hal hingga tidak bisa berpuasa pada siang hari. “Sebab bila tidak diatur, wah bisa bangkrut dong Pelni, hehe…,” kata Rasyid sambil bercanda.

Selain di tempat khusus di atas kapal, seperti Pantri  untuk tempat pengambilan jatah makan bagi penumpang, juga terdapat kantin kapal di setiap dek atau di anjungan bagian buritan kapal. Kantin tersebut menyiapkan kue-kue  dan makanan, tentu saja dengan harga spesial. Mie instan (pop mie gelas) Rp20 ribu. Kopi susu/hitam hangat, misalnya, dijual Rp10 ribu. Pakai batu es (dingin) Rp20 ribu.

PANTRI -- Penumpang ekonomi sedang mengambil jatah makan di kapal. Bagi yang menjalankan puasa, disiapkan untuk jatah makan sahur dan berbuka puasa (Foto : Nur Terbit)

PANTRI — Penumpang ekonomi sedang mengambil jatah makan di kapal. Bagi yang menjalankan puasa, disiapkan untuk jatah makan sahur dan berbuka puasa (Foto : Nur Terbit)

Kapal laut Pelni yang rata-rata hanya berkapasitas 1000 orang penumpang, pada bulan Ramadhan khususnya saat angkutan mudik lebaran jumlah penumpang bisa meningkat tajam.

Untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah penumpang mudik dan arus balik, Kementerian Perhubungan memberi toleransi kepada Pelni untuk mengangkut dari semula 1000 orang pada situasi normal, menjadi 1500-2000 penumpang dalam satu trip pelayaran angkutan mudik.

Saat ini, Pelni dipercaya untuk memberangkatkan pemudik ke berbagai kota di seluruh pelosok Nusantara dan paket mudik bareng BUMN. Pelni mengerahkan 26 armada kapal Pelni, terdiri 1 armada tipe 3.000 pax 11 armada tipe 2.000 pax 9 armada tipe 1.000 pax, 3 kapal tipe 500 pax dan 2 kapal Roro.

Angkutan lebaran dengan kapal laut dilaksanakan mulai H-15 tanggal (31 Mei 2018) hingga H+ 15 (1 Juli 2018).

Corporate Secretary PT. Pelni (Persero) Ridwan Mandaliko mengatakan, Pelni mendukung kegiatan mudik bareng BUMN. Mudik, atau pulang kampung bersamaan menjadi agenda tahunan bangsa Indonesia. Kementerian BUMN menyediakan 202. 300 tiket dengan berbagai moda, kereta api, bus, penyeberangan yang didanai 75 BUMN.

“Tahun 2018 ada 24 BUMN menyediakan mudik gratis dengan kapal laut Pelni. Kami siap mendukung kegiatan ini,” terang Ridwan Mandaliko.

Kapal laut Pelni siap sandar di dermaga pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara (foto: Nur Terbit)

Kapal laut Pelni siap sandar di dermaga pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara (foto: Nur Terbit)

Bertahun-tahun, kata Ridwan, mudik gratis terfokus di Jawa dari ibu kota Jakarta ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil ke luar Jawa. Tahun ini ada 24 BUMN memilih kapal laut Pelni untuk mudik gratis.

“Mudik gratis dengan kapal laut lebih Indonesia, karena bukan warga di Pulau Jawabisa mudik gratis, namun warga di beberapa pulau di Nusantara disediakan sarana transportasi untuk mudik gratis,” lanjut Ridwan. Pelni akan memberangkatkan 1.000 pemudik ke pulau terluar.

Tarif kapal Pelni dianggap lebih murah dibanding tarif KA, bus maupun pesawat. Meskipun permintaan angkutan laut saat lebaran juga tinggi, tarif tidak naik karena tarif kapal Pelni ditentukan pemerintah, Pelni menjalankan penugasan pelayanan publik di laut.

“Pelni menyiapkan 54.000 tiket perhari selama angkutan lebaran,” kata Ridwan.

Saking banyaknya penumpang kapal laut yang mudik di bulan Ramadhan (1500-2000 penumpang dalam satu trip), akan jadi persoalan tersendiri di atas kapal selama masa pelayaran. Krisis air untuk mandi, BAB dan wudhu. Tiga persoalan ini cuma bisa diatasi dengan satu cara: beli air aqua. Maka aqua botolan ukuran jumbo pun laris-manis.

