Sosok

Becce, Mantan Juru Masak Keluarga Jusuf Kalla

Nenek Becce (foto : Humas Kemensos)
Nenek Becce (foto : Humas Kemensos)
Written by nurterbit

Entah mimpi apa Sanro Becce malam harinya. Tiba-tiba Sabtu awal April 2018 silam, gubuk tua miliknya didatangi tamu istimewa: Menteri Sosial Idrus Marham.

Wanita lansia yang hidup sebatang kara ini, tak henti bersyukur. Doanya terkabul. Ada pejabat pemerintah, menteri pula, akhirnya datang ke gubuknya di komplek pekuburan Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Becce terus berdoa. Nenek berumur 113 tahun ini berharap suatu hari kelak bisa bertemu lurah, camat, atau bupati di wilayah tempat tinggalnya. Dia akan memberanikan diri mempertanyakan alasan kenapa namanya dicabut dari penerima bantuan sosial. Tak disangka tak dinyana, dia malah bertemu menteri. Atasan langsung dari semua pejabat yang pernah ingin ditemuinya.

Hari itu Sabtu 7 April 2018,  pucuk dicinta ulam tiba. Menteri Sosial Idrus Marham datang mengunjungi rumah Nenek Becce. Lokasinya tidak jauh dari kawasan pekuburan di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Macorawalie, Kecamatan Walang Sawito, Kabupaten Pinrang.

Maksud kunjungan tersebut untuk menyerahkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dengan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) sebagai tanda bahwa Nenek Becce berhak mendapatkan bantuan sosial PKH Lansia.

“Nenek Becce adalah salah satu contoh dari keluarga yang sebetulnya berhak untuk mendapatkan bantuan PKH Lansia, namun karena datanya belum masuk PBDT jadi ga bisa dapat bantuan,” ujar Mensos.

Menurut Mensos, selama ini melalui informasi yang sampai ke telinga Idrus Marham, Nenek Becce belum pernah menerima PKH sebagai bantuan langsung.

“Baru hari ini diserahkan kartu PKH (KKS) yang sudah langsung berfungsi. Seperti diketahui bahwa dalam kartu itu ada uangnya sebesar dua juta rupiah. Setiap tahap cair lima ratus ribu rupiah,” tegas Mensos.

MANTAN JURU MASAK JUSUF KALLA

Nenek Becce, mantan juru masak di perusahaan mobil Hadji Kalla Cabang Pinrang, milik keluarga Wakil Presiden Jusuf  Kalla, sudah sejak lama menyimpan keinginan akan mempertanyakan alasan namanya dicabut dari penerima bantuan sosial.

“Sudah lama mi kasihan mau menanyakan nasib saya tapi belum pi ketemu dengan pejabat. Saya hanya bisa melihat orang lain datang menerima bantuan, karena katanya nama saya sudah tidak terdaftar,” kata Sanro Becce, menyeka air matanya dengan tepi sarungnya yang lusuh.

Tetangga Becce, Baba, membenarkan bahwa nama Nenek Becce tidak lagi terdaftar sebagai penerima bantuan sosial. “Memang, Pak, seperti warga lainnya, namanya dihapus sebagai penerima karena diangap masih mampu,” ucap Baba.

Menurut Baba, di dusunnya terdapat 80 lebih warga penerima bantuan sosial yang dihapus, termasuk Nenek Becce.

“Itu mi anak. Saya ini kasihan sudah tua begini, sudah tak bisa bekerja. Hanya berharap uluran tangan orang, tiba-tiba nama saya dicabut. Katanya tidak berhak menerima karena mampu ji katanya,” ucapnya.

Sandro Becce tak habis pikir, apa alasan pemerintah mencabut namanya dari daftar penerima PKH. Ia mengaku tambah sedih ketika ia tahu bahwa banyak warga lain penerima manfaat sosial yang disalurkan pemerintah status sosial dan ekonominya jauh lebih mapan daripada dirinya.

“Usapu-sapu kasi dadaku Nak, ko uwitai to sogie mattrima, napa najjai alena to kasiasi, mega galunna. Nappa iyya kasi aga waramparakku, matoa tona, lemmuna nyawana pamarentah,” katanya dalam bahasa Bugis.

Yang artinya:

“Saya usap-usap dada saja, Nak, banyak orang kaya yang saya kenal menerima dan pura-pura miskin. Sawahnya luas. Sementara saya miskin papa tidak punya harta apa pun, saya sudah tua renta, sudah tak mampu bekerja, tetapi tega-teganya pemerintah menghapus nama saya sebagai penerima”.

Anak perempuannya  telah bersuami dan dikaruniahi delapan anak. Mereka tinggal di Pinrang, tetapi kondisi kehidupan perekonomiannya juga tak lebih sama dengan Nenek Becce. Praktis, Nenek Becce tak bisa berharap banyak dari anak-anaknya. Karena alasan itulah Becce mengaku lebih senang tinggal di gubuk tuanya seorang diri.

Sebelum tinggal di lahan perkuburan itu, bersama suaminya Nenek menempati  lahan milik orang lain di Jalan Andi Pawelloi, Pinrang. Lokasinya tidak jauh dari area pekuburan yang ditinggalinya sekarang. Becce dan suaminya terpaksa pindah karena pemilik tanah tersebut menjual lahan yang ditempatinya.

