Mampir di “Pesantren Papua” Taman Sari Setu Bekasi

Mampir di “Pesantren Papua” Taman Sari Setu BekasiSuatu hari di Desa Taman Sari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, saya menghentikan motor yang saya tunggangi dan mampir di satu warung di pojok jalan desa.”Bu, masih jauh gak pesantren Nuu Waar di Desa Taman Sari?,” tanya saya kepada ibu pemilik warung.”Iya ini sudah masuk Desa Taman Sari. Tapi ibu tidak tahu dimana pesantren yang bapak maksud itu Pak,” kata saya lagi.”Itu loh Bu, pesantren yang Kiai dan santriwan – santriwatinya semua orang Papua,” kata saya, mencoba memberikan kekhasan dari pesantren tersebut.”Oh, pesantren ya? saya kira sekolah. Soalnya banyak juga anak dari kampung di sini yang sekolah di sana. Bapak lurus saja, melewati pematang sawah,” kata ibu pemilik warung.Itulah Pondok Pesantren Nuu Waar, Desa Taman Sari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dipimpin KH Fadzlan.Nama lengkapnya Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan, lahir 17 Mei 1969 di Teluk Patipi, Fakfak, Provinsi Papua.

PRESS TOUR PWI DKI JAKARTA

Saya mampir di “Pesantren Papua” Taman Sari, Kecamatan Setu di Kabupaten Bekasi ini, menunggang motor sendiri karena rombongan lainnya berangkat menggunakan kendaraan bus.Beberapa teman wartawan yang lain, berangkatnya dari markas Persatuan Wartawan Indonesia DKI Jakarta (PWI Jaya), Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat.Kunjungan para “pemburu berita” ini ke Pondok Pesantren “Nuu Waar” dalam rangka program Press Tour PWI Jaya, pada Jumat 13 September 2024 silam. Kami serombongan sempat “nyantri” dan sholat Jum’at berjamaah dengan para santri — yang umumnya memang anak-anak Papua itu.Sebagian lagi dari anak Indonesia Timur dan warga sekitar Setu, Kabupaten Bekasi. Mereka “mondok” belajar agama sekaligus menghapal Al-Qur’an.Nah pulangnya dari pondok pesantren inilah, kami dari para wartawan masing-masing kebagian juga rezeki dari ubi petani desa di Indonesia ini dalam kemasan kardus. Terima kasih “kakak” santri dan Pak Kiai.UBI DARI PETANI DESA INDONESIAMenurut Pak KH Fadzlan, ubi ini adalah bagian dari 1.000 ton ubi bantuan pangan untuk warga Palestina yang sudah tiba di Palestina-Gaza. Mereka makan ubi Indonesia di tengah kancah perang yang terus berkobar.Rencananya, dengan bekerja sama dengan Global Moeslim Charity (GMC) dengan presidennya Ahyudin, kembali akan mengirimkan 10.000 ton ubi dalam Program Kapal Kemanusiaan Indonesia – Palestina.Ubi ini adalah hasil panen para petani di desa binaan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) yang dipimpin KH Fadzlan.KH Fadzlan juga sebagai presiden AFKN, sekaligus pengelola Pondok Pesantren Nuu Waar, Desa Taman Sari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.Ubi petani desa ini, luar biasa. Rasanya manis, legit (setelah ditambah sedikit garam). Begitu juga saat direbus, cepat matang padahal ukuran ubinya besar-besar.Sepertinya memang ini ubi pilihan. Yang sudah saya coba rebus, adalah varian ubi putih, ada juga ubi merah.Alhamdulillah, suatu hari Sabtu pagi-pagi 14 September 2024 sudah menikmati ubi jalar rebus, didampingi teh manis rakitan istri.PROGRAM 10 RIBU TON UBIPresiden Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) KH MZ Fadzlan Rabbany Garamatan mengatakan, saat ini Indonesia telah memulai langkah program pengiriman 10 ribu ton umbi-umbian ke Palestina.Selain itu, kata KH Fadzlan, dengan program bantuan 1000 ton ubi selama ini, akan berfaedah besar bagi para petani di seluruh Indonesia dan juga akan bermanfaat besar bagi rakyat Palestina.“Ambil faedah yang besar dari infaq yang ada buat manfaat pada warga negara kita dan rakyat Palestina, jalan terbaik ya dengan menanam ubi,” kata KH Fadzlan.Diungkapkan, menanam ubi cukup dengan lahan seluas 10 meter persegi. Ini karena ubi adalah tanaman yang paling cepat panen hanya memerlukan waktu 3 bulan. “Beda kalau singkong, itu bisa mencapai enam bulan,” katanya.Menurutnya, program 1000 ton umbi-umbian ini hanyalah awal. Jika ini berhasil akan membangun potensi pangan pedesaan Indonesia, sekaligus bisa membantu rakyat Palestina.