Teks gambar : Dua gadis Bugis Makassar dalam pakaian adat siap menari tarian daerah (foto dok : Nur Terbit)
Beberapa tulisan saya sebelumnya di blog pribadi https://nurterbit.com ini terkait “Uang Panai”, Alhamdulillah sempat mendapat respon positif dari pembaca sehingga memunculkan diskusi hangat.
Bagi yang belum paham atau belum baca tulisan saya sebelumnya, saya mencoba menjelaskan kembali apa itu Uang Panai atau “Doe’ Panai” (dalam bahasa Makassar) atau _Doe’ Paenre” (dalam bahasa Bugis) yakni sejumlah uang yang diberikan kepada calon mempelai wanita.
Uang tersebut dimaksudkan untuk keperluan pesta pernikahan dan belanja pernikahan lainnya. Dengan demikian, uang panai tidak termasu mahar.
Uang Panai termasuk uang adat yang terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak atau keluarga.
Video perkawinan adat Makassar Sulsel – Sumber video : Channel YouTube @NURTERBIT 👇
RESPON PEMBACA UANG PANAI
Berikut ini hasil diskusi dengan pembaca blog saya, merespon terkait Uang Panai yang saya tulis sebelumnya.
Cucukake :
Perawan atau tidak, mempengaruhi harga Uang Panai gak om ?
Nurterbit :
Jelas mempengaruhi, dalam beberapa tulisan saya memang fokus pada calon pengantin wanita yang masih gadis.
Awan :
Waaah banyak juga rangkaian acara pra-nikahnya ya Bang Nur, hmmm maharnya bisa sampai ratusan dan miliaran ya Bang, mahalnya hiks.
Nurterbit :
Betul, itu jika semua proses dilaksanakan. Pengalaman saat mengawinin anak pertama saya di Jakarta, rangkaian prosesi adat tersebut saya padatkan.
Yang harus seminggu saya persingkat jadi 2 hari, meski tentu saja protes keras muncul dari keluarga yang sengaja datang dari Makassar. Kalau gak begitu, bisa mabuk saya hehe..
Frutablen:
Baru tahu kalau di Makassar ada Uang Panai, tradisinya unik juga ya?
Nurterbit :
Iya, negeri kita ini kaya akan berbagai budaya, seluruh daerah di Nusantara menyimpan tradisi unik, Uang Panai di Makassar termasuk di antaranya…
Irly :
Saya dari Kendari, Sulawesi Tenggara membaca artikel ini karena penasaran mengapa selama ini Uang Panai mahal, jadi semata-mata perhitungannya hanya dari status sosial si perempuan sajakah?
Yang saya pahami selama ini (mohon diluruskan), selain faktor status sosial si perempuan, juga karena yang menanggung biaya hampir seluruh biaya pesta itu adalah pihak laki-laki.
Berbeda dengan suku lain yang saya tahu, kebanyakan biaya pesta akan ditanggung bersama oleh pihak laki-laki dan perempuan (walaupun persentasenya akan lebih besar laki-laki).
Kebetulan saya nonton filmnya “Uang Panai”, kaget juga dengan jumlah Uang Panai yang diminta. Lebih kaget lagi di atas ada kata milyaran.
(Sebuah film komedi situasi berjudul sama, “Uang Panai”. Di poster filmnya tertulis: Uang Panai Maha (R) L, di mana huruf “R” pada kata “mahar” disisipin huruf “L”. Dari “mahar” menjadi “mahal”. Sebuah fenomena sosial yang diangkat ke layar lebar).
Oh ya, sebelumnya banyak beredar meme tentang Uang Panai ini dan saya pikir perhitungan status sosial itu hanya candaan yang dilebih-lebihkan. Ternyata benar-benar dihitung dari status sosial ya?
Wah.. saya dekat dengan Kota Makassar tapi pengetahuan saya ternyata masih jauh. Semoga pesan dari film Uang Panai bisa diterima dengan baik oleh penonton…
Nurterbit :
Sebenarnya, Uang Panai itu bukan mahar tapi uang belanja untuk pesta nikah di pihak mempelai wanita. Mahar tetap ada sesuai syariat Islam.
Soal status saya kira, itu soal gengsi. Bagaimana mungkin kalau calon mempelai wanitanya sarjana, punya kedudukan di pemerintahan atau di masyarakat, tidak mungkin hanya mengundang masyarakat biasa.
Tentu relasi mereka juga diundang sehingga pesta nikah tidak sesederhana Uang Panai yang juga nilainya “sederhana” hehehe…
(Status pekerjaan perempuan seperti Pegawai Negeri Sipil/PNS, pengusaha, atau profesi profesional, ikut mendongkrak nominal).
