Teks gambar: Keluarga suku Bugis Makassar dalam pakaian adat di sebuah acara (foto dok Nur Terbit)
UANG PANAI dalam bahasa Makassar artinya uang yang dibawa (nipanai) dari calon pengantin pria ke keluarga calon pengantin wanita untuk bantuan biaya pesta dan kebutuhan suami-istri pasca pesta.
Jadi selain mahar (mas kawin), calon pengantin pria juga berkewajiban membawa Uang Panai, biasanya masih ada embel-embel harta benda, sawah, kebun dan lain-lain.
Makanya, kalau mau melamar gadis Bugis-Makassar, jangan coba-coba kalau kalian tidak bermodal hehehe..
Tradisi Uang Panai ini juga sudah pernah diangkat menjadi cerita film bioskop. Bahkan sudah dibuat episode lanjutan yakni “Uang Panai 2” disutradarai Ihdar Nur, kelanjutan dari film sebelumnya.
Besaran Uang Panai umumnya ditentukan berdasarkan status sosial dan pencapaian seperti pendidikan, pekerjaan, dan bahkan nasab keturunan.
Secara historis, juga memiliki nilai simbolis untuk menunjukkan kesungguhan dan rasa tanggung jawab calon mempelai pria terhadap calon istrinya.
Video prosesi Uang Panai dalam perkawinan adat suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan (sumber: video YouTube dari Channel @ NURTERBIT) 👇
Uang Panai juga ada tahapan – tahapan dalam prosesi adat Bugis Makassar untuk lamaran hingga rangkaian pesta pra nikah yang saya tulis di blog pribadi.
PENGERTIAN UMUM UANG PANAI
Uang panai (bahasa Makassar doi panai, bahasa Bugis doi menre) adalah sejumlah uang adat yang wajib diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan dalam tradisi pernikahan suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.
Perbedaan dengan Mahar, nah ini dia, banyak orang sering menyamakan Uang Panai dengan Mahar, padahal keduanya berbeda:
• Uang Panai: dana dari pihak laki-laki yang digunakan untuk membantu membiayai seluruh rangkaian acara resepsi dan pesta pernikahan pihak perempuan. Uang ini dikelola oleh keluarga wanita untuk keperluan hajatan.
• Mahar: pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai pria yang menjadi hak pribadi mutlak milik si istri secara agama.
Cara menentukan besaran Uang Panai, nominalnya tidak ditetapkan sembarangan, melainkan melalui proses tawar-menawar antar keluarga.
Dalam bahasa Bugis disebut “ma’ manu-manu’ atau “mappetuada”. Dalam bahasa Makassar disebut “ajjangang-jangang” atau “attappu kana”.
Besarannya dipengaruhi oleh beberapa faktor pada calon mempelai perempuan:
• Tingkat pendidikan (SMA, S1, S2, dsb.)
• Pekerjaan dan karier
• Keturunan atau strata sosial (keluarga bangsawan atau orang biasa)
• Kecantikan dan usia
Makna dan Pergeseran Nilai
• Makna Asal: sebagai simbol bentuk penghargaan, keseriusan, serta kerja keras dari pihak laki-laki untuk meminang sang wanita, sekaligus bentuk balas budi kepada orang tua perempuan yang telah membesarkannya.
• Pergeseran Modern: saat ini, uang panai kerap dikaitkan dengan gengsi atau status sosial keluarga. Jika tidak tercapai kesepakatan nominal dalam musyawarah keluarga, pernikahan bisa saja tertunda, batal, atau bahkan memicu terjadinya “silariang” (kawin lari, bahasa Makassar).
“UANG PANAI” & CARA MELAMAR
Beberaoa tahun lalu pernah viral di media sosial (medsos), seorang putera sultan dari Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) melamar seorang gadis di Kota Makassar.
Gadis yang dilamar berstatus dokter di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan UANG PANAI sebesar Rp1 Milyar plus sawah dan kebun.
Sebelumnya juga ada prosesi lamaran di Parang Banoa, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Semoga informasi yang saya tulis di blog pribadi www.nurterbit.com bisa bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih. Aamiin.
Salam : Nur Terbit
* Tulisan blog ke-53 edisi Sabtu 10 Oktober 2026 untuk diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan RI, digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com
Video iNews TV memperlihatkab calon mempelai pria memberikan Uang Panai kepada gadis cantik calon istrinya, sebesar Rp2 miliar. Videonya ada di sini👇

