Budaya

Bercinta Gaya Asmat Papua

SUKU ASMAT (foto Humas Kemensos)
SUKU ASMAT (foto Humas Kemensos)
Written by nurterbit

Asmat tiba-tiba popular. Itu karena salah satu wilayah kabupaten di Papua ini, diberitakan media diserang wabah campak dan gizi buruk.

Sejumlah jiwa melayang, puluhan balita terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit. Badan mereka kurus dan kesehatannya labil. Seperti provinsi lain, Papua juga didiami oleh berbagai etnis atau suku. Salah satunya adalah suku Asmat.

Suku Asmat merupakan suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di daerah yang dulu bernama Irian Barat atau Irian Jaya ini.

Yang membuat suku asmat cukup dikenal, seperti dikutip Wikipedia, adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Bagi penduduk asli suku Asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.

Wilayah Asmat sangat unik. Berada di dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai.

Kini telah menjadi kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7 Kecamatan atau Distrik.Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3000-4000 milimeter/tahun. Setiap hari juga pasang surut laut masuk ke wilayah ini.

Tidak heran, permukaan tanah sangat lembek dan berlumpur. Jalan hanya dibuat dari papan kayu yang ditumpuk di atas tanah yang lembek. Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa lewat jalan ini.Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak terpeleset,terutama saat hujan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri, pernah menggambarkan betapa beratnya medan menuju lokasi, sesaat daerah ini menjadi sasaran campak dan warganya menderita gizi buruk. “Memang medan ke sana sangat-sangat sulit,” kata Jokowi usai berkunjung ke lokasi terjadinya gizi buruk massal itu, beberapa waktu lalu.

KAUM WANITA SUKU ASMAT sedang dilatih senam oleh Puan Maharani, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Menteri Sosial Idrus Marham saat berkunjung ke kampung Asmat, Papua beberapa waktu lalu (foto Humas Kemensos)

KAUM WANITA SUKU ASMAT sedang dilatih senam oleh Puan Maharani, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bersama Menteri Sosial Idrus Marham saat berkunjung ke kampung Asmat, Papua beberapa waktu lalu (foto Humas Kemensos)

Cerita Menyeramkan

Cerita menyeramkan, juga melekat pada suku Asmat. Salah satunya saat membunuh musuhnya. Mayat korban dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan. Belakangan, tradisi ekstrim ini sudah jarang terjadi bahkan hilang resmi dari ingatan.

Suku Asmat tersebar dan mendiami wilayah di sekitar pantai laut Arafuru dan pegunungan Jayawijaya. Praktis hutan belantara. Dalam kehidupan suku Asmat, batu yang biasa kita lihat di jalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin.

“Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya,” seperti dikutip Wikipedia.

Cukup banyak warga yang menghuni di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga. Dilengkapi kamar mandi dan dapur sendiri.

Diperkirakan lebih dari 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia.

Penduduk Asmat pada umumnya memiliki ciri fisik yang khas, berkulit hitam dan berambut keriting. Tubuhnya cukup tinggi. Rata-rata tinggi badan orang Asmat wanita sekitar 162 cm dan tinggi badan laki-laki mencapai 172 cm. Kebiasaan bertahan hidup dan mencari nafkah adalah berburu binatang hutan seperti, ular, kasuari, burung, babi hutan dan lain-lain. Tentu saja masih menggunakan metode yang cukup tradisional dan sederhana. Masakan suku Asmat adalah ulat sagu. Namun sehari-harinya mereka hanya memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan.

Pola Hidup Dan Merias Diri

Satu hal yang patut ditiru dari pola hidup penduduk asli suku Asmat, mereka merasa dirinya adalah bagian dari alam. Mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya. Bahkan, pohon di sekitarnya dianggap menjadi gambaran diri mereka. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka.

Suku Asmat memiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri.

Cukup tanah merah dan kulit kerang, arang kayu dengan dicampur sedikit air. Semua bahan tadi kemudian digunkan untuk mewarnai tubuh.

Suku Asmat adalah suku yang menganut Animisme, sampai dengan masuknya para Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agam nenek-moyang. Kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.

Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat pun, melalui berbagai proses. Misalnya kehamilan, mereka menjaga dengan baik agar calon bayi dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung atau ibu mertua. Demikian juga proses pernikahan, kematian dilakukan sesuai tradisi mereka.

ANAK SUKU ASMAT bersama Puan Maharani, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan disampingi Menteri Sosial Idrus Marham saat berkunjung ke kampung Asmat, Papua beberapa waktu lalu (foto Humas Kemensos)

ANAK SUKU ASMAT bersama Puan Maharani, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan didampingi Menteri Sosial Idrus Marham saat berkunjung ke kampung Asmat, Papua beberapa waktu lalu (foto Humas Kemensos)

Cerita Bercinta Gaya Asmat

Yang lebih unik lagi bagi mereka, yakni dalam hal memenuhi kebutuhan biologisnya. Baik kaum pria maupun wanita, melakukannya di ladang atau kebun, disaat prianya pulang dari berburu dan wanitanya sedang berkerja di ladang.

Dalam kepedulian terhadap sesama mahluk Tuhan, khususnya binatang piaraan, sesekali anak babi juga disusui oleh wanita suku ini hingga berumur 5 tahun.

Masyarakat Asmat memang menempatkan perempuan yang sangat berharga.

Hal ini tersirat dalam berbagai seni ukiran dan pahatan mereka. Namun dalam gegap gempitanya serta kemasyuran pahatan dan ukiran Asmat, tersembunyi suatu realita derita para Ibu dan gadis Asmat yang tak terdengar dari dunia luar.

Derita perempuan Asmat menjadi pelakon tunggal dalam menghidupi suku tersebut. Setiap harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Sementara kegiatan laki-laki Asmat sehari-harinya adalah menikmati makanan yang disediakan istrinya, mengisap tembakau, dan berjudi.

Para istri juga sering menjadi korban luapan kemarahan. Jika mereka kalah judi, maka istri pula yang akan dijadikan objek kekesalan. Itulah derita para kaum perempuan, terutama para gadis Asmat, yang tak terdengar oleh dunia luar (Nur Terbit) 

16 Comments

Tinggalkan Balasan ke Tian lustiana X