Hukum Peristiwa

Mengaku Pengusaha, Eh Ternyata Penipu

Written by nurterbit

Teks foto: Profil dan nomor WA yang menghubungi tapi ternyata palsu (foto dok Nur Terbit)

Mengaku Pengusaha, Eh Ternyata Penipu. Berbagai cara penipu mencoba memperdaya calon korbannya. Berhati-hatilah. Pengalaman saya berikut ini, adalah bagaimana trik komplotan penipu mengaku “pengusaha” mencari alat berat yang mau dijual. Ternyata….

Bermula dari seseorang mengirim pesan WhatsApp (WA) kepada saya. Dari foto profilnya, sepertinya wajahnya tidak asing. Ya, dia adalah Udi Sarosa Advokat.

Beliau adalah teman lama saya sesama wartawan era surat kabar, namun kini sudah beralih profesi jadi advokat atau pengacara. Tapi koq nomor WA-nya berbeda dari biasanya?

Apa WA-nya dibajak? Ah mungkin ganti nomor dengan pakai nomor baru, pikir saya.

“Maaf teman2 Facebook (FB)-ku. Sepertinya nomor WhatsApp teman kita Udi Sarosa Advokat dibajak orang. Dia barusan telepon ke saya, minta pinjam uang Rp2 juta”.

“Janjinya besok baru mau dikembalikan dan dilebihkan Rp200 ribu,” tulis saya di status FB.

Mas Udi ini teman saya dulu sesama wartawan di “Harian Terbit” (Pos Kota Grup). Dia banyak meliput berita bidang politik, hukum, kriminal dan perkotaan seperti saya.

Setelah resign sebagai wartawan, kini Mas Udi jadi pengacara, advokat, lawyer.

Sebelumnya, teman saya yang lain, Eko Suprihatno, mantan wartawan Harian Terbit (Pos Kota Grup), sekarang sebagai wartawan “Harian Media Indonesia” (MI) juga dibajak nomor WhatsApp-nya.

Mas Eko asli (foto FB)

Mas Eko asli (foto FB)

Si pelaku yang mengaku sebagai Mas Eko, menghubungi saya dan mengajak bergabung, berinvestasi dengan menyertakan modal untuk jual-beli alat-alat berat dengan keuntungan dan komisi ratusan juta rupiah.

Teman-teman semua, hati-hati ya. Sepertinya kejadian yang pernah dialami Udi Sarosa Advokat, kini terulang lagi. Kali ini nomor telepon WA sahabat saya Mas Eko Suprihatno.

Bekas wartawan Harian Media Indonesia (dulu wartawan olah raga Harian Terbit – Pos Kota Grup sama-sama saya satu tim) ini, kelihatan nomor Handphone/Whats App-nya dihack (dibajak) orang tidak bertanggung jawab dan dipakai untuk menipu.

Baru saya ingat. Dalam beberapa hari ini, orang yang mengaku Eko Suprihatno dengan menggunakan nomor WhatsApp + 62 815-1162-7376 pelan-pelan mencoba membujuk saya untuk berinvestasi sebagai mitra bisnisnya.

Dia mengaku sebagai Mas Eko Suprihatno, pakai foto profil Mas Eko, awalnya menghubungi saya melalui massenger Facebook (FB) lalu meminta nomor WhatsApp saya.

Oke…oke. Begitu saya jawab pesan massengger via akun FB-nya.

Wah ada job lagi nih dari “Adi Bing Slamet” — begitu kami di kantor menyapanya karena wajah Mas Eko seperti kembaran dari anak mendiang pelawak legend Bing Slamet itu.

Melalui nomor WhatsApp saya itulah, awalnya Mas Eko “palsu” ini menawari saya peluang bisnis dengan komisi ratusan juta rupiah.

Dalam pengakuannya, ada teman dia pengusaha yang sedang mencari dan mau membeli alat-alat berat. Dia minta ke saya untuk mencarikannya (seperti foto alat berat terlampir).

