Budaya

MUI Ajak Musisi Hidupkan Seni Budaya Islam

Written by nurterbit

Ulama melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, menggandeng musisi untuk ikut mengidupkan kembali seni budaya Islam. Langkah awal dimulai dari “Meeting Forum Musisi dan Ulama”.

Habiburrahman El-Shirazy, Ketua Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan, meeting forum atau forum pertemuan antara musisi dan ulama ini, sebenarnya bukan yang pertama dalam bentuk halaqah serial musik.

Sebelumnya sudah pernah diupayakan pertemuan serupa, meski belum resmi, dengan para artis di era kepengurusan Jimly Asshiddiq.

Lalu kemudian dilanjutkan secara lebih intensif halaqah, karena mengingat ruang budaya itu cakupannya sangat luas. Akhirnya diipilihlah serial musik karena dianggap sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Misalnya, dalam lingkungan keluarga, biasanya para ibu jika ada anak kecil yang menangis atau mau dibawa ke tempat tidur, dinyanyikan oleh ibunya dengan tembang yang bernuansa kasih ibu.

“Tapi itu tergantung ibunya. Kalau asalnya santriwati, ya nyanyiannya shalawatan,” kata Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman El-Shirazy.

Hal tersebut disampaikan Kang Abik Rabu 31 Oktober 2018, di gedung MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, tempat pertemuan yang digelar Komisi Pembinaan Seni Dan Budaya Islam (KSBI) MUI. Acaranya sendiri mengambil tema “Seni Musik Sebagai Bahasa Dakwah Di Era Millenial” ini.

Menurut penulis novel “Ayat-Ayat Cinta” ini, musik sangat universal karena bisa diterima oleh semua kalangan.

Kang Abik di antara peserta pertemuan dari komunitas blogger (foto Nur Terbit)

Kang Abik di antara peserta pertemuan dari komunitas blogger di MUI Pusat d(foto Nur Terbit)

Contoh musisi Dwiki Darmawan yang sudah ikut berbagai festival. Tidak hanya di Indonesia tapi juga luar negeri. Kang Dwiki ikut membawa nama negara Indonesia dan Islam.

“Semoga ke depan, akan ada lagu halaqah dari serial yang lain. Yakni menghidupkan kembali seni budaya Islam, yang dulu sangat dekat dengan memasyarakat dan kini sudah mulai punah,” katanya.

Artinya, ada nuansa kebaikan yang sangat positif bagi umat, sehingga diharapkan bisa mengikis yang bernuansa negatif. “Jadi mari kita ciptakan budaya yang Islami, yang Rabbani,” kata Kang Abik.

KOLABORASI MUSISI-ULAMA

Hal senada disampaikan KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, yang hadir mewakili Ketua Umum MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin. Pak kiai yang menjadi Cawapres pasangan Jokowi ini, berhalangan hadir karena ada tugas lain.

KH Cholil Nafis berharap, budaya Islam di Indonesia perlu terus dikembangkan dengan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai bagian penting terutama karena peranannya di bidang dakwah dan pembinaan umat.

Tugas MUI sekarang ini, bukan ringan tapi bahkan sudah semakin komplek.dan beragam.

Cholil Nafis mengungkapkan, abad ke X Masehi, seorang raja menggelar pertunjukan musik. Saat itu ada seorang tokoh, dan minta izin ke sang raja untuk mainkan alat musik. Hadirin dibuat tertidur pulas. Mereka seperti terhipnotis. Siapa musisi itu? Dialah Abu Nash alias Al-Farabi.

“Seperti diketahui, Al-Farabi belakangan terkenal karena berhasil menciptakan not musik. Lewat tangan Al-Farabi pula, dia menciptakan prinsip filosofi terapi musik,” kata Kiai Cholil.

Erick Yusuf, moderator di acara forum pertemuan musisi dengan ulama MUI ini, memperjelas kembali apa yang disinggung Kiai Cholil soal Al-Farabi. Kata mantan vocalis band ini, Al-Farabilah membuat not musik (do re mi pa sol la si du) menggunakan huruf Hijaiyah.

Diakui atau tidak, musik adalah bahasa jiwa. Dapat dirasakan kelembutannya. Bisa digunakan sebagai media dakwah di era milenial, dimana kini sudah berubah media yang digunakan berdakwah.

Sekarang berdakwah sudah bisa melalui smartphone atau telepon pintar.

Bahkan bisa berdakwah dengan jangkauan lebih luas melalui dunia cyber. Dikemas sedemikian rupa melalui media sosial. Artinya, musik bisa dijadikan sebagai wahana dakwah.

Salah satu contoh yang paling terbaru, yang menjadi favorit sekarang ini di channel Youtube, adalah musik. Terutama di kalangan generasi milenial, yang populer disebut. “generasi zaman now”.

Contoh kelompok musik dakwah “Sabiyan” dengan vokalisnya bernama Anisa. Pada bulan puasa Ramadhan silam, kelompok musik ini bisa mengumpulkan viewer (jumlah penonton) jutaan di internet, dalam dan luar negeri melalui Youtube. Videonya jadi viral di media sosial.

Karena itu, kata Kiai Cholil, kita perlu memikirkan bagaimana musisi berkolaborasi dengan ulama. Bagaimana menciptakan konten musik sebagai penyeimbang. Khususnya untuk menjawab tantangan dakwah di era milenial.

Menurut Cholil Nafis, musik dalam Islam itu universal, bisa bergerak melalui lintas batas.

Nabi Muhammad SAW saat hijerah dari Mekah ke Madinah, menyanyi dalam bentuk syair dengan alunan musik.

