Semangat Berorganisasi Perantau Sulsel di Bekasi

Semangat berorganisasi, berkumpul dalam satu paguyuban sesama perantau dari kampung asal yang sama, mungkin hal biasa terjadi di setiap daerah yang menjadi tujuan perantau di Indonesia. Itulah ciri khas masyarakat di wilayah Nusantara tercinta ini.

Demikian juga yang terjadi di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kaum urbanisasi (perantau) cukup “deras arusnya” mengingat Bekasi adalah salah satu daerah penyanggah Ibukota Jakarta.

Ini karena Bekasi adalah bagian dari wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), tempat para perantau dari daerah di luar Bekasi yang datang untuk menggantungkan nasib dan harapan hidupnya.

Demikian juga dengan perantau asal Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Salah satu pilihan daerah yang mereka tuju adalah Bekasi sebagai bagian dari Jabodetabek, daerah penyanggah Ibukota.

Seperti judul tulisan ini, “Semangat Berorganisasi Perantau Sulsel di Bekasi” –saking semangatnya berorganisasi tumbuh beberapa organisasi bagaimana cendawan di musim hujan.

Maaf. Ini sekedar bernostalgia saja tanpa bermaksud menuding siapa-siapa “biang kerok”-nya sampai harus ada beberapa kelompok atau organisasi perantau asal Sulawesi Selatan di perantauan, khususnya yang ada di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Ada Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dengan Perkumpulan Keluarga Bugis Makassar (PKBM), juga ada Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) dengan Komunitas Perempuan Perantau Sukawesi Selatan (KPPSS atau KPSS).

Terus terang, sebab seingat saya ya, ini seingat saya, maaf kalau saya keliru. Yang jelas di Kota Bekasi ini, organisasi perantau asal Sulsel yang saya lihat lebih duluan berdiri adalah PKBM, kemudian menyusul KKSS.

Mohon maaf lagi, banyak saudara kita yang lupa bahwa kalau di suku lain, Batak misalnya, populer dikenal dengan istilah BTL = Batak Tembak Langsung. Artinya mereka dari kampungnya di tanah Batak merantau langsung ke Jakarta, tidak melalui Kota Medan.

Nah begitu juga dengan kita perantau asal Sulsel. Ada juga yang B(M)TL = Bugis Makassar Tembak Langsung. Mereka di perantauan (di Bekasi misalnya) tidak melalui PKBM tapi langsung masuk KKSS.

Beda dengan saya, misalnya sebagai contoh. Saya masuk lebih dulu ke PKBM lalu ke KKSS. Ceritanya panjang.

Tapi inti ceritanya, pada HUT Kota Bekasi beberapa tahun silam, saya saat itu ikut meliput dan memuat beritanya di surat kabar di Harian Terbit, Pos Kota Grup.

Waktu itu, ada rombongan karnaval, pawai, melintas di depan panggung upacara dimana di situ ada wali kota (era Rahmat Effendi apa Muchtar Muhammad, saya sudah lupa).

Salah satu rombongan peserta karnaval memakai pakaian adat Bugis Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Laki-laki “Appasapu” (memakai penutup kepala dari kain berbentuk runcing menjulang di atas kepala) dan “Songko Ribiring” (kopiah khas Bugis Makassar khusus pria) lengkap dengan “Lipa Sabbe” (sarung sutera).

Sedang kaum wanitanya memakai “Baju Bodo” (baju pendek khas Bugis Makassar berwarna-warni dengan pernak-pernik berbentuk warna emas) berikut “Lipa Sabbe” (sarung sutera) yang sama dengan yang dipakai kaum pria.

Mereka juga membawa “pagandrang” (tukang gendang) dan “papui-pui” (peniup perkusi) dengan barisan bagian depan membawa spanduk bertuliskan “PERKUMPULAN KELUARGA BUGIS MAKASSAR (PKBM)”.

Saya kemudian mengambil foto dan video dari rombongan pawai berspanduk PKBM ini. Salah satu diantaranya saya tanya, dimana sekretariat PKBM ini? Saya bilang. Saya tertarik utk bergabung. Lalu saya diberi alamat dan nomor HP pengurusnya.

