Sosok

Daeng Sanre, Wajah Sendu Petani Maros

DAENG SANRE (foto Nur Terbit)
DAENG SANRE (foto Nur Terbit)
Written by nurterbit

Meskipun baru pertama kali bertemu, tapi langsung bisa akrab dengan pria sepuh ini.

“Bang Nur gitu loh, ngobrol dengan siapa aja nyambung,” sindir istri saya Bunda Sitti Rabiah, melihat kami sudah akrab dan saling berbagi cerita yang sarat dengan informasi masa lalu. Cieeh…

Namanya Daeng Sanre, umur 70 tahun. Senin sore (05/09/2016) kemarin dia tiba-tiba masuk ke pekarangan rumah keluarga besar kami di Laikang, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, tak jauh dari tembok pagar Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Jalannya tegap dan tegak, meski ada beban muatan karung beras di pundaknya.

“Ini isinya beras 22 liter, Karaeng..,” katanya.

Daeng Sanre lalu meletakkan karung itu di samping saya. Dia mengaku beras karungan tadi untuk sumbangan kepada keluarga kami. “Sudah biasa di sini tradisi kita di Mangkasara kalau ada tetangga yang anaknya kawinG, kita menyumbang apa yang ada. Ada kita punya beras ya beras kita sumbangkan”, kata Daeng Sanre.

Kami pun lalu ngobrol berdua di teras rumah. Beras tersebut, kata Daeng Sanre, adalah sebagian kecil dari hasil panen sawah yang diurusnya secara turun-temurun. Hasil menggarap sawah itulah jadi sandaran hidup bersama keluarganya. Daeng Sanre, diam-diam telah menjadi Pahlawan Keluarga bagi istri, dan anak–anaknya.

“Ini mi Karaeng hasilna ‘Lambere’, Karaeng.

Sekarang kita petani sudah prihatin, panen cuma sekali setahun sejak persawahan sudah berganti bandara baru,” katanya.

Menurut Daeng Sanre, setiap tahun petani sudah tidak bisa lagi mengumpulkan hasil panen seperti biasanya. Sawah sudah tidak produktif lagi. Bahkan banyak sawah yang sudah seperti tidak bertuan. Petani sudah malas menggarapnya akibat tidak punya aliran air untuk mengairi sawah.

Daeng Sanre (foto Nur Terbit)

Daeng Sanre (foto Nur Terbit)

BANDARA BARU SULTAN HASANUDDIN

“Ini mi Karaeng hasilna ‘Lambere’, sawahta yang ada di dekat lapangan kappalaka (bandara, red) Karaeng”.

Lapangan Kappala atau Bandara baru dan Lambere? Dua suku kata ini tiba-tiba mengusik ingatanku.

Lambere, adalah nama salah satu bidang sawah milik keluarga. Kebiasaan masyarakat etnis Makassar, memberi nama “unik” untuk setiap bidang sawahnya. Salah satunya, ya “Lambere” itu. Ada juga “Ka’ne-ka’ne”, “Pondasing” atau “Manrumpa“, empat nama sawah kakek-nenek yang sering saya dengar.

Salah satu sawah milik leluhur kami itulah yang digarap oleh Daeng Sanre secara turun-temurun. Sementara sekitar 2 hektar dari 7 hektar sawah milik kakek, selama ini dibebaskan karena terkena proyek perluasan bandara baru. Hasil panen dari sawah tersebut kemudian dibagi dua dengan petani penggarap setiap tahun. Bagi hasil, begitulah kira-kira…

Sebelum jadi Bandara (baru) Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, adalah hamparan persawahan (foto : Nur Terbirt)

Sebelum jadi Bandara (baru) Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, adalah hamparan persawahan (foto : Nur Terbirt)

Sedang kata “bandara” atau dalam bahasa Makassar disebut “Lapangan Kappala”, sangat erat berhubungan dengan sejarah kejadian dan proses pembangunan bandara baru.

Juga penghilangan areal persawahan, sekaligus “membongsai” fungsi dan peran sawah sebagai lumbung padi dan sumber kehidupan masyarakat setempat.

Sejak berdiri bandara, praktis areal persawahan warga terkurung landasan.

Saluran air untuk mengairi sawah petani, praktis “tersumbat”. Kering dan tidak berfungsi lagi.

Semua areal persawahan itu sekarang hilang meski masih berbekas, berganti bandara dan “run away” atau landasan pacu untuk “take off” dan “landing” pesawat terbang.

SEJARAH BERDIRINYA BANDARA

Berdasarkan sejarahnya, bandara ini memang dibangun di wilayah Kabupaten Maros. Sehingga nama Maros ikut melekat di belakang nama bandra setelah nama Makassar. Tahun 1935, Pemerintah Hindia Belanda membangun konstruksi landasan pacu rumput berukuran 1.600 x 45 meter (Runway 08-26). Lapangan terbang ini diresmikan pada 27 September 1937 dan diberi nama Lapangan Terbang Kadieng (Kadieng adalah nama salah satu daerah di Batangase, Maros).

Tahun 1942, pemerintah pendudukan Jepang, nama Lapangan Terbang Kadieng diubah menjadi Lapangan Terbang Mandai (Mandai adalah nama salah satu kecamatan di Maros). Landasan lapangan ditingkatkan menjadi konstruksi beton berukuran 1.600 x 45 meter.

Tahun 1945, landasan baru dengan konstruksi onderlaag (Runway 13-31) berukuran 1745 x 45 meter dibangun dengan mengerahkan 4000 orang ex-tentara Romusha oleh pemerintah Sekutu (Hindia Belanda).

