Reportase

Menulis Reportase Gaya Blogger

Kang Arul (tengah) usai memberi materi (foto dok Blogdetik)
Kang Arul (tengah) usai memberi materi (foto dok Blogdetik)
Written by nurterbit

Reportase adalah kegiatan melaporkan berita yang berdasarkan pengamatan atau dari sumber tulisan. Itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sedangkan dalam artian umum, reportase adalah sebagai bagian dari aktivitas wartawan dalam melaporkan kejadian secara langsung atau tidak.

Blogger dan wartawan memang tak jauh dari dunia penulisan. Sama-sama memiliki rasa ingin tahu terhadap informasi yang lebih besar, lalu menyampaikan kembali dalam bentuk tulisan. Perbedaannya, wartawan lebih memprioritaskan tulisan kata baku yang berdasarkan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Sedangkan bagi blogger, bisa menuliskan dengan gaya bahasa sehari-hari dan mudah dimengerti oleh pembacanya.

Lalu bagaimana para blogger atau citizen journalism untuk bisa menulis reportase yang baik itu? Ini ada tips menarik dari blogger handal yang juga dosen galau: Kang Arul alias Dr Rulli Nasrullah, M.Si. Tips bagi yang mau belajar menulis reportase gaya blogger. Reportase adalah tulisan yang melaporkan sebuah peristiwa dari tempat kejadian perkara (TKP), minjam istilah polisi hehe…

Blogger yang mengikuti materi Kang Arul soal menulis reportase gaya blogger (foto dok Blogdetik)

Blogger yang mengikuti materi Kang Arul soal menulis reportase gaya blogger (foto dok Blogdetik)

Menurut Kang Arul, sebagai blogger, hindari agar jangan membabi buta jika menghadiri suatu acara, terutama acara launching atau peluncuran produk baru di suatu tempat.

“Kalau datang membabi-buta, saya anggap dia adalah blogger ‘muallaf’ hahahaha…. Tahu apa itu blogger ‘muallaf’? Itu loh blogger yang baru memasuki dunia blogging yang terasa asing dan belum tahu untuk apa dia datang ke suatu acara,” kata Kang Arul.

Bowo Susilo dan Dede Ariyanto yang bertindak sebagai Ketua Kelas dan Wakilnya, memang tidak salah memilih narasumber sekelas Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. Coba saja, temanya memancing keinginan tahuan bagi merek yang senang tulis-menulis: ‘Menulis Reportase ala Blogger’.

Foto bersama pemberi materi, kang Arul (foto Blogdetik)

Foto bersama pemberi materi, kang Arul (foto Blogdetik)

Menurut Kang Arul si “dosen galau” dan penulis ratusan judul buku ini, blogger “mualaf” itu gampang ditandai sosoknya. Datang ke satu acara, terlihat paling sibuk dengan handphonenya. Motret sana-sini dengan. Apa saja dipotret. Kalau ada lomba live twit, dia duduk anteng sibuk ngetwit.

Ini sudah bisa diduga, bahwa si blogger tersebut datang ke satu acara dengan tidak ada konsep dan program. Tinggalkan rumah tanpa persiapan dan tidak tahu mau apa di acara tersebut. Menulisnya di blog sangat lebay. Memuji-muji satu produk secara berlebihan. Padahal penulisnya sendiri belum tentu pernah mencoba apalagi memilikinya. Ini namanya blog yang hanya membohongi pembaca. Seolah-olah si blogger itulah ahlinya.

Padahal rahasianya gampang, latihanlah dengan menggunakan praktek 8 kata sebelum memulai menulis reportase. Ke-8 kata itu, ngacak saja, sembarang kata yang terlintas di pikiran. Kata Kang Arul, ini latihan ini cocok untuk melatih diri untuk mengikuti lomba live tweet (menulis di akun Twitter) atau lomba blog yang biasanya berlangsung di tempat.

Tidak Segampang Membalikkan Telapak Tangan

Namun ini semua tentu tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan. Instan dan lansung jadi. Tapi sebaiknya dipersiapkan sejak dari rumah. Jadi sudah disiapkan tema dari awal hingga terkonsep dan terencana.

Ini karena biasanya hampir di setiap lomba live twit, yang dinilai bukan banyak twit, tapi apakah konten dan pesan yang disampaikan melalui twiter itu sudah dapat? Kang Arul beri contoh lomba live twit soal kopi yang pernah digelar oleh restoran kopi berlebel asing di Jakarta.

Harus bisa menguraikan segala sesuatu yang menyangkut kopi. Misalnya tentang warung kopinya, bagaimana sejarahnya. Carilah ke-8 kata kunci tadi. Sedikit berbeda dengan lomba blog yang memerlukan tulisan panjang. Lebih bagus lagi kalau selain foto-foto illustrasi, juga dilengkapi dengan gambar video.

Kang Arul terima souvenir sebagai pembicara (foto Blogdetik)

Kang Arul terima souvenir sebagai pembicara (foto Blogdetik)

Komposisi Foto

Selain kata kunci 8 di atas, Kang Arul juga memberi trik agar blogger juga perlu belajar komposisi foto, atau tepatnya mengerti soal bagaimana pengambilan gambar yang baik.

Menulisnya lebay, memuji satu produk secara berlebihan, padahal penulisnya sendiri belum pernah mencoba apalagi memilikinya. Membohongi orang. Seolah-olah ahlinya.

Blog yang baik itu, ada tautannya dengan link ke blog atau tulisan yang lain. Sehingga pembaca memilik perbandingan. Selain itu disarankan agar jangan terlalu banyak narsis dengan produk, karena itu bisa diakali dengan meminta foto dari website perusahan yang mengundang.

“Sekarang ini yang namanya blogger itu sudah seperti wartawan sibuknya. Dalam sehari tidak hanya menerima satu undangan, tapi bisa empat undangan dengan tempat dan produk yang berbeda. Jadi kalau terlalu banyak narsis di satu acara, yakinlah pasti bloggernya akan kelelahan. Juga kasihan handphonenya ikut kelelahan,” kata Kang Arul yang disambut tawa peserta Sunday Sharing. Dari awal acara memang terasa heboh karena materi disampaikan secara humor.

Kang Arus sedang memberi materi (foto Blogdetik)

Kang Arus sedang memberi materi (foto Blogdetik)

Pada bagian lain, Kang Arul yang juga Penasehat/Pembina Komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRID) ini mengatakan bahwa bahan atau ide dalam menulis itu harus ada dan harus dicari. Betapa banyak tema tulisan di dunia ini yang belum ditulis orang lain. Yang ada hanya mengulang dengan sudut pandang yang berbeda-beda.Demikian reportase ini saya coba buat dari pelajaran yang diberikan Kang Arul di acara #SundaySharing21 Blogdetik. Tulisan ini juga sudah dimuat di Blogdetik. Semoga bermanfaat.

Salam:

NUR TERBIT

Twitter : @NurTERBIT

Leave a Comment