Wartawan Dan Media Di Era Digital

Suatu hari di pertengahan September 2026, saya ada urusan di salah satu Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta. Secara kebetulan bertemu dengan Muhammad Abduh Sulaeman, Ketua Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta.

“Ada urusan apa kamu di pengadilan?”

“Biasa bos, ada urusan sedikit, mau sidang sebagai kuasa untuk permohonan penetapan ahli waris,” kata saya.

“Tahun depan 2027, saya sudah pensiun. Teman-teman kita yang lain sudah lama pensiun sebagai hakim. Kebetulan karena saya pernah jadi hakim pengawas di Mahkamah Agung, jadi umur bisa sampai 67 tahun baru pensiun,” katanya.

“Iya betul. Kita kan seumuran bos. Sama-sama kelahiran tahun 1960. Saya orangnya tidak bisa diam, malas kalau hanya diam di rumah,” jawab saya sambil tertawa.

“Tapi saya sudah mau pensiun tahun depan, kamu koq gak pensiun-pensiun,” katanya sambil tertawa. Saya juga tertawa, “wartawan tidak kenal pensiunlah bos hehe….”

Itulah dialog kami berdua hari itu di pengadilan. Abduh, begitu kami memanggil namanya, memang masih teman kuliah waktu di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN, sekarang Universitas Islam Negeri – UIN) Alauddin Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

WARTAWAN DAN MEDIA ERA DIGITAL

Setelah memasuki era digital, Alhamdulillah meski tetap kagok, bingung dan mencoba belajar mengikuti trend, saya merasa cukup enjoy.

Bahkan di era digital ini, saya malah lebih sibuk menerima undangan, turun ke lapangan dan jalan-jalan ke mana-mana, ikut lomba menulis blog, diminta mengisi materi bagaimana teknik menulis di media cetak, media online dan media sosial di acara pelatihan menulis.

Adalah almarhum Dr. H. Kamsul Hasan, S.H, M.H, dosen di IISIP Lenteng Agung Jakarta pada sebuah seminar wartawan hiburan (musik) mengatakan, apakah wartawan masih dibutuhkan atau blogger lebih diutamakan di era digital?

“Pada saatnya nanti tergantung pesan apa yang akan disampaikan,” jelas pakar Penulisan Pemberitaan Ramah Anak yang dimotori oleh Kementerian PPPA RI dan Dewan Pers.

Wartawan karena keterbatasan dan adanya proses jurnalistik, kata Kamsul Hasan, sulit untuk menulis berita promo panjang kali lebar sehingga menjadi luas. Berbeda dengan blogger yang menulis dan langsung menurunkan sendiri karyanya.

“Saya contohkan ketika ingin menyampaikan pesan yang berbau promo lebih baik mengundang blogger Kompasiana dari pada wartawan Kompas,” kata Ketua Bidang Kompetensi Wartawan pada PWI Pusat ini.

Persoalan lain dihadapi wartawan hiburan adalah lahirnya media komunitas yang menjadi rujukan para penggemar. Jumlah pengunjungnya bisa mencapai jutaan orang.

Wartawan di era digital harus beradaptasi dengan kecepatan informasi, pemanfaatan platform multi-media, dan tantangan verifikasi data di tengah disrupsi teknologi.

Tantangan dan Peran Wartawan di Era Digital

  • Kecepatan dan Algoritma: Wartawan tidak lagi mengejar deadline cetak harian semata, melainkan harus bersaing dengan kecepatan arus informasi di media sosial dan mesin pencari. [1]
  • Multitasking: Jurnalis dituntut memiliki keahlian ganda seperti menulis, mengambil video, menyunting, hingga memahami dasar blogger dan kreator konten (seperti yang dicontohkan oleh Nur Terbit, seorang jurnalis senior pemilik nama pena Nur Aliem Halvaima). [1]
  • Verifikasi dan Hoaks: Derasnya arus informasi uji kebenaran menjadi tantangan utama agar berita tetap kredibel dan tidak terjebak misinformasi.
  • Disrupsi AI: Kecerdasan buatan mengubah cara memproduksi berita, sehingga profesionalisme dan etika jurnalistik menjadi benteng utama.

Blogger Lebih Luwes

Seperti yang disampaikan bang Kamsul Hasan,  sebagai blogger saya lebih luwes menulis sesuatu yang kental promosinya (iklan) di blog, dibanding ketika masih wartawan cetak.

Kecuali, kalau memang ada perjanjian, kesepakatan, bahwa yang mau ditulis itu adalah pariwara, iklan sponsor, advetorial.

Di dunia blog, juga diperlukan tulisan model story’ telling (feature, gaya bertutur). 

Nah, ini menguntungkan saya sebagai blogger berlatar belakang wartawan. Sebab, tulisan feature, adalah makanan sehari-hari saya di surat kabar. 

Satu topik atau tema berita dan peristiwa, bisa saya tulis secara bersambung di koran. Tiap hari berseri, minimal seminggu berturut-turut.

Cuma satu hal, menulis di blog (juga di media online), kita diawasi UU ITE. Salah tulis dan bikin masalah, bahaya, risiko penjara. Artinya lebih super hati-hati dibanding menulis di koran cetak, juga sebagai wartawan). 

Nah, kebetulan selama jadi wartawan, saya banyak meliput di bidang hukum. Menulis berita kriminal, berurusan dengan polisi, kejaksaan, pengadilan. Jadi sedikit tahulah rambu-rambunya soal delik pers. 

Bahkan bela-belain ujian advokat (pengacara), dan Alhamdulillah lulus, serta punya “SIM” untuk beracara di pengadilan. Giliran beralih ke dunia blog, sesekali diminta pula jadi pengacara bagi blogger. Atau minimal memberi konseling dan mengadvokasi hehehe…

Kembali ke dunia blog (blogging). Belakangan banyak kasus IT muncul, antara lain kasus pencemaran nama baik, kasus penyebaran berita hoax, dan ujaran kebencian, atau orang dipolisikan gara-gara medsos (media sosial).

Ini juga membuka peluang baru bagi saya: tiba-tiba diminta jadi pembicara atau narasumber di pelatihan menulis blog.

Misalnya, bagaimana teknis menulis dengan aman di media cetak, media online dan media sosial. Bagaimana ancaman UU ITE? 

Alhamdulillah, ini semua, juga karena belajar dari Bang Kamsul. Suatu waktu, saya mengundang Bang Kamsul ke pelatihan menulis di komunitas blogger. Materinya, “Teknik Menulis Aman, Jauh dari Ancaman Penjara”. 

Semuanya serba kebetulan. Mengalir saja tanpa terencana. Dari sejak di koran cetak, hingga sampai ke dunia blogger. 

Nah, apakah wartawan masih diperlukan di era digital?. (Nur Terbit).

By nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Toggle Dark Mode