Perjuangan Menulis di Platform Blog Keroyokan

"Menulis Gaya Wartawan", judul buku saya diterbitkan YPTD (foto dok Nur Terbit)

Teks gambar : Cover buku “Menulis Gaya Wartawan” desain Ajinatha diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD, 2020), berisi kumpulan tulisan saya di berbagai platform media (foto dok Nur Terbit)

“Bang Nur, saya sering membaca tulisannya di platform website atau blog keroyokan. Bagaimana caranya? Apakah ada honornya?,” tanya seorang teman.

“Blog atau website keroyokan atau ditulis secara nersmai-ramai, memang terbuka untuk masyarakat umum untuk menulis. Siapa pun bisa menulis asal login dulu atau registrasi dulu lalu bikin akun sendiri,” kata saya.

“Tulisan yang dimuat, setelah melalui proses verifikasi dari adminnya. Kalau tulisannya aman, gak nyinyirin orang, gak penuh caci-maki dan ujaran kebencian, Isinya Allah pasti dimuat,” tambah saya.

Saya kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai syarat dan ketentuan jika menulis di bog atau website keroyokan.

MENULIS DI BLOG KEROYOKAN

Sesuai pengalaman saya selama ini, saya banyak menulis di blog atau website keroyokan dengan berbagai topik. Saya suka karena gaya penulisannya bertutur, atau populer dengan istilah tulisan feature.

Seperti di antaranya di Kompasiana (grup Kompas), Kumparan, Blogdetik (grup Detikcom tapi sudah almarhum), Posjakut (grup Pikiran Rakyat), Klik Pendidikan, Sila News, Melintas ketiga yang disebut terakhir adalah grup Promedia, selain tentu saja di blog pribadi : https://nurterbit.com.

“Yang perlu diingat, kalau tulisan kita dianggap akan bisa berbahaya atau ada iklan terselubung, biasanya dipending oleh adminnya”.

“Atau kalau sudah terlanjur dimuat nanti di-take down. Kecuali iklan yang memang ada kerja sama dengan bog atau website keroyokan tersebut”.

Mengenai honor untuk setiap tulisan yang dimuat, itu tergantung dari kebijakan admin dari bog atau website keroyokan.

“Penulis yang aktif menulis itu, setahu saya kalau selama ini mereka mendapat fee atau honor tulisan setiap bulan sesuai jumlah viewer (pembaca) dengan ketentuan dan penilaian adminnya”.

Padahal, mereka mungkin tidak pernah tahu kalau saya sendiri sampai saya menulis artikel ini, belum sekalipun mendapat reward atau honor tulisan hehehe….

Tapi saya terus berpromosi ke teman, biar tidak sampai turun atau jatuh semangat menulisnya. Kata saya, ada kelebihan kalau menulis di bog atau website keroyokan.

Kelebihannya sebab banyak pembacanya. Apalagi membahas topik yang lagi viral. Juga, sering ada lomba menulis atau blog competition, hadiahnya lumayan.

Terkadang disiapkan hadiah uang kontan atau barang elektronik. Seperti handphone atau laptop sesuai kemampuan sponsor.

Berikut ini salah satu tulisan saya di Kompasiana berikut video YouTube di salah satu event Kopdar (Kopi Darat) para Kompasianer.

Klik link ini: CURHAT SEORANG PENULIS KOMPASIANA (KOMPASIANER)

AKUN BLOG MENDADAK HILANG

Ibarat kita lagi mencintai seseorang yang sudah sepenuh hati, tiba-tiba menghilang dan tidak diketahui kemana rimbanya. Ketika bisa bertemu lagi, kita hanya bisa memandang dari jauh.

Tidak bisa lagi berkominikasi, apalagi mau menyentuh tubuhnya sekedar untuk bersalaman sebagai pelepas rindu. Padahal orang yang kita cintai itu kini sudah ada di depan mata. Betapa tersiksanya kan? Ciieh… ciieh..

