nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".
346 Posts
Dari POS SORE, HARIAN TERBIT, lalu Tenggelam

Dari POS SORE, HARIAN TERBIT, lalu Tenggelam

TERBIT pertama kali Juli 1972 dengan nama POS SORE. Koran sore yang didirikan oleh H. Harmoko -- mantan Menteri Penerangan, mantan Ketua DPR, mantan Ketua Umum Golkar ini -- masih satu grup dengan POS KOTA, koran kriminal pertama yang terbit di era rezim Soeharto. Setelah sempat dibredel bersama sejumlah koran nasional lainnya di zaman Orde Baru, harian POS SORE kemudian berganti nama menjadi HARIAN TERBIT. Selama beredar sudah 4 kali berganti pemimpin redaksi. Dimulai dari Abiyasa, HRS Hadikamdjaya, Bagus Sudharmanto dan terakhir Tarman Azzam. Selama beredar mengunjungi pembacanya, koran harian POS SORE pernah mencatat tiras terbanyak yang dicetak lebih dari…
Read More
‘Maudu Baku’, Maulid Gaya Makassar

‘Maudu Baku’, Maulid Gaya Makassar

Tradisi di kampung saya, Sudiang, Biringkanaya, Makassar, ada “Maudu Baku” atau “Maudu Bayao” setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. “Maudu” adalah bahasa Makassar, diambil dari kata “Maulid”. Sedang “Baku” adalah “Bakul” yang terbuat dari daun lontar. Belakangan, fungsi baku sudah digantikan oleh ember plastik (embere, penyebutan dari lidah orang Makassar). Jadi sudah tidak tepat lagi bila disebut “maudu baku”, tapi “maudu embere”. Isi baku atau ember tadi, terdiri dari berbagai macam makanan dan lauk-pauk. Antara lain kaddo’ minynya atau ketan kuning, ikan bandeng parape, ayam goreng, sambal goreng, nasi setengah mateng (pamatara), mie goreng, juku kambu (ikan sudah dibumbui), juku…
Read More
‘Ngumpul Ora Ngumpul Ya Tetap Mangan’ Kalau di Makassar

‘Ngumpul Ora Ngumpul Ya Tetap Mangan’ Kalau di Makassar

Semboyan itu serta-merta langsung gugur, atau tidak berlaku sama sekali, saat berlibur ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Padahal selama lebih dari 30 tahun merantau ke Pulau Jawa, semboyan “mangan ora mangan, sing penting ngumpul” — makan tidak makan, yang penting ngumpul — sudah akrab betul di telinga saya. Bahkan terbukti dari fakta sehari-hari memang begitu. Semboyan itu gugur. Di “Kota Daeng” yang dulu bernama “Ujung Pandang” dan selalu bertiup “Anging Mammiri” ini, ternyata “ngumpul ora ngumpul, sing penting mangan” — ngumpul atau tidak ngumpul, yang penting makan dulu. Soal nanti pada akhirnya tetap ngumpul, itu urusan belakang, hehe… Satu lagi,…
Read More
Toggle Dark Mode