Tahun 1950, lapangan terbang ini diserahkan kepada Pemerintah Indonesia yang kemudian dikelola oleh Jawatan Pekerjaan Umum Seksi Lapangan Terbang, selanjutnya tahun 1955 dialihkan kepada Jawaban Penerbangan Sipil (sekarang Direktorat Jenderal Perhubungan Udara) yang kemudian memperpanjang landasan pacu menjadi 2.345 x 45 meter sekaligus mengubah nama Lapangan Terbang Mandai menjadi Pelabuhan Udara Mandai.

Tahun 1980, Runway 13-31 diperpanjang menjadi 2.500 x 45 meter dan nama Pelabuhan Udara Mandai diubah menjadi Pelabuhan Udara Hasanuddin.

Tahun 2004, dilakukan perluasan dan pengembangan bandara dan diresmikan tahun 2008 dengan nama Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Penggunaan kata Sultan di depan nama Hasanuddin dimaksudkan agar nama Hasanuddin yang digunakan jelas mengarah ke sosok pahlawan nasional Sultan Hasanuddin.

Dengan adanya tugu batas wilayah ini, tentu tak salah jika nama Maros juga ikut disebut dengan menuliskan; Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros. Ini sama dengan letak Bandara Juanda Surabaya. Kata Surabaya dipakai meski lokasinya berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Untuk amannya dan netral, penyebutannya menjadi : Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo.

Atraksi pesawat tempur Shukoi di langit Makassar. Terbang dan mendarat di Lanud Hasanuddin Mandai Makassar di Maros (foto dok pribadi)

Atraksi pesawat tempur Shukoi di langit Makassar. Terbang dan mendarat di Lanud Hasanuddin Mandai Makassar di Maros (foto dok pribadi)

BERGESERNYA TRADISI LOKAL

Suasana rumah masih sepi. Deru mesin pesawat dari ujung landasan pacu bandara terdengar dari kejsuhan, seolah menemani obrolan kami sore itu. Hanya ada istri saya yang muncul dari dapur membawa dua gelas kopi dan teh manis, lengkap dengan penganan pisang goreng. Tradisi lama. Jamuan standar untuk tamu “tawu ri kale” atau “orang di badan” — sebutan bagi tamu anggota keluarga dan kerabat dekat.

Kopi Toraja, teh manis dan pisang goreng dari suguhan istri tadi, membuat pembicaraan kami — “dua solmet” berbeda generasi ini — melintasi banyak ruang dan loncatan sejumlah peristiwa masa lalu. Salah satunya ya curhat petani ini yang diwakili Daeng Sanre.

Tradisi lokal pelan-pelan mulai tergeser oleh budaya baru. Pola hidup masyarakat terutama yang berada di akar rumput menjadi kehilangan bentuk, juga tentu saja kearifan lokal ikut terancam.

Peralatan pertanian tradisional digantikan traktor

Bandara (baru) Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan (foto : Nur Terbirt)

Bandara (baru) Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan (foto : Nur Terbirt)

Petani juga pelan-pelan tapi pasti, harus mengikuti kemauan jaman. Peralatan pertanian tradisional bukan lagi kerbau yang dipakai membajak sawah — meski sebenarnya dengan kerbau lebih cepat dan lebih kuat dibanding traktor.

“Kalau traktor sering tidak kuatki jalang kalau nambrak batu-batu di sawah,” kata Daeng Sanre.

Meski diakui lebih kuat membajak sawah, kerbau kemudian ditinggalkan oleh petani. Berganti dengan traktor. Dampaknya kemudian dirasakan oleh para Pabela Ruku’ — penyabet rumput.

Tugas mereka itulah yang diambil-alih oleh traktor mesin. Mereka pun mau tak mau terpaksa menganggur tanpa syarat.

Hilangnya mata pencaharian para Pabela Ruku’ ini, seperti cerita Daeng Sanre, menimbulkan tindakan anarkis dari para petani. Traktor “tak berdosa” itu secara massal dibakar oleh petani, justeru saat siap dioperasikan di tengah persawahan. Kerugian pun diderita pemerintah dari miliaran rupiah harga traktor per unitnya yang dibakar itu.

Belakangan traktor kemudian bisa diterima sebagai sahabat para petani. Itu setelah aparat keamanan TNI – Polri ikut turun tangan mengamankan. Khusus di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, bantuan traktor ini dikirim ke wilayah kecamatan. Setiap kecamatan memperoleh jatah masing-masing 1 unit traktor.

JEMUR GABAH -- Hasil panen dari sawah ketika belum tergusur bandara (koleksi pribafi)

JEMUR GABAH — Hasil panen dari sawah ketika belum tergusur bandara (koleksi pribadi)

Waktu terus bergulir. Selama 36 tahun saya di rantau, untuk kesekian kalinya saya dengar cerita keluh-kesah mereka setiap kali mudik. Kali ini kisah tentang Daeng Sanre dan traktor pengganti kerbau membajak sawah.

Ya, itulah cerita ringan tentang kampungku….

Makassar, Selasa 06 September 2016

@Nur Terbit
www.nurterbit.com

Tulisan ini diikutkan lomba blog Kudo Indonesia

(2) JEMUR GABAH -- Hasil panen dari sawah ketika belum tergusur bandara (koleksi pribafi)

(2) JEMUR GABAH — Hasil panen dari sawah ketika belum tergusur (foto Nur Terbit)

Bagaimana kondisi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, tonton video seru ini saat kami pulang mudik lebaran Idul Adha 2016 ini …

Logo Kudo Indonesia dok Kaskus

Logo Kudo Indonesia dok Kaskus

Leave a Comment