Sosok

Haji Kuling, Pahlawan Keluarga Dengan Segudang Profesi

Written by nurterbit

Haji Kuling, 60 tahun, adalah potret manusia serba bisa. Bolehlah disebut sebagai “seniman” sekaligus “teknokrat”. Paling tidak di kampungnya sendiri di Laikang, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Sehari-hari Haji Kuling selain dipercaya warganya sebagai ketua RT, pengurus masjid, dia juga jago menyembelih (jagal) hewan qurban. Pemotongan dilakukan di halaman masjid.

Setiap tahun secara rutin ia bersama jamaah masjid lainnya, menyembeli hewan qurban yang dititip warga

Lebaran Idul Adha 1437 H kali ini, kembali dia kebanjiran banyak order menyembelih hewan qurban. Selain qurban para jamaah yang dikumpulkan di masjid, juga order dari luar jamaah secara perorangan. Salah satunya order yang datang dari keluarga kami.

HAJI KULING sebagai jagal (Nur Terbit)

HAJI KULING sebagai jagal (Nur Terbit)

Selain itu, Haji Kuling yang pendidikan formalnya hanya tamat PGA (Pendidikan Guru Agama — setingkat SMK) ini, bukannya jadi guru agama, eh ini malah buka bengkel dan merakit sendiri peralatan mesin petani. Peralatan mesin untuk pembajak sawah “made in Haji Kuling” ini, sudah banyak dinikmati para petani.

Sayangnya, sampai saat ini peralatan mesin buatan tangan Haji Kuling tersebut, belum sempat didaftarkan di bagian hak patent dan merk di Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia.

Daging qurban dari hewan sapi yang disembelih Haji Kuling, sudah dipilah-pilah untuk dibagikan ke fakir miskin (foto : Nur Terbit)

Daging qurban dari hewan sapi yang disembelih Haji Kuling, sudah dipilah-pilah untuk dibagikan ke fakir miskin (foto : Nur Terbit)

Memimpin Tim Paraga

Dia juga mengasuh anak-anak remaja di kampungnya dalam bidang seni dan olah raga. Salah satunya adalah menghimpun remaja kampung dan mengajarinya bermain raga (paraga), seni bermain sepak takraw dengan berbagai komposisi dalam bermain.

Baca Juga : Keunikan Permainan Sepak Raga Makassar

Bidang seni tradisional ini memang termasuk cukup populer di kalan MKgan masyarakat etnis Bugis-Makassar. Itu karena kesenian Paraga ini sering dipertontonkan di berbagai acara. Kelompok asuhan Haji Kuling ini sering diundang memberi hiburan saat warga menggelar prosesi adat perkawinan khas Bugis-Makassar.

HAJI KULING sedang menjalakan tugas sebagai jagal (Nur Terbit)

HAJI KULING sedang menjalakan tugas sebagai jagal (Nur Terbit) PO

Pada acara perkawinan Bugis-Makassar, Tim Paraga tersebut berfungsi juga sebagai hiburan dalam menyambut tamu atau calon pasangan pengantin, saat memasuki lokasi acara pesta. Meskipun terlihat hanya sebagai acara selingan selain pagelaran tari “selamat datang”, namun bagi Haji Kuling, permainan raga ini sekaligus upaya dirinya dalam melestarikan budaya dan penggalian kearifan lokal.

Haji Kuling juga terkadang ikut terjun langsung mengawal anak asuhannya ke lokasi acara. Hal itu dilakukan jika ada order tambahan dari tuan rumah, misalnya ia diminta jadi wakil tuan rumah keluarga pengantin pria, dalam menyambut calon pengantin wanita.

Kata sambutannya pun, bukan sambutan biasa tapi disampaikan dalam bentuk pantun berbahasa Makassar. Dengar saja suara Haji Kuling ini :

“Eh Daeng bunting, antama’ maki mae ri balla’na matoanta, matoang kasia-kasita”.

Artinya :

Wahai pengantin, masuklah ke mari di rumah mertuamu, mertua yang hidup prihatin…”

Bukan hanya tampil di kampung atau keliling menghibur masyarakat Kota Makassar yang memintanya menghibur tamu, tapi tim kesenian Paraga Haji Kuling ini juga sudah pernah diundang pentas ke luar negeri. Wow… luar biasa kan?

Logo Kudo Indonesia dok Kaskus

Logo Kudo Indonesia dok Kaskus

*Tulisan ini diikutkan lomba blog Kudo Indonesia bertema “Pahlawan Keluarga”.

Beginilah serunya jika Haji Kuling sedang menjalankan tugas sebagai tukang jagal hewan qurban, salah satu dari sekian profesinya..

5 Comments

Tinggalkan Balasan ke nurterbit X