Tapi sungguh, itulah yang pernah saya alami ketika harus kehilangan dan tidak bisa lagi login ke akun blog keroyokan yang saya ikuti.

Sungguh. Saya merasakan kehilangan sesuatu yang sudah saya cintai sepenuh hati, dan tiba-tiba dia menghilang. Ibarat kekasih, tega nian dia meninggalkan daku?

Eh, begitu dia kembali (maksudnya tentu akun blog tersebut), dan saya bisa menemukan jejaknya lagi, yang terjadi kemudian adalah seperti penggalan lirik pada lagu “Balada Pelaut”.

“Kita bale ngana so laeng,Kita bale ngana so kawengCikar kanan, Vaya condios cari laeng..”

Lagu daerah dari Manado, Provinsi Sulawesi Utara berjudul “Balada Pelaut” ini, diciptakan oleh Ferry Pangalila, kemudian dipopulerkan Conny Maria Mamahit.

Itu hasil penelusuran saya di internet. Sangat pas untuk melukiskan perasaan dan pengalaman saya kehilangan aku blog. Dan inilah tulisan pertama saya di akun yang baru pengganti akun lama yang hilang itu.

Tulisan ini awalnya saya salurkan dalam bentuk status di akun Facebook saya : Nur Terbit, seperti di bawah ini.

Nasib…nasib. Sejak HP (handphone) dire-start karena memori sudah penuh, saya kini kesulitan login ke Nur Terbit, akun pribadi saya.

Berkali-kali saya coba dengan email dan password lama, tetap gagal masuk. Yang muncul, malah berubah jadi akun baru, tentu saja masih kosong tanpa satupun artikelnya.

Padahal akun lama saya sudah bergabung sejak tahun 2012 (10 tahun lalu), sudah ada ribuan artikel yang dimuat. Di antaranya sudah jadi kumpulan tulisan di buku “Wartawan Bangkotan”. Kan sayang kalau tidak bisa menulis lagi. Nasib.

Sudah pernah dalam waktu seminggu lamanya, saya menghubungi admin blog keroyokan via WA, tapi belum ada respon, seperti di bawah ini:

“Permisi, mau nanya dong. Akun saya gak bisa dibuka. Kenapa ya padahal email dan password masih yang lama? Apa karena gara-gars saya re-start handphone?”

“Saya sudah berkali-kali mencoba login, tapi malah jadi akun baru dan tanpa artikel satu pun”.

Apakah ada yang pernah mengalami seperti ini? Bagaimana mengatasinya? Terima kasih.

Klik link ini : Tulisan terkait: PENGALAMAN SEBAGAI KOMPASIANER: Dari Pesta Blogger Hingga Ke Kompasiana

Salam : Nur Terbit

* Tulisan blog ke-56) edisi Minggu 11 Oktober 2026, untuk diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan RI, digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com,

By nurterbit

Nama lengkap Nur Aliem Halvaima (NAH), nama pena Nur Terbit, Jurnalis, Lawyer, Blogger, YouTuber, Vlogger dan selama 34 tahun (1980-2014) mengabdi sebagai wartawan dan editor Harian Terbit versi cetak serta Admin Harian Terbit Online (Pos Kota Grup). Selanjutnya mencoba mengelola media cetak dan online sendiri hingga sekarang. Saat ini sudah menyelesaikan amanah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Timur periode 2009-2012, 2012-2015. Selanjutnya mengemban amanah yang baru sebagai Pengurus PWI Jaya dengan posisi Koordinator Wartawan Bidang Multimedia. Kegiatan sehari-hari juga diisi dengan kesibukan sebagai pengurus yayasan pengelola sekolah TK & PAUD di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pendidikan terakhir Magister Hukum (S2) Program Studi Hukum Bisnis, Universitas Islam Jakarta (UIJ) 2015 dengan tesis tentang "Pola Pengupahan Untuk Kesejahteraan Wartawan Media di Provinsi DKI Jakarta".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Toggle Dark Mode