Darul Mukhlisin, Pesantren Yang Dibangun Oleh Seorang Notaris

KEREN! PONPES MODERN DARUL MUKHLISIN Bandung, Santrinya Berprestasi, Alumninya Diterima Kuliah di Kampus Luar Negeri. Tidak Disangka, Pesantren Ini Dibangun oleh Seorang Notaris.

Tidak banyak santri maupun alumni Pondok Pesantren (Ponpes) di Indonesia, yang berprestasi di dalam dan di luar negeri.

Di antara yang tidak banyak itu, salah satunya adalah Pondok Pesantren Modern Darul Mukhlisin, di Bandung Barat, Jawa Barat.

Pondok Pesantren Modern Darul Mukhlisin ini, dibangun oleh Haji Muchlis Patahna, SH, MKn, seorang notaris yang juga mantan Ketua Umum BPP KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan), organisasi para perantau asal Sulsel.

Sejak tahun 2015 sudah menerima santri. Dua tahun kemudian (2022) sudah ada alumninya. Awalnya hanya buka kelas TPA (Taman Pendidikan Alquran). Di TPA ini ditempatkan dua ustad (guru).

Sampai saat ini sudah ada 16 orang alumni Pesantren Modern Gontor Ponorogo yang mengajar di Pesantren Darul Mukhlisin ini. Mereka rata-rata sarjana S1.

Setahun setelah berdiri (2016), pesantren Darul Mukhlisin sudah mulai ramai, kemudian dibangun lagi dua asrama putra dan putri. Akhirnya diformalkan menjadi pondok pesantren. 

Ternyata “membludak” murid atau santrinyanya. Yang diterima murid Tsanawiyah dan Aliyah, setingkat SMP-SMA, layaknya KMI di Pesantren Gontor yang ijazahnya sudah diakui di univeristas.

Pondok Pesantren Modern Darul Mukhlisin yang dibangun di Bandung Barat, Jawa Barat ini berdiri di atas lahan seluas 10 hektar. 

Sarana asrama ada 4 blok, guest house 1 blok, kantin, koprasi, klinik, rumah makan, ruang kelas belajar 3 tingkat. Sekarang sudah dilengkapi rumah guru/ustrad dan balai penerimaan tamu.

Kenapa pondok pesantren modern ini diberi nama Darul Mukhlisin? 

“Itu pemberian nama dari KH Syarifuddin Arif. Darul Mukhlisin itu artinya tempatnya orang-orang yang ikhlas. Kalau mirip dengan nama saya Muchlis Patahna, itu kebetulan saja,” katanya sambil tertawa.

Adapun target mendirikan lembaga pendidikan dalam bentuk pesantren ini, kata Muchlis Patahna, sudah menjadi cita-citanya untuk mencari ridho Allah.

“Ya semacam investasi di bidang pendidikan, sumber daya manusia, berdakwah. Itu saja. Bagaimana menciptakan kader,” kata Muchlis, yang anak-anaknya juga alumni Pesantren Modern Gontor.

Soal prestasi, nah ini yang juga jadi andalan Pondok Pesantren Darul Muchlisin. Dalam bidang olah raga misalnya, santrinya berhasil meraih medali pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Tanding Tapak Suci se Jawa Barat 2023.

Antara lain, peraih medali emas untuk santri: Fajar, Fairus, Wildan, Yoga Setiawan. Medali perak diraih Rajwa, Cika dan Amanda meraih mendali perunggu.

“Allhamdulillah semoga ini menjadi motivasi dan evaluasi buat ke depannya,” kata Muchlis Patahna.

Sementara itu, untuk prestasi lain di luar bidang olah raga, alumni Pesantren Darul Muchlisin ini juga diterima kuliah di luar negeri.

Antara lain, kata Muchlis Patahna, tahun 2023 ada 3 (tiga) alumninya berhasil lulus ujian seleksi di Universitas Al Azhar Cairo, Mesir, dan 2 (dua) santri masuk PTIQ, 1 (satu) kuliah ke Jerman.

MUCHLIS PATAHNA SANG NOTARIS

Setelah gagal jadi santri, ini alasan Muchlis Patahna kenapa harus mendirikan sendiri pesantren. Kini impiannya sudah terwujud. Mendirikan sendiri pesantren setelah dirinya gagal jadi seorang santri. 

Ia pun memilih Gontor sebagai kiblat acuannya. Maka berdirilah Pondok Pesantren Modern Darul Muchlisin yang dia dirikan.

Itulah awal pertama hingga dirinya terinspirasi bangun pesantren.

“Kalau bikin pesantren memang obsesi saya sejak kecil. Saya mau masuk pesantren tapi tidak bisa. Lalu saya berniat dalam hati, saya akan bangun pesantren pada saatnya,” kata Muchlis Patahna, sehari-sehari bekerja sebagai notaris di Jakarta.

Kepada saya Muchlis mengaku kalau dirinya membangun pondok pesantren karena terinspirasi dari Pesantren Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

“Saya terinspirasi dengan Pesantren Gontor karena menurut saya, itulah pesantren yang paling banyak diminati orang karena punya karakter, punya bahasa, bergaul sangat elegant. Sangat moderenlah,” kata Muchlis.

“Terbukti, anak akan mandiri kalau tamat dari situ. Jadi apa yang ada di Gontor, benar-benar saya copy paste,” katanya.

Muchlis sudah membuktikan kalau Pesantren Gontor sangat modern. Kebetulan empat anaknya, semua masuk Pesantren Gontor. Awalnya mereka ogah juga masuk Gontor, anak merasa dirinya dibuang.

“Tapi sebagai bapak, saya yakinkan. Kalau masuk pesantren, nanti mau kuliah di mana pun, silahkan milih. Istri saya Diana M Patahna juga support penuh putra-putrinya masuk Gontor,” katanya.

Teks : Muchlis Patahna bersama istri (dok Ist)

Hasilnya kemudian terbukti. Anak pertama memilih kuliah di Rusia. Jadi dia mandiri. Anak kedua kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar. Sekarang melanjutkan ke Universitas Indonesia mengambil S2 program notariat.

“Katanya mau mengikuti jejak ayahnya yang notaris hehe..…Anak ketiga kuliah di International Islamic University Islamabad, sudah semester V. Anak ketiga ini yang mungkin bisa melanjutkan mengelola pondok pesantren. Anak keempat, lagi kuliah di Perth”.

Melihat anaknya semua mandiri setelah lulus dari Pesantren Gontor, ditambah dengan pengalaman hidupnya yang gagal jadi santri, Muchlis kemudian memutuskan sejak mendirikan pondok pesantren dari tanah yang dia beli dari seorang temannya.

“Karena saya melihat di Gontor itu, bukan sekedar tahu agama. Tapi dia berbuat. Alumni Gontor menjadi leader di lingkungannya. Apa pun dia. Membuat pesantren lagi,” kata Muchlis, yang juga Ketua Makassar Golf Club Jakarta (MGCJ).

Demikian kisah perjalanan seorang Notaris yang membangun pondok pesantren sendiri setelah merasa gagal jadi santri. Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua. Amiin..terima kasih.

Salam : Nur Terbit.

* Tulisan blog ke-45 edisi Kamis 1 Oktober 2026, untuk diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan RI, digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com

Video suasana Mubes KKSS saat Muchlis Patahna Terpilih Jadi Ketua Umum BPP KKSS di Solo (sumber video : channel Youtube @NURTERBIT) 👇

By nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Toggle Dark Mode