Guru Mengendus, Murid Korban MBG

Berita mengejutkan dan menghebohkan masyarakat terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG), terus bermunculan. Baik dari pemberitaan media meanstream (resmi), media online, maupun dari netizen jurnalis alias pewarta warga (netizen).

Kabar terbaru datang dari salah satu Provinsi di Sulawesi Selatan (Sulsel). Beberapa orang guru mengeluhkan rasa gatal di mulut setelah mencicipi MBG.

Diberitakan bahwa MBG yang dikirim ke Unit Pelaksana Teknis Sekolah Dasar (UPT SD) Negeri 58 Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, terpaksa batal dibagikan kepada siswa.

Pasalnya, sejumlah guru yang lebih dulu “mengendus” (mencium aroma makanan) lalu mencicipi makanan tersebut, mengeluhkan ada rasa gatal di mulut mereka. Ada apakah gerangan?

Belakangan, begitu yang diberitakan media, hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar menunjukkan salah satu sampel makanan mengandung boraks.

“Maaf, boraks itu kalau tidak salah bahan pengawet ikan, makanan bahkan sering dipakai untuk pengawet mayat,” kata seorang guru yang menolak disebutkan namanya.

BORAKS ZAT KIMIA BERBAHAYA

Penasaran apa itu sebenarnya kegunaan dan bahayanya dari boraks, saya terpaksa mencari literatur dan bahan bacaan terkait bahan berbahaya tersebut.

Boraks disebutkan adalah zat kimia berbahaya berbentuk serbuk putih yang terdiri dari campuran natrium, boron, dan oksigen. Zat ini dikenal juga sebagai natrium tetraborat dan bleng. 

Adapun kegunaan asli Boraks, antara lain adan untuk bahan pembersih rumah tangga dan deterjen, pengawet kayu dan antiseptik, pembasmi serangga atau insektisida, juga berguna untuk bahan pembuat kaca, keramik, dan enamel.

Karena itu, penyalahgunaan Boraks pada makanan dilarang keras sebagai bahan tambahan pangan. Namun, zat ini sering disalahgunakan pada makanan seperti: 

Campuran untuk bakso, mi, lontong, dan kerupuk, membuat tekstur makanan menjadi sangat kenyal, renyah, atau padat. Juga membuat makanan tidak cepat basi atau tahan lebih lama.

Disebutkan pula adanya ciri-ciri makanan yang menggunakan campuran Boraks. Misalnya tekstur makanan terlalu kenyal, membal, atau tidak mudah putus.

Tidak mudah basi meskipun disimpan berhari-hari pada suhu ruang, juga memiliki rasa agak getir atau pahit di lidah.

Disamping adanya kegunaan penggunaan Boraks, juga ada bahayanya bagi kesehatan. Antara lain ;

Menyebabkan gangguan pencernaan (mual, muntah, diare), merusak organ vital secara perlahan, terutama ginjal dan hati, bersifat karsinogenik yang dapat memicu risiko kanker dalam jangka panjang.

SENSASI GATAL DI MULUT 

Seperti disebutkan di awal tulisan ini, bahwa beberapa orang guru di kabupaten Takalar mengalami sensasi gatal di mulut usai mencuci makanan MBG.

Peristiwa itu terjadi pada Senin 21 September 2026. Sebelum makanan dibagikan kepada siswa penerima manfaat, pihak sekolah melakukan pengecekan dengan mencicipi menu yang dikirim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa.

Kepala UPT SD Negeri 58 Lengkese, Supriadi, mengatakan empat guru yang mencicipi makanan mengalami sensasi gatal di mulut. Mereka juga menilai rasa makanan yang disajikan berbeda dari biasanya.

“Kami coba makanannya bersama teman-teman guru sebelum dibagikan. Setelah dicicipi, ada empat guru yang mengalami gatal di mulut dan rasanya juga berbeda,” ujar Supriadi.

Khawatir terjadi sesuatu pada siswa, pihak sekolah memutuskan tidak membagikan makanan tersebut.

Sebanyak 86 siswa penerima manfaat MBG di sekolah itu akhirnya tidak mengonsumsi menu yang telah dikirim.

BGN BANTAH LIBATKAN GURU

Makin aneh-aneh saja ini pernyataan sejumlah kalangan terkait Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang katanya program andalan Presiden Prabowo Subianto itu. Kali ini datang dari “Boss” MBG, Sudaryono.

Sudaryono sebagai kepala Badan Gizi Nasional (BGN), menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada hak, mandat dan kewenangan untuk mengatur guru dan sekolah soal MBG. 

Hal ini katanya, sesuai Keputusan Kepala BGN RI No.401.1 tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026.

Juga ada Surat Edaran Nomor 5 tahun 2025 tentang Pemberian Insentif Bagi Guru Penanggung Jawab Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah Penerima Manfaat.

“Kedua peraturan tersebut menciptakan sendiri pengertian tanggung jawab guru”. 

Guru itu kewenangannya ada di pemerintah daerah dan kalau ditarik ke pusat pun, ada di bawah Kemendikdasmen bukan BGN. Demikian dikutip dari Grup Facebook (FB) Info Guru, Minggu 20 September 2026.

Sementara ada video beredar memperlihatkan aksi seorang guru yang memvidieokan dirinya mencium makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Video tersebut viral di media sosial. 

Aksi tersebut muncul di tengah arahan Badan Gizi Nasional (BGN) agar pihak sekolah memeriksa kondisi makanan sebelum dikonsumsi siswa.

Kepala BGN Sudaryono sendiri pada 15 September 2026 meluruskan soal peran guru. la mengatakan guru bukan diminta khusus untuk mencicipi makanan sebagai pemeriksa keamanan, tetapi ikut makan bersama siswa. 

