Reportase

Mampir Belanja di ‘Pasar Jokowi’ Plered Purwakarta

Mejeng di depan Pasar Citeko, Pleder, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (foto dok Nur Terbit)
Pasar Citeko, Plered, Purwakarta (dok Nur Terbit)
Written by nurterbit

Lokasi “Pasar Jokowi” ini memang tidak terlalu jauh dari Pasar Plered lama yang ada di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Namanya sama dengan nama presiden kita: Jokowi atau Joko Widodo.

Bukan isapan jempol atau berita hoax, istilah populer untuk berita di dunia maya. Siapa saja bisa berbelanja ke Pasar Jokowi. Hanya saja waktu operasinya Pasar Jokowi ini hanya setengah hari, dimulai pada pagi hingga siang hari. Setelah itu pasarnya bubar dan bergeser ke pasar Plered lama yang posisinya mengelilingi gedung kantor Camat Plered.

Kenapa disebut Pasar Jokowi?

Apakah karena pasar ini pernah diresmikan oleh Jokowi? Ternyata pasar ini tidak ada hubungannya dengan Presiden Jokowi. Bahkan pasar ini sudah ada jauh sebelum Jokowi jadi presiden. Nah, kan?

Baca Juga : ANUGERAH PANCAWARA, PENGHARGAAN BAGI PASAR RAKYAT YANG MERAKYAT

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai pasar Jokowi alias Jongkok dan Owi. Itu karena pedagang maupun pembeli dalam transaksi dilakukan sambil jongkok dan memakai owi (bambu, dalam bahasa Sunda).

“Para pembeli dan penjualnya jongkok dan memakai owi atau bale bambu, makanya dinamakan Pasar Jokowi atuh”, kata Mang Asep, salah seorang pedagang di Pasar Jokowi sambil tertawa. Aduh, Purwakarta ini mah aya-aya wae ya?

Keramik dan Sate Maranggi

Purwakarta adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Selama ini selain Pasar Jokowi tadi, maka Purwakarta memang identik dengan keramik. Nyaris di sudut kota dan desa terlihat patung keramik. Bahkan di Plered, wilayah kecamatan di Kabupaten Purwakarta, juga dikenal sebagai daerah yang memproduksi keramik melalui home industri setempat. Keramik buatan masyarakat Plered sudah ada sejak zaman Belanda yaitu pada tahun 1795.

Selain produk keramik, Purkawarta juga memiliki kuliner khas yang cukup terkenal yaitu sate Maranggi. Sate Maranggi mempunyai rasa dan bumbu yang lain dengan sate biasa. Terbuat dari daging sapi atau daging kambing. Yang membedakan dengan sate biasa karena bumbunya paduan antara asam dan cabe yang pedas.

Sambel hijau yang digunakan, ditambah dengan cuka dan kecap manis yang terbuat dari tebu. Saat disajikan ditambah dengan irisan bawang merah dan buah tomat yang segar. Bahkan biasanya disajikan dengan ketan bakar atau nasi timbel. Wah sangat membuat perut semakin lapar saat mencium aromanya.

Selain sate Maranggi juga masih ada kuliner yang lain seperti ayam goreng, ayam bakar bakakak, dan penganan yang lain seperti simping, peuyeum bendul, gula cikeris, manisan pala, teh hijau, opak dan colenak alias dicolek enak.

Pasar Modern Citeko Plered

Di tengah ibukota kecamatan Plered ini, terdapat sebuah pasar yang tidak kalah populernya. Namanya Pasar Plered. Namun karena dianggap sudah tidak layak lagi, bahkan sering dituding sebagai sumber penyebab kemacetan maka sejak September 2013 silam pasar Plered dipindahkan ke daerah Citeko hingga berganti nama dengan Pasar Modern Citeko Plered. Sementara lahan bekas pasar lama, kini berdiri gedung kantor Camat Plered.