Alat berat yang ditawarkan mau dibeli oleh pengusaha palsu itu (foto dok Nur Terbit)

Alat berat yang ditawarkan mau dibeli oleh pengusaha palsu itu (foto dok Nur Terbit)

Saya awalnya, hanya sekedar mau membantu saja Mas Eko mencarikan siapa orang yang kira-kira mau “menjual” alat-alat berat.

Ada teman istri saya. Tapi dia dan suaminya hanya menyewakan, bukan menjual alat berat.

Namanya juga teman, saya sekarang sudah waktunya untuk giliran saya balik mau membantu dia, mengingat selama ini Mas Eko juga sering membantu saya setelah sudah sama-sama pensiun jadi wartawan media cetak: surat kabar.

Misalnya, Mas Eko sering ngajak saya menjadi narasumber di pelatihan menulis untuk pelajar dan mahasiswa.

Atau pelatihan kehumasan, teknik membuat press release (siaran pers) dengan peserta pelatihan dari unsur pegawai Humas di berbagai instansi pemerintah. Mas Eko memang jagonya.

Saya hanya narasumber pendamping. Mas Eko adalah narasumber utama. Tugas saya bagaimana mengajak peserta pelatihan ber-medsos melalui handphone, dan hasil postingannya di medsos bisa mendatangkan rupiah. Itu saja.

Tentu setelah selesai pelatihan, honor pendamping bedalah jumlahnya dari pada honor untuk narasumber utama hehehe…..

VIDEO MENANGKAP PENIPU CARA AKBAR FAISAL – Sumber video YouTube channel @ NURTERBIT 👇

TRIK DAN MODUS PENIPUAN

Kembali ke kasus penipuan. Di tengah saya mencari alat berat yang mau dijual, Mas Eko palsu berkali-kali menelpon. Kali ini dia mengaku sudah dapat 1 (satu) unit alat berat merk Komatsu, tapi dia sendiri segan memasang harga ke temannya yang mau beli.

Nama temannya itu KOH HARTANTO dengan nomor WhatsApp +62 813-7945-335. Di sinilah saya diminta pura-pura bertindak sebagai pemilik yang akan menjual alat berat itu (bukti percakapan saya dengan dia via WhatsApp terlampir).

“Pasang harga saja Pak Nur, seolah bapak yang punya alat berat yang mau dijual”.

“Teman yang mau beli sudah setuju dengan barangnya, tinggal harga yang belum dibicarakan”.

“Pak Nur-lah nanti yang nego, tapi tolong harganya dimark-up ya,” kata Mas Eko gadungan ini via telepon, juga penawaran harga melalui pesan WhatsApp ke saya.

Mas Eko “si penipu” ini tidak lupa mengiming-iming saya.

“Kalau nanti sudah jadi transaksinya, kita bisa dapat ratusan juta rupiah Pak Nur. Langsung di transfer ke rekening Pak Nur, nanti kita bagi dua komisinya”.

“Biarlah saya yang atur transaksinya. Pak Nur sebagai penjual saja, pokoknya beres deh..,” rayunya.

Brengsek juga ini kawan, pikir saya. Tau aja kalau orang lagi boke’ lalu ditawari uang hehehe…

5 ANGGOTA KOMPLOTAN 

Untuk meyakinkan kalau “bisnis tipu-tipunya ini tidak dicurigai, maka dibuatlah seolah-olah ada 5 (lima) pihak yang akan terlibat aktif dalam hal bertransaksi jual-beli alat berat ini, masing-masing berperan sebagai:

1. Mas Eko “palsu” (EKO SUPRIHATNO sebagai pencari barang (alat berat).

2. KOH HARTANTO sebagai pihak pembeli, nomor WhatsApp +62 813-7945-335.

3. Saya Nur Terbit sebagai “penjual”,

4. HERU PAMBUDI sebagai pemegang dokumen alat berat menggunakan nomor WA +62 851-8467-6500.

5. AMIN dan MELI, suami-istri yang mengaku adik pembeli (KOH HARTANTO) yang diutus datang mau mengambil alat berat tersebut.

Melihat rapihnya pengaturan setiap pemeran ini, saya mulai curiga. Koq bisa serapih ini kerja “Mas Eko” yang dulu wartawan olahraga itu?

