Media Pers

2 Alasan Kenapa Harus Memasarkan Produk di Media Digital

Written by nurterbit

Apa untungnya bermedia sosial? Apa pula manfaat dari media digital? Ini pengakuan seorang Digital Marketing Profesional.

Banyak keuntungan dari media sosial (medsos), bahkan kalau bicara untung, tidak akan ada habisnya. Sebab medsos sendiri, adalah bagian kecil dari luasnya belantara digital marketing atau digital media.

Karena itu, bicara dunia digital dan medsos, banyak yang bisa kita lakukan. Bahkan profesi baru bermunculan dengan adanya digital medianya.

Antara lain Anda bisa jadi blogger (penulis blog), vlogger (pembuat video blog), admin sosial media, buzzer (kampanye satu event atau produk), youtuber (membuat video dan share ke Youtube) dan lain-lain.

“Nah, makanya kita harus tahu dulu ke mana? Jadi harus tahu dulu ilmu digital marketing itu sendiri,” kata Imam Mahmudi, ketika memberikan materi di acara “Meraup Untung Dari Media Sosial”, digelar @Komunitas ISB kerja sama dengan @ShopieParis, di Inspiring Nutrifood Center, Apartemen Menteng Square, Jakarta, Sabtu 21 Juli 2018.

Saya yang ikut hadir di acara workshop ini, diminta oleh Kang Imam Mahmudi untuk menjelaskan setelah dilempar ke floor, tentu sesuai yang saya tahu dong. Iya pastilah kan?

Menurut saya, digital marketing itu adalah memasarkan produk, atau apa pun namanya yang mau dipasarkan itu, dilakukan ya melalui fasilitas digital. Makanya disebut digital marketing. Gampang kan? hehehe….

Yup…Imam membenarkan jawaban saya. Katanya, “memasarkan produk di media digital”. Beda-beda tipis kan dengan jawaban saya? Hahahaha…..ya gitu deh.

Alasan Imam kenapa memilih media digital untuk memasarkan produk? Berikut ada dua alasan utama yang sempat saya catat dari workshop ini.

1. Bisa Lebih Cepat

Dengan memasarkan produk kita melakukan media digital, bisa lebih cepat diterima, dilihat atau dibaca oleh masyarakat. Artinya, pesan yang kita sampaikan cepat sampai sesuai tujuan awal.

Caranya, kita pasang banner produk kita di sosial media. Boleh di akun Facebook, Instagram, Twitter, Youtube. Lalu kita share produk yang mau dipasarkan itu.

“Kalau mau lebih personal (pribadi) lagi, pasang banner tersebut via DM (direct massage) alias pesan langsung melalui smartphone masing-masing,” kata Imam menambahkan.

Nah, bandingkan jika kita memasarkan produk melalui media lain. Misalnya, menggunakan baliho, spanduk, brosur, pamflet dan lain-lain.

2. Produk Lebih Relevan

Melalui digital media, kita bisa menargetkan secara khusus produk apa yang relevan dengan follower kita. Misalnya media sosial kita konsen atau fokus pada otomotif, tentu akan disesuaikan.

Tidak mungkin memasarkan produk peralatan dapur dan lain-lain. Seperti buku masak, panci atau lainnya. Melainkan tentu dengan peralatan kendaraan mobil atau motor: ban, pelek, oli dan aksesoris lainnya.

Dari 2 alasan di atas, kata Imam Mahmudi, jelas sudah bahwa media sosial itu adalah hanya bagian kecil dari belantara digital marketing. Di sana ada bidang garapan lain seperti SEO, data base, video marketing, branding sosmed, aktivitas digital marketing.

Singkatnya, digital marketing itu adalah ibarat hutan belantara.

Di sana ada banyak data, penuh hiruk-pikuk yang terkadang bikin kita bingung. Jadi ini jelas tentu saja, tantangan bagi teman-teman yang memilih bergelut di bidang pemasaran (marketing).

Menurut pengakuan Imam Mahmudi sebagai Digital Marketing Profesional, saat ini media sosial yang banyak dipakai memasarkan produk adalah Facebook, disusul Instagram, Twitter dan Youtube. Ini data survei tahun 2011. Adapun media sosial lainnya, hanyalah untuk mensupport produk yang mau dipasarkan.

Produk & Demo Kecantikan

Selain belajar digital marketing, pada workshop ini juga diberikan materi dari @ShopieParis soal bisnis online dan demo kecantikan. Sedang sesi berbagi pengalaman sukses berbisnis, disampaikan Dani Anwar, pemilik The Warna.

Sophie Paris sendiri, berdiri sejak tahun 1995 oleh Mr.Bruno Hasson. Diawali industri rumahan, tiga tukang jahit, berkerja di loteng rumah dan menghasilkan tas-tas cantik. Selanjutnta nambah karyawan, menyewa gedung dan menerapkan sistem penjualan langsung produk Shopie Martin dan MLM.

Dani Anwar juga berbagi pengalaman dengan sepatu etnis The Warna, mencoba mengubah kain kebanggaan Indonesia menjadi produk ready to wear. Menonjolkan kain budaya seperti Batik dan Songket.

The Warna didirikan oleh Dany Anwar sejak tahun 2013. Namanya sendiri merupakan singkatan dari “Warisan Nusantara”.

Awalnya sepatu etnik ini diproduksi secara rumahan di Pontianak, kini Dani sudah memindahkan pusat produksinya ke Bogor. Dulu hanya punya 3 orang, kini Dani mempunyai total 55 pengrajin yang membuat sepatu etnik secara handmade.

* Tulisan ini berhasil terpilih sebagai juara tiga besar versi Sophie Paris.

Nah, untuk mengetahui keseruan dari workshop tersebut, berikut videonya yang sudah dishare ke Youtube:

Leave a Comment