Meski pasar sudah dipindahkan ke Citeko, masih banyak pedagang maupun pembeli yang merasa enggan ke sana karena pertimbangan harus nambah ongkos bagi pembeli. Sedang bagi pedagang merasa di lokasi pasar baru Citeko, sekalipun sudah meningkat statusnya menjadi pasar modern tapi pembeli sepi.

Menurut Kepala Pasar Citeko Plered, Riyan Pramudiya, R, S.Hut bahwa pasar Citeko ini dari SK pendiriannya sebenarnya adalah status pasar modern. Pasar ini juga dilengkapi dengan sub terminal angkutan umum dengan areal halaman parkir yang luas. Tapi tetap saja seperti pasar tradisional karena pengunjung baru ramai hanya pada hari Kamis dan Minggu. Kebanyakan barang yang dijual adalah bahan sembako dan pakaian.

Mejeng di depan kendi dari tanah liat produk Plered, Purwakarta (dok Nur Terbit)

Mejeng di depan kendi dari tanah liat produk Plered, Purwakarta (dok Nur Terbit)

Sejarah Purwakarta

Purwakarta merupakan daerah yang terhormat atau beribawa, ramai dan hidup serta makmur atau sejahtera. Ini sesuai dengan mottonya bahwa Purwakarta Wibawa Karta Raharja yang artinya Wibawa adalah penuh kehormatan, Karta adalah ramai dan hidup sedangkan Raharja berarti keadaan sejahtera atau makmur.

Sejarah Purwakarta, seperti dikutip dari website purwakartakab.go.id, adalah salah satu daerah di wilayah Jawa Barat yang luas wilayahnya sekitar 97.127 Ha, dan terkenal dengan home industrinya dengan gerabah keramik. Daerah ini dipimpin oleh seorang bupati bernama H. Dedi Mulyadi, SH. Sedangkan wakilnya yaitu Drs. Dadan Koswara.

Plered adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Purwakarta yang terkenal dengan hasil home industrinya yaitu keramik.

Keramik sebagai bentuk kerajinan yang sudah ada sejak jaman Belanda yaitu pada tahun 1795. Sudah lama sekali dong ya?

Plered, Cirata dan Citalang adalah kota tertua di Purwakarta. Nama Plered asalnya dari jaman tanam paksa, ketika itu dijadikan tempat menanam kopi yang hasilnya diangkut dengan menggunakan pedati kecil yang ditarik oleh kerbau yang disebut Palered.

Menurut Wikipedia, pembuatan keramik Plered berlangsung turun-temurun dan diperkirakan sejak tahun 1904. Keramik Plered ini diekspor ke berbagai negara diantaranya Jepang, Belanda, Singapura, Taiwan, Korea, Australia, New Zealand, Kanada, Saudia Arabia, Amerika Serikat dan Amerika Latin, Inggris, Spanyol, Italia.

Nah di Desa Anjun, Kecamatan Plered inilah merupakan sentra penjualan keramik. Sejumlah wisatan lokal yang melintas di Desa Anjun, menyempatkan diri mampir membeli celengan hias berbentuk boneka Doraemon, Marsha, oleh-oleh khas Plered yang terbuat dari tanah liat. Di sepanjang pinggir jalan, terdapat sekitar 80-an unit usaha di Desa Anjun yang berlokasi 13 km dari kota Purwakarta.

Keramik hiasan yang dijual di Desa Anjun ini, mulai dari perlengkapan rumah tangga sampai dengan hiasan dan kerajinan keramik lainnya. Berbagai macam corak, bentuk, ragam dan warna. Antara lain berbentuk hewan, buah-buahan, bola dan aneka guci hias dan air mancur. Juga aneka pot bunga dan vas bunga. Mulai vas bunga yang duduk ataupun yang digantung. Begitu pula dengan berbagai macam mebel. Semua lengkap di Desa Anjun. *

Salam: Nur Terbit

www.nurterbit.com

www.twitter.com/nurterbit

www.youtube.com/nurterbit

www.instagram.com/nurterbit

www.facebook.com/nurharianterbit

32 Comments

Leave a Comment