Di kesempatan lain, Irly kembali menyampaikan tanggapan. Tapi kali ini membahasa film Uang Panai yang baru ditontonnya.
Nurterbit :
Iya Irly, namanya juga film hahahaha…. Tapi di kalangan orang Bugis-Makassar besarnya Uang Panai sampai miliaran seperti di film, mungkin karena pihak wanitanya dari keluarga orang kaya, bangsawan.
Memang umumnya biaya pesta ditanggung oleh pihak wanita, karena itu Uang Panai berbeda dengan mahar.
Mugniar :
Orang daerah lain suka takut duluan atau memandang aneh (mencibir?) adat ini. Kalau di zaman ini sebenarnya sudah lebih kompromis dan demokratis, sih menurut saya, Daeng. Sudah tidak se-saklek dulu. Namun yaaa masih ada juga yang saklek.
Nurterbit :
Betul, tetap ada solusi. Ibaratnya, “banyak jalan menuju Roma” hehehe…
Sekarang lebih kompromis dan demokratis Mbak Mugniar, hanya sebagian kecil yang masih menganut tradisi ini, termasuk keluarga besar saya di Makassar hehehe…
Satriabajahitam.com :
Kalau kasusnya si pihak perempuan yang ingin menikahi laki-laki, apa tetap si laki-laki yang harus bayar Uang Panai? Atau dimurahkan? hehehe…
Nurterbit :
Sepanjang menggunakan aturan adat Makassar, ya laki-lakinya tetap yang berkewajiban membawa Uang Panai. Adapun nanti kalau ternyata sumber uangnya dari pihak wanita, bisa dikompromikan melalui musyawarah internal keluarga….
Almond :
Apa karena Uang Panai ini banyak laki-laki asal Makassar yang menikahi wanita dari daerah lain ya? Hmm..
Nurterbit :
Mungkin perlu penelitian biar bisa diambil kesimpulan. Istri saya sendiri masih satu suku, bahkan masih ada hubungan keluarga dekat hehehehe….
Almond :
Sepertinya menarik juga untuk membahas uang mahar dari daerah-daerah lain di Indonesia. Apakah konsepnya sama atau tidak. Hehe..
Nurterbit :
Menarik kayaknya usul mas Almond membahas uang mahar dari daerah lain di Indonesia, boleh juga tuh kalau ada bahan literaturnya hehe….
Winda Coffee :
Mas, saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya di kalangan masyarakat jika ada lelaki yang nekat menikahi wanita tanpa Uang Panai?
Apakah tetap sah hukum pernikahannya? Atau terhitung zinah?
Nurterbit :
Uang Panai, dalam sudut pandang ekonomi dan sosial, menurut saya itu kan bantuan pembiayaan untuk pesta nikah dari pihak calon penganten pria ke keluarga penganten wanita.
Jadi kalau ada pria yang nekat mengawini wanita tanpa Uang Panai, itu gimana ya, mau kawin/nikah gratis?
Ya saran saya, ikut nikah massal saja yang gratis, jangan melamar gadis pakai adat Bugis Makassar yang pakai Uang Panai hahahaha….
Angga :
Kak…mau tanya, bila seandainya calon saya sudah tidak perawan lagi karena dulu dia salah pergaulan, bagaimana cara menentukan Uang Panainya?
Soalnya tahun 2018 saya akan menikahi wanita itu. Saya terima apa adanya kondisi fisik wanita itu. Terima kasih.
Nurterbit :
Tradisi Uang Panai itu tidak ada kaitannya apakah calon istri perawan atau tidak perawan. Uang Panai seperti yang sudah dijelaskan di atas, merupakan bantuan pembiayaan pelaksanaan perkawinan dari pihak calon penganten pria kepada keluarga pihak calon pengantin wanita.
Tenri Awaru :
Izin ambil gambarnya untuk keperluan tugas kuliah.
Nurterbit :
Silahkan ambil gambarnya asal tetap disebut sumber fotonya: Dokumentasi Nur Terbit.
Demikianlah sekilas tentang Uang Panai, cerita ringan sebagai oleh-oleh dari Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Semoga bermanfaat.
Tulisan terkait Uang Panai 👇
1. https://nurterbit.com/2026/10/kenapa-takut-uang-panai-etnis-bugis-makassar/
2. https://nurterbit.com/2026/10/melamar-gadis-bugis-makassar-begini-loh-caranya/
3. https://nurterbit.com/2026/10/kenapa-takut-uang-panai-etnis-bugis-makassar/
4. https://nurterbit.com/2016/09/uang-panai-di-makassar-kenapa-mahal/
Salam : Nur Terbit
* Tulisan blog ke-55 edisi Minggu 11 Oktober 2026 untuk diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan RI, digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com
Video dari cuplikan film Uang Panai 👇

