PEMKOT MAKASSAR INGKAR JANJI, SUDAH 10 TAHUN GANTI RUGI TPU SUDIANG BELUM DIBAYAR ๐ก๐๐ญCerita Nur Terbitย
Taman Pemakaman Umum (TPU) SUDIANG di Kelurahan Bakung, Kecamatan Biringkanaya dibebaskan Pemkot Makassar Sulawesi Selatan dari tanah milik rakyat dimulai sejak era Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin.
Pembebasan tanahnya konon kabarnya menggunakan dana APBD, artinya menggunakan uang rakyat (bukan uang pribadi wali kota) yang dikumpulkan dari uang pajak yang dibayarkan rakyat setiap tahun. Anehnya, setiap tahun tidak pernah dianggarkan di APBD untuk ganti rugi TPU SUDIANG.
Namun faktanya, sudah 10 tahun sejak dibebaskan 2015 tanah TPU SUDIANG tersebut digunakan mengubur jenazah warga Kota Makassar, tapi ganti ruginya belum juga dibayarkan kepada rakyat pemilik tanah sampai sekarang 2025.
Berkali-kali rakyat pemilik tanah melapor, mengadu, menyurat ke Pemkot Makassar sejak era Wali Kota Danny Pomanto, juga “curhat” kepada wakil rakyat di DPRD Kota Makassar, Alhamdulillah hasilnya nol besar. Mereka semua seolah tutup mata, tutup telinga.
Mereka (Walikota – Wakil – Anggota DPR) hanya datang ke Dapil Kecamatan Biringkanaya di mana TPU SUDIANG berada, minta dukungan suara saat menjelang Pilwali dan Pileg. Setelah mereka sudah duduk tenang di kursi jabatan, ibarat “kacang lupa kulitnya, penguasa dan wakilnya lupa konstituennya”…hehehe…
Pernah sekali waktu ada tim dari Pemkot Makassar bersama tim dari UPT Pemakaman, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar sebagai pihak pengguna lahan TPU — bahkan pernah juga tim dari Kejaksaan Negeri Makassar — melakukan survei ke TPU SUDIANG didampingi para ahli waris (rakyat) pemilik tanah.
Tapi hasilnya? hanya berhenti pada survei, sementara hasil survei itu sendiri dan kelanjutannya tidak jelas. Terkesan hanyut bersama air “Sungai Jeneberang” dan dihempas gelombang laut tepi “Pantai Losari”, dibawa pergi oleh hembusan “Anging Mammiri”.
Tinggallah kini harapan dan “mimpi” serta “janji angin surga” rakyat kepada wakilnya di DPR dan pemimpinnya di Pemkot Makassar untuk kapan diwujudkan? Lalu bagaimana ini Pak Wali Kota yang baru Munafri โAppiโ Arifuddin dan Ibu Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham?
Apakah rakyatnya bapak-ibu walikota, rakyat yang telah memilih Anda semua sebagai pasangan walikota dan anggota DPR di Dapil Biringkanaya terutama di Sudiang (saat Pilwali dan Pileg) mau tetap kalian biarkan sengsara, melarat dan setia dengan kemiskinan mereka?
Sementara bapak ibu semua, WALIKOTA DAN ANGGOTA DPR beserta keluarganya, justeru asyik menikmati gaji dan tunjangan yang terus bertambah, sementara rakyat (semua sudah tahu) bahwa itu semua yang kalian nikmati adalah hasil dari uang rakyat yang dibayar dari pajak?
Sadarlah pak, sadarlah bu, kita semua ini (INSYA ALLAH) akan mati. Innalilahi wa innailaihi rojiun. Mungkin juga suatu saat bapak, ibu, kita semua akan dikubur. Salah satunya justeru mungkin digotong, dibawa dan diangkut dengan mobil jenazah (ambulans) ke TPU SUDIANG, tanah rakyat yang kalian belum bayar ganti ruginya hingga sekarang. Astaghfirullah.
“Naudzubillah min dzalik” (ููุนูููุฐูุจูุงูููู ู ููู ุฐูุงูููู). “Kami memohon perlindungan kepada Allah SWT dari perkara tersebut”. Betapa telah terdzoliminya rakyat kecil di Sudiang, Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia oleh pemimpin dan wakilnya sendiri ya Allah. Aamiin….
Salam : Nur Terbit
