Reportase

Trik dan Tips Menulis Catatan Perjalanan (3)

Written by nurterbit

Setelah dua tulisan sebelumnya mengulas trik memilih obyek wisata, kali ini mencoba menawarkan tips bagaimana cara aman meliput dan mengambil gambar untuk upacara adat.

Sebab ternyata ada upacara adat yang terkadang kita tidak boleh memotret. 

Ki Demang, blogger yang jadi peserta di pelatihan ini, sempat berbagi pengalaman. Sebagai travel writer, dia pernah meliput acara budaya dan upacara adat di Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk sebuah majalah traveling. Dan, bermasalah…..

Kepada penulis catatan perjalanan cukup berpengalaman, Teguh Sudarisman, Ki Demang menanyakan apakah ada tips bagaimana cara aman meliput dan mengambil gambar untuk upacara adat?

TRAVEL WRITER sukses, Teguh Sudarisman (dok)

TRAVEL WRITER sukses, Teguh Sudarisman (foto dok menikmatiindonesia.com)

Kenapa ini ditanyakan, karena menurut Ki Demang ada acara seperti ini dimana pengunjung dilarang meliput.

“Ada komunitas yang menyelenggarakan upacara adat, dimana kita tidak bisa memotret. Pertanyaan saya, bisa gak sih hasil liputan kita di upacara adat tersebut tetap diterbitkan meskipun sudah dilarang?,” tanya Ki Demang.

Menurut Teguh, ya gak usah dipublikasikan hasil liputan upacara adat itu. Takut disantet?hahahaha…..Disantet sih gak, tapi biasanya dimintai kompensasi, yakni uang ganti rugi.

Data yang saya (penulis) peroleh dari Dewan Pers saat ikut sebagai peserta pelatihan tenaga pemantau media (training media watch) kerja bareng PWI Jaya, membuktikan akan perlunya izin dari ketua adat atau pihak penyelenggara upacara adat. Apalagi kalau itu menyangkut prosesi ibadah.

Dari sekian banyak pengaduan yang masuk ke Dewan Pers terkait liputan media, di antaranya adalah soal prosesi ibadah. Dari pengaduan tersebut, terbanyak protes datang dari komunitas pemuda sebuah penganut agama tertentu.

TRAVELING GRATIS, AMAN, DAN MURAH-MERIAH

Lalu apa bekal kita jika akan melakukan perjalanan wisata? Ada gak trik agar perjalanan murah-meriah atau bahkan gratis? Itu pertanyaan saya (penulis) ke Teguh Sudarsiman.

Contohnya, pengalaman penulis waktu berkunjung ke obyek wisata Tebing Kraton, di Bandung. Kebetulan ada teman blogger, Fx Muchtar, yang punya pesantren yang letaknya satu arah menuju Tebing Kraton.

Kami menginap di pesantren si kawan tadi, tentu saja dengan gratis, lalu Subuh dinihari baru kami berjalan kaki ke lokasi. Naik ke bukit dengan medan yang cukup berat. Napas sudah pasti “ngos-ngosan”.

Menurut Teguh, untuk bisa naik gunung mesti latihan dulu. Minimal, latihan naik-turun jembatan penyeberangan, naik tangga, gak mesti yang tinggi-tinggi. Kendalanya, sebagian orang kadang-kadang tidak punya waktu untuk latihan.

Melakukan perjalanan seperti ini, kalau tiba di rumah biasanya saya menuliskannya untul blog (dok Nur Terbit)

Melakukan perjalanan seperti ini, kalau tiba di rumah biasanya saya menuliskannya untuk blog (dok Nur Terbit)

Blogger dari Bekasi, Bunda Sitti Rabiah, juga angkat bicara pada pelatihan menulis catatan perjalanan ini.

“Materinya Pak Teguh sangat bagus, secara pribadi saya tertarik. Bapak sudah menjelajah ke seluruh Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Saya ingin tahu, apa yang dibutuhkan dan harus dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan wisata?”.

KERJA SAMA DENGAN PEMDA?

Lain lagi pengalaman blogger Ali Label, penulis novel digital dengan latarbelakang daerah Batam dan Bintang, sekitar Kepulauan Riau.

Temannya punya pengalaman saat mau menulis satu obyek wisata dan berencana mau bekerja sama dengan Pemda setempat. Rupanya, rencana ini gagal karena tidak direspon oleh Pemda.

Teman Ali ini rupanya terinspirasi dari novel karangan Andrea Hirata dengan judul “Laskar Pelangi”. Kalau tidak dibikin novel dan film, kata Ali Label, maka daerah Belitung Provinsi Bangka-Belitung tidak bakal dikenal seperti sekarang ini.

Dari pengalaman “pahit” teman Ali Label ini dan kesuksesan yang diraih Andraea Hirata, maka Teguh Sudarisman menawarkan solusi seperti ini:

Jika itu yang mau ditempuh, katanya, diusahakan agar terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan pihak Pemda setempat, minimal harus kenal Kepala Dinas Pariwisata. Dari sanalah dimulai “merangkai cerita” seperti layaknya menulis catatan perjalanan.

Sebab umumnya kendala yang Pemda hadapi adalah soal anggaran. Selama ini yang ditempuh Teguh adalah lebih banyak usaha sendiri. Kalau tergantung Pemda, selain anggarsn juga bisa terkendala soal royalti jika buku tersebut sudah terbit.

Kalau mau bikin buku, disarankan lebih baik bikin sendiri dan cari iklan, lalu minta support ke Pemda dalam bentuk tiket pesawat. Selebihnya, ya usaha sendiri. Nanti kalau sudah jadi buku, kontak pemda lagi untuk minta disuppor lagi.

Saat menunggu jemputan di bandara, bisa dimanfaatkan untuk menulis draft catatan perjalanan untuk blog (foto: Nur Terbit)

Saat menunggu jemputan di bandara, bisa dimanfaatkan untuk menulis draft catatan perjalanan untuk blog (foto: Nur Terbit)

Terkait dengan topik yang dibahas di atas, teman blogger Sin Hwa, lalu menyindir saya. “Contohlah Mas Nur Terbit ini, beliau sering posting soal Kota Makassar, Sulawesi Selatan soal wisata kuliner dan budayanya, padahal dia gak dibayar. Semata-mata hanya karena hobi traveling dan menuliskannya di blog*Selesai.

(Tunggu tulisan berikutnya. Trik dan Tips Menulis Catatan Perjalanan Ke Luar Negeri Bareng Thrinity)

16 Comments

Tinggalkan Balasan ke Rolif Refo X