Minggu berikutnya, ada acara PKBM di salah satu rumah pengurusnya di Bekasi Utara, rumah pasangan suami istri Pak Sjahrir (anggota polisi) – Ibu Mala Borahima (pegawai PDAM Kota Bekasi) saya hadir karena diundang.

Yang saya ingat, pengurus PKBM ketika itu Pak Syahrelayali (Pak Ral) dan Pak Abdul Muin Hafid (Bang Muin). Keduanya hadir di pertemuan tersebut. Sejak itulah saya “resmi” bergabung dan jadi anggota PKBM Kota Bekasi.

Entah bagaimana ceritanya, pada pertemuan berikutnya ketika saya hadir kembali ke acara PKBM, tapi sudah berganti menjadi KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan). Saya ikut lagi jadi anggota KKSS.

Waktu deklarasi KKSS ini bertempat di salah satu aula di sekolah Alexandria, milik Pak Idris Laena di kawasan pemukiman arah Perumahan Narogong- Perumnas Rawalumbu.

Pada acara deklarasi itu pula, kemudian secara aklamasi Pak Idris Laena dipilih menjadi Ketua BPD KKSS Kota Bekasi. Saya diminta duduk sebagai Koordinator Humas.

Dalam perjalanan organisasi KKSS Kota Bekasi di bawah kepengurusan Idris Laena, entah mendadak anggota Fraksi Golkar di DPR-MPR ini mengundurkan diri?

Informasi yang berkembang ketika itu, Idris Laena mengundurkan diri dari jabatan sebagai Ketua KKSS Kota Bekasi karena faktor kesibukannya di legislatif yang tidak bisa ditinggalkan.

Pengunduran diri Idris Laena, kemudian digelar rapat lengkap pengurus menyusun formatur yang akan memilih ketua pengganti dari ketua yang mundur. Ketua formatur ditunjuk Haeri Parani, anggota DPRD Kota Bekasi dari Partai Demokrat.

Selanjutnya, terpilih (almarhum) Abidin Beddu sebagai pengganti antar waktu sebagai ketua KKSS Kota Bekasi meneruskan periode masa jabatan Idris Laena. Namun ajal keburu menjemput. Baru menjalankan roda organisasi, Abidin Beddu meninggal di Madinah saat menjalani ibadah umroh.

Sebagai pelaksana tugas (PLT) ditunjuklah Abdul Muin Hafid sebagai ketua KKSS Kota Bekasi menggantikan almarhum Abidin Beddu masa periode berakhir. Artinya sampai ke Musyawarah Daerah (Musda) digelar memilih kembali ketua secara resmi.

Pada Musda KKSS Kota Bekasi, ada 2 (dua) calon ketua yang maju dan mendaftarkan diri. Yakni Abdul Muin Hafid sebagai petahana, lalu “bertarung” melawan calon ketua saingannya: Widyawati. Sayangnya suara peserta Musda lebih banyak yang ke Abdul Muin Hafid.

Sekarang (periode 2925-2030) ketika sudah ada di dalam KKSS — dari era Ketua Idris Laena, Abidin Beddu, Abdul Muin Hafid — eh PKBM yang dulu saya jadi anggotanya, malah “bubar” dan tidak ada kegiatannya lagi. Sekarang PKBM muncul lagi. Setidaknya seperti yang dishare informasinya oleh Pak Ramli ke grup WA BPD KKSS Kota Bekasi. Bahkan sudah langsung akan menggelar acara PENGUKUHAN PENGURUS. Lah pengurus lamanya kemana? Lalu siapa yang hidupkan dan pelopori sampai “anak hilang” PKBM ini “hidup” lagi?Satu lagi. Acara PENGUKUHAN PENGURUS PKBM, entah secara kebetulan atau disengaja, koq bisa berbarengan waktu dan tanggalnya dengan PRA-RAKER KKSS. Ini ada apa ini?Maaf, saya bertanya dengan nada santun sebagai anggota PKBM yang belum pernah keluar. Barangkali ada pengurus PKBM maupun KKSS yang bisa menjawab? *#nurterbit*😀🤣🥱🙏

By nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Toggle Dark Mode