Kolom Pers

Menikmati Pelayaran Jakarta – Makassar, Eh Kecopetan di Kapal

Kapal laut Pelni siap sandar di dermaga pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara (foto: Nur Terbit)
Written by nurterbit

Sekitar September 1995 atau 19 tahun silam, saya punya pengalaman kecopetan di atas kapal laut. Ketika itu saya pulang mudik lebaran menggunakan alat transportasi laut dengan KM Kambuna milik PT Pelni. Di atas kapal penumpang bak “hotel terapung” itu — masih satu tipe dengan KM Tampomas II yang tenggelam di Perairan Massalembo menewaskan ribuan penumpang dalam pelayaran dari Tanjung Priok ke Makassar — saya kecopetan. Apes.

Hasilnya? Dompet berisi uang gaji dan THR itu raib disambar copet yang menyamar sebagai penumpang. Kejadian tersebut berlangsung saat saya mandi dan baju rompi berisi dompet di sakunya itu, digerayangi copet saat saya gantung di dinding kamar mandi kapal. Kasusnya pun saya laporkan ke petugas keamanan kapal, ABK, bahkan mengadukan langsung ke mualim kapal.

Ternyata bukan hanya saya yang kecopetan, ada sejumlah orang yang juga mengalami nasib serupa. Ironisnya, petugas keamanan kapal, ABK, mualim sudah lama tahu kondisi kerawanan copet di atas kapal, namun tak berdaya mengatasinya. Kenapa? “Kami tidak punya bukti. Kecuali kalau copetnya tertangkap tangan, itu baru bisa diproses secara hukum,” kata petugas keamanan kapal, ketika itu. Waduh…..

Mesin ketik jadul untuk menulis surat pembaca (illustrasi)

Mesin ketik jadul untuk menulis surat pembaca (illustrasi)

Surat Pembaca

SETIBANYA di Makassar dan kapal KM Kambuna bersandar di dermaga Pelabuhan Soekarno-Hatta, saya segera melapor ke kantor polisi terdekat, KP3 pelabuhan setempat. Setelah membuat LP di polisi, sekalian numpang mengetik meminjam mesin tik petugas polisi di kantor pelayanan dan pengaduan tersebut.

Yang saya ketik adalah cerita pengalaman soal kapal KM Kambuna yang tidak aman itu dalam bentuk “Surat Pembaca”. Saya pun sebar ke sejumlah kantor redaksi surat kabar lokkal di kota Makassar, maupun koran nasional terbitan ibukota Jakarta.

Esok paginya heboh. Terutama di kalangan pegawai PT Pelni Cabang Makassar dan kantor PT Pelni Pusat, Jalan Gajah Mada Jakarta. Surat saya menghiasi rubrik “Surat Pembaca” sejumlah media cetak. Antara lain Harian Pedoman Rakyat, Bina Baru keduanya koran lokal, dan di Harian Pelita terbitan Jakarta.

Bahkan surat yang saya kirim ke Harian Kompas Jakarta, tidak dimuat di rubrik surat pembaca, melainkan wartawannya menelpon langsung ke saya minta keterangan lebih panjang untuk dibuat sebagai berita di halaman Nasional atau Daerah.

Nah, itulah cerita kecil soal mesin ketik. Tik…tik…tapi bukan “bunyi suara hujan di atas genteng, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok, dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua” — lagu anak TK. Tapi tik…tik…bunyi mesin ketik. Dari bunyi dan irama mesin ketik inilah menghsilkan inspirasi. Salam….semangat, semangat. (Bekasi, Kamis 27 November 2014 — www.nurterbit.com)

Leave a Comment