Musik dalam bentuk syair yang indah, memberi semangat kepada kaum Muslim, terutama kepada perajurit perang yang tengah berjuang di medan laga.

Jadi harus ada semangat spiritual di dalamnya. Lagu yang diperkenalkan Wali Songo dalam berdakwah, ada lagunya, syairnya, musiknya. Ada rangsangan rasionalitas dari musik yang mereka bawakan

Kelompok marawis, seni musik bernuansa islami turut menghibur peserta pertemuan (foto Nur Terbit)

BERDAKWAH MELALUI MUSIK

Erick Yusuf, mantan vokalis band mengakui, berdakwah melalui musik ini sangat menarik dibahas, karena di Indonesia khususnya, para Wali Songo menyebarkan agama Islam melalui musik gamelan.

Atau, apa yang juga dilakukan budayawan Emha Ainun Najib dengan mengaransemen kembali lagu “Tombo Ati” — belakangan dipopulerkan oleh Opick.

“Sekarang ini, seolah kita sudah menjauh dari musik karena dis-orientasi. Hal ini karena musik luar yang masuk, sudah berubah begitu masuk ke Indonesia,” kata Erick yang humoris ini.

Dwiki Darmawan, musisi yang sudah berpengalaman tampil di berbagai festival, dalam dan luar negeri, mengakui dirinya terlibat di blantika musik Indonesia ini sudah mengalami berbagai fase.

Tercatat sudah 80 negara dia datangi, 100 lebih arena festival diikuti, dimulai sejak dari tahun 1985 hingga sekarang. Lika-liku perjuangan dan perjalanan panjang sudah dilaluinya.

“Semua perjalanan musik ini, menjadi guru bagi saya dalam menempuh karier,” katanya.

Menurut Dwiki, dunia industri musik saat ini seolah milik dan hanya dikuasai oleh kalangan tertentu saja. Dulu era rekaman musik masih menggunakan CD (compact disk), ada kelompok musik yang berhasil dan dianggap mewakili grup musik dunia.

“Sementara kita ini, terutama dunia musik, sudah lama dilecehkan,” katanya.

Mulai sekitar tahun 1990-2000 bermunculan kelompok musik terkenal di Inggris, sementara di Indonesia lahir grup musik Sebiyan. Mereka menggali kekayaan budaya Nusantara. “jadi, budaya kita ini perlu digali”.

Kelompok musik dengan vokalis bernama Annisa ini, seperti diketahui, tampil membawakan lagu bernuansa Islami yang digarap dari budaya Nusantara. Lirik lagunya akrab di kuping masyarakat Muslim negeri ini.

“Karena itu, Saya ingin mengabdikan diri untuk memproduseri musisi Islam dari daerah. Caranya, dengan mengajak mereka bekerja sama menggarap lagu Muslim sambil menggali seni budaya daerah” janji Dwiki.

Musisi yang aktif mengikuti festival musik ini, mengungkapkan pula perkembangan grup musik luar negeri sebagai pembanding. Salah satunya kelompok musik Genesis.

Pieter Gebril, personil Genesis yang belakangan pecah dengan Phill Collins, kata Dwiki, juga mengangkat musik populer negaranya dengan label world music dan dance. Sampai di era sekarang terus berkembang.

Pieter tidak melihat, apakah anggotanya muslim atau bukan — tapi memang lebih banyak dari muslim.

Dwiki juga merasa prihatin melihat perkembangan musik dalam negeri.  Menurutnya, sampai saat ini, masih jarang ada orang Indonesia yang tampil di festival musik dunia membawa musik Islam sambil berdakwah.

“Misal, kalau ada MTQ tingkat internasional yang pernah diikuti Indonesia, baik juga kalau ada festival musik Islam tingkat internasional. Dimana musisi dari Indonesia juga mengambil bagian,” kata Dwiki.

Diharapkan, dengan diendorse oleh MUI, kehebatan musik Indonesia bisa eksis di dalam dan bahkan di luar negeri. Tampil tidak selalu di Jakarta, tapi juga misalnya di Raja Ampat, Papua atau di Bengkulu, dan lain-lain.

Hal ini bisa dimaklumi, sebab musisi daerah belum tahu bagaimana cara memproduksi musik yang sudah bagus ini menjadi baik. Mulai dari sisi penampilan, teknis, performa dan lain sebagainya.

Selain narasumber yang sudah disebutkan di atas, ikut memberi pencerahan KH Shodiqun, Ketua Bidang Seni Budaya, KH Zainut Tauhid Wakil Ketua Umum MUI, Asrarun Ni’am Sholeh Sekertaris Komisi Fatwa.

Menurut KH Shodiqun, musik dalam paradigma selama ini adalah universal dan “telanjang”, tinggal bagaimana kita membingkainya dengan napas kemanusiaan.

Agus Snada, menyanyikan lagu nasyid di acara pertemuan ini (foto Nur Terbit)

Agus Snada, menyanyikan lagu nasyid di acara pertemuan ini (foto Nur Terbit)

Sementara untuk selingan hiburan, di acara ini juga tampil kelompok marawis dan nasyid. Salah satunya, Agus Snada, vokalis dari grup nasyid yang cukup populer di jamannya.

Sungguh, pencerahan dan hiburan musik bernuansa islami ini sangat saya nikmati sebagai peserta pertemuan dari unsur blogger. Oh ya, saya hadir difasilitasi oleh komunitas Tau Dari Blogger (TDB) Koordinator Muhammad Sobari. Syukron ya mas Sob. Salam blogger (Nur Terbit) —

Komunitas blogger sebagai peserta pertemuan, foto bersama usai acara (foto dok Nur Terbit)

6 Comments

Leave a Comment