Gubuk tua berukuran 4 meter kali 3 meter itu, dibangun almarhum suaminya dari tumpukan barang-barang bekas, seperti kayu dan seng bekas. Tak terlihat ada perabotan istimewa di dalamnya. Hanya ada kelambu lusuh dan rosban tua dari papan kayu yang menjadi tempat tidurnya. Juga terlihat ada ember, beberapa piring, dan baskom tua yang berserakkan di sekitar tungku dapurnya.

Di atas rosban tempat tidurnya, tergantung sebuh radio tua yang juga sudah tak berfungsi karena baterainya soak.

Becce kerap mendapat bantuan sumbangan ala kadarnya, kadang Rp 5.000 atau Rp 20.000 dari para peziarah kubur yang datang. Becce biasanya baru banyak mendapat sumbangan pada hari Lebaran saat warga ramai-ramai berziarah ke makam keluarganya.

Nenek sebenarnya memiliki lima anak. Tiga di antaranya telah meningal dunia. Satu anaknya kini berkebun di Topoyo, Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Tinggallah ia sebatang kara, di pekuburan pula, di Pinrang, Sulawesi Selatan. Suaminya, Judda, sudah lama meninggal. Atap gubuk tuanya sudah bocor dan kehujanan. Sudut atap bagian belakang, bahkan sudah ambruk dan tak terurus lagi sejak suaminya meninggal.

Nenek Becce dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan saat dikunjungi Menteri Sosial Idrus Marham (foto : Humas Kemensos)

Nenek Becce dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan saat dikunjungi Menteri Sosial Idrus Marham (foto : Humas Kemensos)

Judda, suami Becce, dulunya bekerja sebagai mandor bangunan. Sementara Becce membantu ekonomi keluarga dengan membantu suami sebagai sandro atau dukun beranak. Praktis jarang tinggal di rumah karena dijemput keluarga pasien yang mau melahirkan. Tak pernah pasang tarif berapa biaya bagi pasien.

Itu sebabnya, namanya diawali dengan kata “Sanro” sesuai profesi yang digelutinya. Sanro berarti dukun, dalam bahasa Bugis. “Sebelum jadi Sanro, saya bekerja sebagai juru masak di perusahaan mobil Hadji Kalla, orang tua Pak Jusuf Kalla. Umur saya baru 30 tahun,” kata Nenek Becce. Upahnya Rp 1000,- per hari. Sempat  bekerja setahun.

“Tetapi, itu dulu, Nak. Sekarang saya sudah tua, sudah tak mampu. Ya, begini saja setiap hari di rumah. Kadang kalau saya bosan, saya bersihkan rumput sekitar rumah hingga malam hari,” ucap nenek dalam dialek Bugis.

Usai bekerja sebagai juru masak, Becce memilih untuk mengurus rumah tangga dan anaknya yang berjumlah lima orang. “Namun, sisa dua yang masih hidup dan kini tengah sibuk mengurus keluarganya masing-masing. Hanya sesekali mereka datang melihat keadaan saya,” kata Becce.

Di tengah keadaan yang serba kekurangan, Becce hanya bisa berharap belas kasih orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Becce mengaku memenuhi kebutuhannya tanpa dengan cara meminta-minta.

“Setiap hari saya hanya keliling kota Pinrang. Di situ pula saya sering mendapat rezeki yang tak terduga, tanpa harus meminta-minta. Makan sekali dalam sehari saja itu, saya sudah sangat bersyukur,” tambahnya.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat mengakui, penyaluran bansos sering terkendala saat penyalurannya.

“Tidak bisa dihindari akan selalu ada yang tidak berhak tetapi menerima bantuan, dan ada yang seharusnya berhak tetapi tidak menerima bantuan,” kata Harry Hikmat, yang ikut menyertai kunjungan Mensos ke Pinrang.

Alasannya, jika ada yang tidak berhak tetapi menerima, itu terjadi karena orang yang tidak berhak menerima manfaat tapi justeru masuk database sebagai penerima manfaat.

“Sedangkan sebaliknya, jika ada yang seharusnya berhak tetapi tidak menerima, hal itu bisa terjadi karena orang yang berhak menerima manfaat tidak masuk di database sebagai penerima manfaat,” kata Harry.

Karena itu, kata Harry, jika ada informasi adanya kesalahan penerima manfaat, pihak Kemensos akan segera menindaklanjuti di lapangan, “Kemensos mempunyai pendamping yang berkedudukan sampai di tingkat kecamatan. Sehingga akan mudah untuk mengecek kebenaran informasi tersebut,” jelas Harry.

Kisah Nenek Becce yang hidup sebatang kara ini, pertama kali diketahui melalui tulisan di salah satu media online.

Kementerian Sosial langsung menggerakkan pendamping PKH untuk mengecek kondisi nenek seperti diberitakan. Dari hasil penelusuran di lapangan ditemukan fakta bahwa Nenek Becce memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan sosial.

“Terima kasih kepada yang sudah menulis. Memang begitu cara kita di Kementerian Sosial. Saat ini kita tidak banyak diskusi, pokoknya disamping menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam masyarakat, spontan kita datangi begitu ada masalah di masyarakat,” papar Mensos Idrus Marham.

Masih menurut Mensos, begitu ada masalah, “kita jangan diskusikan, kita langsung lihat. Kalau bisa kita selesaikan, kita selesaikan. Kalau perlu dirapatkan kita rapatkan”. (Nur Terbit)

15 Comments

Leave a Comment