Kalau untuk jadi narasumber di pelatihan menulis untuk pelajar, mahasiswa dan pelatihan kehumasan sih, gak diragukan lagi. Dialah pakarnya. Ciieh..

Tapi koq ujung-ujungnya sudah mulai minta duit? Wah ini sudah masuk “jurus pamungkas” nih.

Katanya, dia sudah transfer uang ke rekening sebagai panjar ke pemilik alat berat (sebelumnya saya yang diminta mengaku penjual), tapi masih kurang puluhan juta rupiah lagi.

Mas Eko palsu mengaku, dari pemilik yang mau menjual alat berat tersebut, dia minta dipasarkan Rp450 juta per unit. Tapi oleh Mas Eko palsu di-“mark up” jadi Rp620 juta per unit

“Pak Nur usahakan tawarkan harga Rp470 juta. Mau di-mark-up lagi berapa pun terserah”.

“Pokoknya jangan sampai turun harga dari penjual alat berat yang semula hanya seharga Rp450 juta per unit,” pesannya.

Ternyata KOH HARTANTO sebagai “pembeli”, menawar ke saya sebagai “penjual” dengan sedikit lebih tinggi.

Dari semula harga Rp620 juta ber unit, dia tawar Rp580 juta. Bahkan dia berani naikkan lagi menjadi Rp590 juta per unit.

Kata Mas Eko palsu, “deal” saja Pak Nur, bilang ke KOH HARTANTO kalau kita sepakat dengan harga Rp590 juta. Itu artinya sudah ada untung lumayan banyak sebesar Rp140 juta.

“Nanti kalau sudah ditransfer ke rekening Pak Nur, kita bagi dua saja Rp140 juta itu. Masing-masing kita kebagian Rp70 juta,” bujuk dia. Wow.

MINTA MODAL RP30 JUTA

Selanjutnya seharian itu, habis waktu saya mengurusi transaksi jual-beli alat berat ini.

Silih berganti KOH HARTANTO (pembeli), HERU PAMBUDI (pemegang surat), MAS EKO (perantara/makelar), menelpon dan mengirim pesan WhatsApp.

Dalam salah satu pesan WhatsApp kemudian disusul dengan telepon, Mas Eko palsu mengirim 2 (dua) bukti transfer kepada saya untuk meyakinkan bahwa dia sudah tebus surat/dokumen alat berat tersebut dari HERU PAMBUDI (pemegang surat).

Transfer pertama Kamis 30 Juli 2026 pukul 18:16:08 WIB melalui rekening BRI milik EKO SUPRIHATNO (Mas Eko palsu) sebesar Rp250.002.500 ke rekening Bank Mandiri atas nama T. BOBBI BARCHIA.

Disusul transfer kedua, masih melalui rekening BRI milik EKO SUPRIHATNO (Mas Eko palsu) di jam yang sedikit berbeda tapi masih di hari yang sama sebesar IDR 170.000.000,00, juga kepada rekening Bank Mandiri atas nama T. BOBBI BARCHIA.

Bukti seolah sudah transfer (foto dok Nur Terbit)

Bukti seolah sudah transfer (foto dok Nur Terbit)

Nah, di sinilah terjadi kendala yang diakui oleh Mas Eko palsu bisa menghambat transaksi alat berat tersebut.

Kata dia, diucapkan berulang-ulang melalui komunikasi WA, uang yang dia harus ditransfer ke rekening Bank Mandiri atas nama T. BOBBI BARCHIA jumlahnya masih kurang.

Lalu sayalah yang harus menalangi uang kekurangannya untuk sementara. Bukan uang sedikit.

Lumayan masih kurang Rp30 jutaan (terlampir bukti transfer yang saya duga juga palsu).

“Talangin dulu deh Pak Nur yang Rp30 jutaan itu. Kalau tidak punya saldo di rekening Pak Nur, coba pinjam dulu ke keluarga, teman, atau siapa kek”.

Rejeki sudah didepan mata nih loh Pak Nur, nanti saya akan kembalikan lagi dalam dua-tiga jam ke depan”.

