Reportase Wisata

Sensasi Arung Jeram Sungai Citatih (5)

Written by nurterbit

Petualangan melalui arung jeram ini, ternyata tidak selamanya berjalan mulus. Terbukti ada perahu karet peserta yang terguling.

Perahu ini memuat Eko (sopir bus yang mengangkut kami Jakarta-Sukabumi PP), Pak Broto (Kementerian Kesra), Singgih (Suara Karya), Kohar (Kementrian Kesra) dan pemandu. Posisi duduk mereka, dua di depan: Eko, Kohar. Dua tengah: Broto, Singgih dan pemandu.

Menurut cerita Pak Broto, insiden ini terjadi begitu cepat saat empat perahu karet saling berkejaran.

Perahu pertama melaju di antara bebatuan dan kisaran arus air sungai. Tiba-tiba perahu kedua menabrak batu, lalu dari arah belakang menyusul perahu ketiga menabrak perahu kedua disusul perahu keempat muncul dari samping, dan tidak bisa terkendalikan hingga terguling.

Semua penumpangnya tumpah ke sungai, lalu perahu menimpah mereka sehingga terkurung di dalam rongga perahu yang sudah dalam posisi terbalik..

“Mulanya saya mau nolongin Mas Singgih, tapi eh dia malah mau mukul saya. Ya saya lepas akhirnya,” kata Pak Broto.

Posisi duduk mereka : dua di depan, yakni Eko, Kohar. Dua di tengah adalah Broto, Singgih dan pemandu.

Heboh di Grup BBM

Singgih sendiri menuturkan, tadinya ia mau mengikuti jalannya arus air Sungai Citatih yang cukup deras dan penuh batu-batu itu, tapi dalam perjalanan perahu karet yang ia tumpangi tergelincir dan terbalik.

“Saat kecelakaan tersebut itulah, ia ditolong oleh perahu karet dari rombongan sekuriti Wisma Nusantara. Alhamdulillah berhasil membalikkan kembali perahu kami. Untungnya, saat Perahu terbalik, masih ada rongga untuk bernapas,” kata Singgih.

Begitu berhasil keluar dari rongga perahu yang terbalik, keempat penumpangnya berusaha “berenang” ke tepi dengan bantuan alat pelampung.

“Saya sendiri begitu keluar dari perahu dan dibantu sama Pakde Heru, eh tapi malah badan saya ditekan jadi kelelep lagi, hehe..,” kata Singgih.

Kejadian ini sempat masuk jadi “berita terheboh” dan tersebar ke BBM grup sesama wartawan bidang Kesra. Singgih akhirnya banyak ditelepon teman-temannya menanyakan keadaan tersebut beberapa jam setelah kejadian. Termasuk telepon dari orang asuransi segala.

Selesai mengikuti kegiatan arung jeram, masing-masing peserta menerima sertifikat dari pengelola sebagai bukti bahwa pernah mengikuti kegiatan arung jeram. Tentu saja, tidak disebutkan di dalam sertifikat kalau di antara kami, ada yang perahunya terbalik dan penumpangnya tumpah ke sungai hahaha….. (Habis)

2 Comments

    • @Mugniar… sebenarnya ada insting wartawannya saat ada yang tumpah hehehehe, cuma kendalanya waktu itu penumpangnya tidak ada satu pun yang membawa kamera/smartphone. Kalau pun ada, waktu itu belum ada peralatan khusus bagi kamera untuk anti air yang bisa membungkus kamera seperti sekarang ini.

      Belakangan saya tahu, pihak penyelenggara ternyata sudah menyiapkan fotografer di setiap pojok jalur arung jeram. Mereka yang berminat, harus beli Rp25.000/foto. Tapi entah mengapa tidak terekam saat peristiwa naas tersebut. Adapun kalau ada foto illustrasi di tulisan tersebut, itu karena ada staf humas Menko Kesra yang motret dan tidak ikut rafting alias arung jeram….. tks sudah mampir..

Tinggalkan Balasan ke Mugniar X