Sebelum kapal meninggalkan dermaga pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, terlebih dahulu diisi air di tangki penampungan kapal. Persediaan air tersebut untuk kebutuhan penumpang dlm pelayaran selama 1 malam ke Pelabuhan Tanjung Perak. Tapi dengan penumpang membludak, air tersebut ternyata tak mencukupi.

Musholah Kapal. Suasana Ramadhan di atas Kapal Laut (Foto : Nur Terbit)

Musholah Kapal. Suasana Ramadhan di atas Kapal Laut (Foto : Nur Terbit)

ARAH KIBLAT TAK MENENTU

Melaksanakan salat di atas kapal, terkadang akan terasa unik karena arah kiblat sering berganti. Sesuai dengan arah kapal berlayar. Berdiri mengangkat takbir dengan tubuh yang oleng ke kiri, ke kanan, ke depan atau bahkan ke belakang.

Itulah dialami jamaah mesjid Nurul Iman — yang berada di atas kapal laut KM Tidar, dek 7 buritan di bawah kantin kapal. Tempat ibadah ini mulai digunakan pertama kali sejak tahun 1988 dan diresmikan oleh Menteri Perhubungan, Azwar Anas. Peresmian mesjid, dilakukan bersamaan dengan pengoperasian kapal penumpang ini yang dibeli pemerintah RI era Presiden Soeharto dari galangan kapal di Jerman.

Setiap kali menjelang waktu salat wajib, ada pengumuman dari ABK (anak buah kapal) melalui pengeras suara yang bisa didengar oleh penumpang di atas kapal, di mana pun ia berada. Misalnya seperti ini: “Diberitahukan kepada seluruh penumpang, bahwa sekarang ini saatnya waktu sholat. Bagi yang ingin berjamaah, ada mesjid di bagian buritan kapal. Arah kiblat serong kiri arah haluan kapal”.

EKONOMI -- Tempat tidur di atas kapal berderet untuk penumpang kelas ekonomi (Foto : Nur Terbit)

EKONOMI — Tempat tidur di atas kapal berderet untuk penumpang kelas ekonomi (Foto : Nur Terbit)

Tapi, pengumuman arah kiblat ini, sewaktu-waktu berubah. Bisa saja sholat Dhuhur, arah kiblat masih tetap serong kiri arah haluan, lalu ketika sholat Magrib arah kiblat justeru sebaliknya. Penentuan arah kiblat ini, memang kemudian terkadang akan terdengar sedikit aneh. Misalnya, jika diumumkan bahwa arah kiblat “akan ditentukan kemudian”.

Baca Juga: Uniknya Sholat Jamaah di Kapal Laut (1)

Kenapa belum ditentukan? Itu karena posisi kapal masih berubah-ubah karena menjelang sandar di sebuah pelabuhan. Artinya kapal akan masuk ke pelabuhan, atau sebuah pulau persinggahan kapal, sehingga harus melewati alur pelayaran dan lekuk-lekuk kolam pelabuhan.

“Sebaliknya jika kapal dalam situasi berlayar, misalnya dari Makassar ke Pulau Banda, arahnya tetap lurus sehingga arah kiblat tidak berubah. Kalau pun nanti berubah, hanya miring sedikit. Maka saat itulah arah kiblat akan sesuai arah haluan kapal,” kata Deny Setia Budi, salah seorang ABK KM Tidar.

Di luar tugas rutinnya menyandarkan kapal dengan posisi sebagai kelasi kapal, Deny juga bertugas sebagai “marbot” mesjid. (Nurterbit)

MELANTAI -- Penumpang yang tidak kebagian empat tidur di atas kapal, terpaksa harus rela melantai. Jika mudik kebetulan Ramadhan menjelang lebaran, maka penumpang pun membludak (Foto : Nur Terbit)

MELANTAI — Penumpang yang tidak kebagian empat tidur di atas kapal, terpaksa harus rela melantai. Jika mudik kebetulan Ramadhan menjelang lebaran, maka penumpang pun membludak (Foto : Nur Terbit)

Kisah-kisah di kapal laut yang lain :

Bulan Madu di Kapal Laut, Pengalaman Mudik

Pengalaman Naik Kapal Pelni, Diwawancarai Wartawan Pelabuhan

 

34 Comments

  • Seru kayaknya mudik di kapal laut ya pak. Berlayar tetapi tetap berpuasa bersama pemudik lainnya. Saya juga pernah punya pengalaman mudik tapi naik kapal Ferry aja ke Bakauhuni. Hehe dulu itu mudik ke Bengkulu.

