Blog Post

Catatan Perjalanan Umrah Era Soeharto (5)

Catatan Perjalanan Umrah Era Soeharto (5)

* Paspor Hilang Rombongan umrah Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang sekretariatnya bermarkas di lantai dasar Masjid Istiqlal Jakarta, sempat juga direpotkan soal proses dokumen perjalanan ini, khususnya masalah paspor di mana saya ikut sebagai anggota rombongan umrah DMI. Menjelang berangkat, entah penyebabnya apa, sehingga paspor saya "tercecer" di Kedubes Saudi Arabia saat pengurusan visa. Begitu juga waktu akan kembali ke tanah air. Di Jeddah, saat akan meninggalkan hotel, Muhammad Johannes Eko Gigi, salah seorang  jamaah umrah asal Flores, bingung mencari paspornya karena terselip ditumpukan pakaiannya dalam koper. Paspor, memang ibarat "nyawa" bagi jamaah. Kalau tercecernya masih di Indonesia, belum seberapa,…
Read More
Catatan Perjalanan Umrah Era Soeharto (4)

Catatan Perjalanan Umrah Era Soeharto (4)

*PASPOR HILANG SELEMBAR kertas putih dari Imigrasi – ukurannya sedikit lebih lebar dari dua halaman paspor – disodorkan petugas Garuda saat chek in di Bandara Internasional Soekarno – Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten. Proses ini dilakukan sebelum mengambil boarding pass dan lebel penimbangan barang untuk ditempatkan di bagasi pesawat. Tugas pengisian formulir keluar negeri ini (form exit), sebenarnya menjadi tanggungjawawb setiap orang yang akan bepergian ke luar negeri, termasuk mereka yang akan melaksanakan ibadah umrah. Soalnya, yang bersangkutan harus membubuhkan tanda tangannya. Namun nampaknya, semua urusan sepanjag masih bisa “diatur”, seringkali diambil-alih oleh petugas biro perjalanan untuk memudahkan calon jamaahnya. Karena…
Read More
Catatan Perjalanan Umrah Era Soeharto (3)

Catatan Perjalanan Umrah Era Soeharto (3)

*DOUBLE SEAT INI MASIH cerita soal penerbangan yang tidak tepat waktu. Dalam penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Saudi Arabia siang itu, seorang tenaga kerja wanita (TKW) di samping saya bercerita kalau ia bahkan sudah tiga hari bolak-balik ke bandara. Setiap kali mau berangkat – dan, tentu saja sudah bersalaman dan berangkulan dengan keluarga yang mengantarnya segala – ujung-ujungnya tak berangkat juga. Memang bukan karena jadwal penerbangan mundur, tapi pesawat yang akan ditumpangi selalu penuh terus. “Majikan saya di Jeddah pasti sudah cemas, khawatir saya tidak balik lagi ke Arab,” kata…
Read More
Toggle Dark Mode