“Saldo saya sendiri soalnya sudah limit, nanti kita lebihi deh berapa juta untuk pinjaman dari Pak Nur kalau komisi sudah cair,” rayunya.

Kepada Mas Eko “palsu”, saya juga mengaku tidak punya uang tunai sebanyak itu di saldo rekening saya.

Coba saja pikir, dari mana ada uang pemasukan sebesar puluhan juta rupiah bagi seorang pensiunan wartawan seperti saya? 🫢

Meski…ya, maaf sebab selama ini sudah terlanjur saya dikenal di medsos dengan personal branding sebagai Wartawan Bangkotan — tentu wartawan yang punya otak loh ya, bukan seperti tuduhan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. “Lu punya otak nggak sih?”. Atau kata Presiden Prabowo kalau wartawan itu “Londo Ireng” hehehe….

CHAT DAN FOTO PROFIL DIHAPUS

Karena curiga dan yakin ini sudah ada indikasi sebagai upaya percobaan tindak pidana penipuan, saya lalu telepon balik ke Mas Eko “palsu”.

Kali ini bukan chat atau telepon WhatsApp, tapi langsung pakai video call.

Eh dia tidak mau angkat video call saya. Saya tambah curiga. Artinya dia tidak mau kelihatan wajah aslinya dong ya.

Koq tiba-tiba jadi sombong kamu sama saya Mas Eko padahal kita berdua teman lama, pernah satu kantor di media yang sama? hehehe….

Saya coba berulang kali menghubunginya, tapi tetap tidak diangkat video call saya.

Itu juga saya lakukan kepada KOH HARTANTO sebagai pihak “calon pembeli” alat berat dan HERU PAMBUDI sebagai “pemegang dokumen alat berat”. Semuanya pada tiarap hehe….

Wah benar nih, mereka benar-benar sudah ada indikasi dan patut diduga kalau 100 persen mereka adalah komplotan penipu dengan modus menawarkan peluang bisnis, dengan iming-iming komisi ratusan juta rupiah.

Nah, setelah tidak satu pun dari komplotan tersebut mau mengangkat panggilan video call dari saya, saya kemudian mencoba WhatsApp ke semua anggota komplotannya. Pesan saya begini…

“Dasar penipu kalian semua ya? Giliran saya video call kalian semua, kalian tidak mau angkat telepon saya”.

“Tapi gak apa-apa. Saya sudah amankan nomor kalian semua dan segera saya lapor ke Polda”.

“Kalian semua komplotan mafia, semua beranggotan 3 orang. Semua telpon dan what’s app kalian sudah saya serahkan ke polisi. Percuma kalian hapus hehe….”

Mendadak, para anggota komplotan tersebut menghapus foto profil WhatsApp mereka masing-masing yang semula dikirim kepada saya.

Begitu juga pesan WhatsApp yang pernah mereka kirim. Semua dihapus, kecuali yang sudah lebih dahulu saya beri tanda bintang. Aman (bukti percakapan dan telepon via WhatsApp terlampir).

Foto profil WhatsApp yang mereka pasang, memang keren-keren.

Ada foto keluarga pengusaha (KOH HARTANTO), ada foto orang berseragam (maaf) petugas Bea Cukai (HERU PAMBUDI), ada foto “Mas Eko” sedang memberi materi di pelatihan kehumasan.

Saya menduga semuanya itu palsu dan nomor WhatsApp-nya juga mereka ambil dari milikborang yang mereka heck (bajak).

Jadi hati-hati deh kalian semua ya. Semoga tulisan dan pengalaman saya yang sempat jadi “calon” korban penipuan yang gagal ini, bisa bermanfaat.

Setidaknya bisa menghindari adanya calon-calon korban berikutnya. Terima kasih.

Salam : Nur Terbit

Tulisan untuk bagian/hari ke-6 (keenam) Sabtu 22 Agustus 2026 ini, diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan yang digelar Wijayah Kusuma (Omjay) selama sebulan penuh, dari 17 Agustus – 17 September 2026.

Leave a Comment