Sebelum dimakan, makanan tetap perlu dicek, termasuk dari bau, kemungkinan basi, label pada wadah, serta batas waktu konsumsi. Info ini dikutip dari FB Surya Effendi, yang diunggah Rabu 23 September 2026.

RAPOR MERAH MBG 2026

Belum genap sebulan, laporan siswa mengalami mual, muntah, sakit perut hingga harus mendapat penanganan medis kembali bermunculan di sejumlah daerah. 

Kasus demi kasus membuat keamanan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan.

Ini bukan sekadar angka. Di balik setiap kasus ada siswa yang harus menanggung dampaknya. Seberapa serius evaluasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG selama ini?

“Seluruh berita dugaan keracunan MBG kami rangkum di kolom komentar dan akan terus kami update,” tulis status di FB Info Guru 9 September 2026 dengan hastag #MBG #KeracunanMBG #MakanBergiziGratis #RaporMerahMBG #September2026

PETAKA MAKAN MBG DI BATANG

Masih soal program MBG. Dikabarkan anak dan bahkan wali murid “tumbang berjamaah” usai mencicipi makanan bergizi gratis tersebut. Rumah Sakit (RS) setempat sampai kewalahan  “membanjir”-nya jumlah pasien.

Niat hati mendapat asupan sehat, ratusan nyawa justru terancam. Itulah yang terjadi di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, berujung tragedi pilu pada Rabu 23 September 2026.

Bayangkan betapa paniknya para orang tua. Balita, anak Taman Kanak-kanak/Pendidikan Anak Usia Dini (TK/PAUD), siswa Sekolah Dasar (SD), hingga wali murid mendadak mual, pusing, dan lemas berjamaah setelah menyantap menu yang dibagikan. 

Fakta yang mengejutkan dan ditemukan di lapangan: jumlah korban terus bertambah. Wakil Bupati Batang mencatat ada 287korban. Lonjakan pasien ini bikin antrean di Puskesmas Bawang membludak tak terkendali.

Akibat rujukan secara darurat ini, menyebabkan kondisi semakin memburuk. Banyak di antara pasien yang terpaksa dilarikan secara darurat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Limpung, RSUD Batang, hingga RS Qim untuk perawatan intensif.

Sementara itu sekolah yang terdampak antara lain SDN 3 Bawang, SD Pasusukan, TK PAUD Al Ikhlas, TK PAUD Harapan Bunda, dan TK Pertiwi.

Dugaan sementara sebagai sorotan utama,  mengarah pada menu olahan telur dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Bawang.

Diberitakan, keluhan sebenarnya sudah mulai dirasakan warga sejak Selasa 22 September 2026 malam, namun gelombang tumbangnya para korban mencapai puncaknya pada Rabu esok harinya.

Sampai tulisan ini dibuat, kepastian pemicu keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium resmi. Namun kejadian ini jelas menjadi ALARM KERAS bagi pelaksanaan program MBG di seluruh wilayah.

Keselamatan dan higienitas dapur harus jadi harga mati, bukan sekadar bagi-bagi makanan.

Karena itu diharapkan pihak terkait lebih melek dan evaluasi total pengawasan di lapangan. Jaga anak-anak kita! Informasi ini sudah tersebar di media sosial sejak Kamis 24 September 2026.

Dengan hastag atau pagar #MakanBergiziGratis #KeracunanMassal #BeritaBatang #InfoPendidikan #KabarViral #DaruratPendidikan #JawaTengah #InfoSekolah

Demikian cerita saya di blog pribadi https://www.nurterbit.com kali ini. Semoga dapat menjadi pertimbangan bagi Presiden Prabowo Subianto demi perbaikan MBG ke depan dan mengurangi korban dugaan keracunan.

KOMENTAR GURU DAN RESPON WALI MURID

“Kita Mau Mengajar, Bukan Jadi Anjing Pelacak!” Guru Viral Protes Disuruh Cium Makanan MBG Setiap Hari. 

GEMPAR! Dunia pendidikan tanah air dibikin geger oleh sebuah video yang mendadak meledak di media sosial.

Bayangin, terekam kamera nggak main-main, seorang guru harus mencium, ya bener-bener mengendus, kotak makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum dibagikan ke siswa! Ada apa ini?

Ternyata, aksi nyeleneh ini adalah bentuk luapan kekecewaan sang guru usai menjalankan arahan langsung dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono. 

Instruksinya: guru wajib mengecek aroma makanan biar dipastikan aman. Jelas, sang guru murka dan nggak terima diperlakukan layaknya hewan detektor.

“Guru sekarang berubah fungsi jadi anjing pelacak! Kan kita mau mengajar, bukan jadi tukang ngendus makanan MBG kayak gini,” teriaknya dalam rekaman yang langsung disebarluaskan netizen. Waduh, ini parah banget sih!

Sontak, bom kritik langsung meledak dari netizen budiman. Video ini panen kecaman! Komentar pedas bermunculan mempertanyakan quality control program MBG.

“Emangnya Tenaga Ahli Gizi di dapur penyedia lagi tidur? Kok guru yang harus ambil alih tugas mereka?” tulis salah satu akun.

Netizen ramai-ramai membela sang guru, menegaskan kalau beban kerja pendidik sudah di luar batas tanpa harus ditambah tugas aneh yang merendahkan ini.

Publik dibuat bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab penuh atas keamanan makanan ini?

Demikian cerita saya di blog pribadi https://www.nurterbit.com kali ini. Semoga dapat menjadi pertimbangan bagi Presiden Prabowo Subianto demi perbaikan MBG ke depan dan mengurangi korban dugaan keracunan.

Salam : Nur Terbit 

* Tulisan blog ke-40 edisi Minggu 27 September 2026, untuk diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan RI, digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com

By nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Toggle Dark Mode