“Program 10 ribu ton umbi-umbian hanyalah awal. Kita bisa melakukan lebih banyak lagi. Setiap doa yang kita panjatkan, setiap rupiah yang kita sumbangkan, setiap suara yang kita lantangkan untuk membela keadilan, adalah langkah menuju dunia yang lebih baik,” katanya.Diungkapkan oleh pejuang dakwah ini, ke depan diharapkan tidak ada lagi anak-anak di dunia ini yang harus tidur dengan perut kosong, di mana tidak-ada lagi ibu yang harus menangisi anaknya karena perang yang tak mereka mengerti.Karena itu, diyakini bahwa ada manfaat ganda dari program 10.000 ton ubi ini. Yang terutama adalah bagaimana kita mengembangkan potensi pertanian di pedesaan, kemudian menjadi nilai tambah bagi saudara-saudara kita di Palestina.“Pengiriman ubi adalah salah satu solusi. Sebelumnya kita juga telah mengirimkan bantuan dalam bentuk daging qurban, sarden dan lain-lain,” kata KH Fadzlan.Menurutnya, ubi tersebut setelah dibersihkan barulah dikirimkan, atau bisa langsung dikonsumsi. “Ubi itu aman, berkarbohidrat tinggi. Ini karena ubi punya nutrisari sangat tinggi, zat gulanya hampir tidak ada,” katanya.KH Fadzlan berharap, ke depan sudah bisa dilakukan pengiriman ke Palestina melalui pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara agar pada saat bulan Ramadhan nanti warga Palestina bisa menikmatinya.“Ini bukan program Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), tapi program seluruh rakyat Indonesia,” katanya.Saat ini, lanjutnya, sedang dilakukan proses penanaman di seputar daerah Kabupaten Kuningan, Cirebon Jawa Barat. Dalam waktu tiga bulan, ubi akan panen. Selanjutnya akan dikirim melalui pelabuhan Tanjung Priok dengan memakan waktu 11-12 hari.Dengan adanya program bantuan pangan ini, jelas KH. Fadzlan Garamatan, membuat para petani desa yang tergabung dalam Relawan Pangan Indonesia-Palestiana ini, dapat bertahan hidup di tengah kesulitan yang dirasakan belakangan ini.Seperti yang telah dilakukan Petani Relawan Pangan di Desa Cintabodas, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang sudah bekerja secara simultan. Mereka telah membuka lahan pertanian seluas 50 hektar untuk penanaman ubi jalar secara massal.“Dari target pertama pengiriman ubi sebanyak 1.000 ton, jumlah petani yang terlibat sekitar 100 Petani Relawan Pangan. Ini semua akan kita kembangkan menjadi 300 petani,” jelasnya.Hal tersebut harus dilakukan, tambahnya, untuk mengejar target pengiriman tahap pertama yang akan dilakukan pada bulan Februari 2025, sebelum masuknya bulan suci Ramadhan 1446 H yang jatuh pada 1 Maret 2024.“Dengan demikian, Palestina berjuang, Indonesia bergerak bukan karena kita kuat, tapi karena kita peduli. Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita memahami nilai kemanusiaan”.”Bukan karena kita ingin dipuji, tapi karena ini adalah amanat konstitusi kita, panggilan sejarah kita, dan tanggung jawab moral kita sebagai bagian dari umat manusia,” pungkasnya.MEMBERDAYAKAN PETANI INDONESIASementara itu Presiden Global Moeslim Charity (GMC), Ahyudin menambahkan Program 1000 Ton Ubi ini adalah diplomasi luar biasa, karena selain dapat memberdayakan petani Indonesia juga bermanfaat besar bagi rakyat Palestina.“Sebelumnya kita melakukan survei, apa yang mereka (rakyat Palestina) makan. Ternyata umbi-umbian juga mereka konsumsi,” katanya.Ahyudin berharap dalam proses pengiriman nanti, TNI bersedia meminjamkan kapalnya agar lebih memudahkan dan menekan biaya operasional.“Sebagai bangsa yang paling terdepan dalam urusan bantuan kemanusiaan, Saya berharap TNI dapat membantu dengan meminjamkan Kapal perangnya untuk proses pengiriman bantuan ke Palestina, daripada kita sewa berapa biayanya,” tutup Ahyudin.BerikutReportasenya dari lapangan di link di bawah ini:Medsos Facebook:https://www.facebook.com/share/p/gpAH6imecLgMsJsi/?mibextid=oFDknkChannel YouTube :https://youtube.com/@nurterbit?si=cBmVyzqfm3ntCz4C

Presiden AFKN, KH Fadzlan (kanan) serta Presiden GMC Ahyudin (kiri) dan perwakilan wartawan PWI Jaya (tengah) dengan sebagian ubi yang dikirim ke Palestina (foto: Possore.id/Nur)

By nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Toggle Dark Mode