SETELAH SURAT KABAR HARIAN TERBIT “TERBENAM”, MAKA LAHIRLAH POSSORE ONLINE
Media cetak boleh saja sudah lama tutup, koran atau surat kabar pun sudah kehilangan pembacanya dan tidak bisa bertahan lama.
Tapi yang namanya profesi wartawan, tidak pernah lelah dan tidak mengenal kata pensiun. Profesi satu ini memang kelihatan tidak ada matinya.
Buktinya, Kamis 24 September 2026 lalu mereka berkumpul lagi seolah reuni kembali. Para mantan wartawan “Harian Terbit” dari “Pos Kota Grup” ini.
Antara lain ada Maghfur Ghazali, Harial Maruhim, Tety Polmasari, Fenti Ruchyat, Marolop Situmorang, Nur Aliem Halvaima (Nur Terbit), menyusul datang Ramly Amin Simbolon dan DR Bagus Sudarmanto yang berhalangan.
Mereka sepakat membuat akte baru pendirian sebuah perusahaan penerbitan media untuk menaungi https://www.possore.id, domain satu media online yang selama ini mereka usung.
Mereka pun — para mantan wartawan “Harian Terbit” ini — lalu membubuhkan tanda tangan dan cap jempol mereka di atas kertas lembaran akte yang dibuat oleh Dwi Yantoro — notaris yang kebetulan juga berlatar belakang wartawan, di kantornya bilangan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Sebuah sejarah baru perjalanan profesi wartawan, dari media cetak ke media online yang tidak sekedar reuni dan bernostalgia, tapi juga meneruskan dan terus menggelorakan semangat perjuangan dari para “pemburu berita” ini. Selamat sukses ya ..
Salah satu persyaratan sebuah media apapun itu bentuknya, mau media cetak maupun media online, adalah harus berbadan hukum. Antara lain berupa perseroan terbatas (PT), koperasi atau yayasan..
MANFAAT BADAN HUKUM BAGI SATU MEDIA
Selain itu, harus mempunyai alamat jelas dan memiliki kantor redaksi. Pengasuhnya atau awak medianya juga harus sudah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Dewan Pers.
Dari sekian persyaratan tersebut, Alhamdulillah, itulah yang saat ini sedang dilakukan teman-teman para mantan wartawan Harian Terbit untuk media barunya Possore.id dalam versi online.
Nama Pos Sore sendiri, sebenarnya nama lama Harian Terbit sebelum dibredel pemerintah. Sempat juga Harian Terbit ini “terbenam” di bawah pengelolaan manajemen Pos Kota Grup. Pada 10 Januari 2014 resmi “dijual” dan diambilalih pihak lain.
Ketika surat kabar sore ini berganti manajemen, wartawannya yang lama dan tidak ikut bergabung dengan manajemen baru, lalu membuat media baru bernama Pos Sore, menghidupkan kembali nama lama Harian Terbit.
Sebenarnya nasib HARIAN TERBIT dengan SINAR HARAPAN, koran sore yang juga terbitan Jakarta dari manajemen SINAR KASIH, adalah setali tiga uang. Berliku-liku, jatuh-bangun, jatuh lagi dan “nyungsep” selamanya.
Ketika saya masih aktif sebagai reporter di lapangan, Sinar Harapan (Rorimpadey) pernah dibredel (ditutup) bersama koran POS SORE (Pos Kota Grup milik Harmoko), PRIORITAS (Surya Paloh) era Presiden Soeharto (rezim Orde Baru).
Lalu Menteri Penerangan (ketika itu Harmoko) mengizinkan kembali Sinar Harapan beredar asal berganti awak redaksi dan nama media dari Sinar Harapan menjadi SUARA PEMBARUAN.
Belakangan bekas orang lama menerbitkan kembali Sinar Harapan. Tidak demikian dengan harian PRIORITAS, koran pertama di Indonesia yang berwarna ini akhirnya “di-PRIORITAS-kan” untuk tidak bisa terbit lagi sehingga Surya Paloh membeli Media Indonesia dari pemiliknya Tengku Yuslihsyah sebagai pengganti PRIORITAS.
Begitu juga dengan Pos Sore, boleh beredar kembali asal berganti nama. Itulah HARIAN TERBIT, reinkarnasi dari Pos Sore, di mana belakangan sudah TERBENAM seperti yang saya ulas di postingan ini….
Semoga teman-teman termasuk karyawan, mendapat tempat yang layak di media yang baru atau profesi baru dan lapangan kerja berikutnya…
Bagaimana perjalanan “jatuh bangun” HARIAN TERBIT” boleh diklik di link artikel berikut ini:
Demikian cerita Nur Terbit hari ke-37 Selasa 22 September 2026 untuk Lomba Blog Kemerdekaan, digelar Wijaya Kusumah (Omjay) https://www.wijayalabs.com
REUNI ALUMNI HARIAN TERBIT (sumber video channel YouTube @nurterbit 👇

