Wartawan Profesi Penuh Tantangan, Bekerja Di Bawah Tekanan – Catatan Nur Terbit
Suatu hari, saya membaca berita di media online dan menonton video di Youtube. Ada perlakuan oknum pejabat yang tidak bermartabat kepada seorang wartawati. Ingat wartawati, artinya wartawan yang berkelamin prempuan ya ..
Wartawati tersebut adalah pekerja pers dari grup media CNN Indonesia. Berita dan videonya viral karena si wartawati tersebut pernah dicopot kartu pers liputannya oleh Biro Pers Istana Presiden Prabowo Subianto.
Dicopot? Koq jadi aneh dan gak lucu amat sih? Koq sebegitu dikekangnya pers dan wartawan di negeri Konoha ini?
Hanya karena wartawati ini bertanya ke Presiden soal banyaknya pelajar, anak sekolah yang diduga keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Mereka diduga keracunan MBG — yang diyakini tidak bergizi dan dikelola oleh bukan pakar gizi itu. Nah gara-gara mempertanyakan kebenaran isu tersebut, kemudian tiba-tiba kartu wartawati ini dicopot?
Berikut ini ada 4 (empat) peristiwa yang pernah saya alami di lapangan, ketika masih menjalani profesi wartawan sebagai reporter Harian Terbit, salah satu surat kabar terbitan sore hari di Jakarta dari Grup Pos Kota.
Kisahnya mirip-mirip dengan yang dialami teman wartawati CNN Indonesia — namun pengalaman saya lebih mengarah ke upaya intimidasi, kriminalisasi, pelecehan terhadap profesi wartawan.
1. TALI JAM WARNA -WARNI
Ini pengalaman receh saya ketika liputan dan tercatat sebagai anggota wartawan “Bakaikoters” — sebutan bagi wartawan yang bertugas di Balaikota Pemprov DKI Jakarta era Gubernur Soerjadi Soedirja.
Ada wartawan memakai jam tangan dengan tali jam warna-warni. Eh ditegur sama Kepala Humas Pemprov DKI Jakarta. Dia disuruh copot jamnya. Katanya tidak sopan wartawan pakai jam tangan gaya ABG (Anak Baru Gede). Apalagi nanti berhadapan dan wawancara dengan Pak Gubernur.
Loh…Apa hubungannya sih pak, tugas wartawan dengan jam tangan warna-warni? Sekedar untuk diketahui saat itu di Pemprov DKI Jakarta, Gubernurnya militer, Kepala Humasnya juga militer.
Gak apa-apa juga kali. Tapi wartawan — yang tugasnya wawancara, meliput dan menulis berita — koq juga mau dipaksa ikut disiplin militer hingga sampai ke urusan tali jam tangan segala yang tidak boleh warna-warni? ya gak perlulah hahaha..
2. DISEKAP DI POS KEAMANAN
Ini pengalamain lagi ketika saya meliput demo buruh di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Clincing, Jakarta Utara. Diam-diam saya dekati Korlap (koordinator lapangan) dari aksi buruh tersebut dan mewawancarainya.
Eh ternyata apes. Ada oknum Babinsa dari Koramil Cilincing memergokin saya. Saya ditarik ke dalam pos keamanan perusahan dan….. disekap tanpa alasan. Gak boleh pulang ke kantor sebelum aksi demo selesai.
Ada 2 kemungkinan saya disekap gara-gara wawancara dengan buruh, melalui Koordinator Lapangan (Korlap) aksi buruh.
Pertama, koran tempat saya bekerja adalah koran sore (Harian Terbit, Pos Kota Grup). Sehingga aksi demo pagi itu, bisa langsung dimuat siang-sore harinya, dibanding kalau koran pagi yang baru dimuat esok paginya.
Kedua, masih hangat-hangatnya kasus Marsinah, buruh di Surabaya, Jawa Timur, yang ditemukan tewas terbunuh usai melakukan aksi demo bersama teman-teman buruh lain di pabrik tempatnya bekerja.
Oknum Babinsa ini kemungkinan trauma jika ada wartawan seperti saya nanti menulis berita buruh lagi hehe….
3. DICARI TUKANG PUKUL BAYARAN
Pengalaman cukup menegangkan, ketika ada salah satu oknum Camat di Jakarta Utara mencari saya dengan mengutus “algojo” alias “pembunuh bayaran”.
Mirip kasus Udin dari “Harian Berita Nasional” populer disebut Udin Bernas di Yogyakarta. Sadis kan? Wartawan diancam mau dibunuh gara-gara berita.
Ini kan lebih sadis jika dibanding kartu wartawan dicopot oleh Biro Pers Istana karena pertanyaan MBG beracun yang dianggap berbahaya?
Kenapa saya dicari tukang pukul bayaran? Itu gara-gara saya tulis berita oknum camat yang diduga korupsi, jual-beli tanah negara dan pungli lainnya.
Saat saya berupaya mau konformasi ke kantornya, dia “tertutup” dan menolak menerima pertanyaan saya. Rupanya dia punya cara lain.
Itu saya ketahui, ketika suatu malam ada keributan di Lokalisasi dan Resosialisasi Kramat Tunggak (Lokres Kramtung), Koja, Jakarta Utara. Lokres ini sekarang sudah ditutup. Kini sudah berdiri bangunan megah: Islamic Center Jakarta Utara.
Di Lokres tersebut (saat itu), kata seorang teman polisi memberi bocoran, kalau pihaknya sedang memburu DPO (Daftar Pencarian Orang) dan sudah masuk TO (Target Operasi).
Saat itu “target” dikabarkan sudah ada di lokalisasi. Saya lalu menyusul ke sana. Benar juga. Salah seorang DPO yang berhasil dibekuk dan dibawa ke kantor Polsek.
Di kantor Polsek dia sempat “bernyanyi”. Dia bilang, dirinya masih ada tugas lagi yang belum beres dari oknum camat. Dia mencari wartawan yang menulis berita miring soal bossnya. Waduh….Itu yang dia maksud pasti saya orangnya hehe ….
4. DIANCAM MAU DIBUNUH
Masih di Jakarta kejadiannya. Ada demo di depan kantor Walikota Jakarta Timur. Saya pun datang tergesa-gesa memarkir motor. Tiba-tiba didatangi oknum petugas Pamdal (Pengamanan Dalam), dengan paksa mengusir dan mengancam akan membunuh. Waduh?
Usai aksi demo, saya ditemani sesama wartawan melapor ke Polres Jakarta Timur di Jatinegara karena merasa keselamatan terancam.
Tapi petugas di Polres Jakarta Timur, kemudian melimpahkan laporan saya ke Polsek Cakung, sesuai TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Hasilnya? Ya sampai kemudian berkali-kali ganti Walikota, Komandan Pamdal, Kapolres, Kapolsek, laporan pengancaman oknum Pamdal terhadap wartawan, tetap tidak ada kelanjutannya hahaha….
Nah itulah sekedar kisah receh dari Bang Nur Terbit seputar dunia wartawan. Dari cerita pencopotan kartu, hingga kelakuan tengik oknum Humas dan oknum Babinsa. Sampai ketemu lagi pada kisah yang lain. Semoga bermanfaat.
Salam : Nur Terbit
Berita terkait : Bedah Buku Wartawan Bangkotan
* Tulisan blog ke-43 edisi Rabu 30 September 2026, untuk diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan RI, digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com