  • saya sih kadang heran kalo ada pemudik yang kalo mudik bisa sampe 3 bulan, kalo orang bilang nunggu duit habis baru balik lagi ke ibukota hehe

    • Iya bisa jadi mbak Innova. Ada istilah di kalangan perantau: 11 bulan kerja keras mengumpulkan duit di rantau, 1 bulan menghabiskannya di kampung hehehehe…

    • Siap mas Rizki. Semua penumpang difasilitasi. Yang membedakan tulisan di tiket penumpang, yang puasa ada stempel “Puasa”. Jadi disiapkan jatah sahur dan berbuka, yang “berhalangan” berpuasa, jatah makan seperti biasa pagi, siang dan malam.

    • Seru mbak Nia. Kalau di Ancol cuma perahu, nah dengan kapal laut ini ibarat “Hotel Terapung” dengan sejumlah fasilitas hiburan, olahraga dan tempat ibadah : bioskop, kolam renang, cafe, music live, restoran, sarana olah raga (pingpong), mesjid, gereja…

    • Hahahaha….ya jelas goyang2 kapalnya mbak Hani, maklum bukan lewat jalan tol hehe…kan di atas air dan membelah ombak. Kalau untuk rute pelayaran ke Indonesia Timur, biasanya goyangannya terasa saat melintasi Perairan Massalembo tempat KM Tampomas II dulu karam. Biasanya malam hari, awak kapal membunyikan serine dan penumpang yang belum tidur diminta berdoa.

    • Iya unik mbak April karena arah kiblatnya berubah-ubah. Satu contoh kalau sholat di mesjid kapal di anjungan. Kadang hari ini kita masuk dari pintu samping atau belakang mesjid, besoknya pintu tersebut ditutup karena ada mimbar (kiblat)

  • Belum pernah mengarungi laut menggunakan PELNI, rasanya bagaimana ya. Maklum seluruh keluarga besar ada di pulau Jawa. Kemana-mana naik mobil atau kereta. Penasaran untuk mencoba lakukan perjalanan mengarungi laut Indonesia.

    • Rasanya asyik sih menurut saya mbak Anisa. Seperti naik kapal pesiar, bedanya karena suasana puasa, mudik lebaran, jadi ya “umpel-umpelan” deh hehehe

  • Alhamdulillah seumur umur belum pernah sih ngalamin puasa di tengah laut. Hmmm kebayang sah itu siang siang perut kosong trus ombak nya lagi tinggi. Kayak diunclang jadinya

    • Hehehe…iya Kidemang. Yang mungkin belum saya tulis, lebaran di atas kapal laut. Ceritanya sama, mudik dan puasa di kapal, tapi salah jadual. Baru sandar di Surabaya, sudah lebaran, meleset satu hari dari rencana mau lebaran di Makassar hahaha..

  • Pengalaman banget ya naik kapal laut sewaktu bulan puasa. Saya naik kapal laut ketika menyebrang pulau dari Jawa ke Sumatera dan dari Jawa ke Bali/Lombok aja. Belum pernah yang sampe menginap seperti ke Makassar, pengen sih sewaktu-waktu ngerasain sensasi nginep di kapal laut kayak gini. Terima kasih sharingnya Oom Nur.

  • Seru om pengalamannya puasa di kapal laut, aku blm pernah naik kapal pelni paling kapal yang ukuran sedang. Saat nentuin arah kiblat pengalama seri lainnya ya, ahh aku harus coba naik kapal laut.

  • mudik ketika lebaran harus siap dengan risiko seperti kehabisan tempat tidur terutama pengguna kapal laut kelas ekonomi dan cara satu-satunya yaitu tidur di lantai tapi semua itu terbayarkan ketika mudik telah sampai di rumah dan berkumpul dengan keluarga

Leave a Comment