Bersafari ke Batusangkar dan Bukittinggi

foto: ogisaputra14.blogspot.com

RANAH MINANG, Sumatera Barat, alamnya elok dan kaya dengan adat budaya. Pantainya yang menghadap ke Selat Mentawai sebagian besar cukup terjal walaupun banyak yang landai dan indah di beberapa teluk maupun tanjung.

Tetapi kali ini kita tidak akan pergi ke pantai, melainkan ke dataran tinggi sekitar Gunung Marapi sebagai destinasi.

Karena itu di kota Padang kita hanya transit sebentar setelah pesawat dari Jakarta mendarat di Bandar Udara (Internasional) Minangkabau. Tujuan utama adalah Kota Batusangkar di Kabubaten Tanah Datar.

Serombongan wisatawan Nusantara dari Jakarta Timur, Dina Pertiwi, mahasiswa Universitas Gunadarma, bersama tantenya Ny Syamtiar yang ditemani seorang putrinya Riri Mayasari dan dua cucunya Veza dan Andin, bersafari ke sana.

Kapan? Tepat pada pergantian tahun 2011/2012 selama sepekan. Inilah pengalamannya yang diceritakan ulang.

Mereka menuturkan, Batusangkar kota kecil di kaki Gunung Marapi, hawanya cukup sejuk. Dari Danau Singkarakpun tidak begitu jauh. Tentu saja pemandangannya aduhai, “ranca banna” dengan banyak bangunan rumah gadang maupun kantor resmi yang beratap gonjong, yaitu ujung ujungnya runcing menjulang tinggi. Nama kabupatennya Tanah Datar, tetapi jalannya berliku dan naik turun.

Dengan perjalanan darat dari kota Singkarak lewat tepi timur danau tersebut ke arah utara, lewat Padangpanjang, hanya satu sampai dua jam . Sementara bila menempuh jalan memutar ke selatan lewat Solok, Sawahlunto, Sijunjung dan Buo Lintau, sekitar satu jam lebih lama. Namun akan banyak pemandangan yang menakjubkan dan bangunan serta tempat bersejarah yang kita lewati sehingga menambah pengalaman nan tak terlupakan.

Kota Solok yang mengklaim sebagai pintu gerbang tanah Minangkabau. Ini benar bila kita datang dari arah kota Padang menuju Tanah Datar sebagai pusat kerajaan Pagaruyung.

Solok sejak dahulu dikenal sebagai lumbung padi Sumatra Barat. Tidak heran bila ada lagu “Barek Solok” yang didendangkan biduanita Elly Kasim dan sangat populer tahun 1960-an.

Hingga sekarangpun beras dari Solok dikenal bagus kualitasnya. Tak bedanya dengan beras Cianjur bagi orang-orang Jakarta dan Jawa Barat atau beras Delanggu bagi warga penduduk Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. (*)

By nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Toggle Dark Mode