Media Pers

Wartawan Bangkotan dan Media Cetak Era 1980-an

Written by nurterbit

Sebagian dari wartawan era 1980-an dari media cetak saat meliput sidang peristiwa Tragedi Tanjung Priok di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (foto dok Nur Terbit)

MAU REUNI SESAMA WARTAWAN,
TAPI SUDAH PADA MENINGGAL 😭

Teman-teman semua pembaca blog saya www.nurterbit.com yang saya hormati. Artikel kali ini bercerita tentang pengalaman masa lalu, ketika masih aktif menjadi wartawan meliput peristiwa dan “mengejar” narasumber agar tidak ketinggalan informasi.

Kisah kali ini adalah tentang wartawan angkatan tahun 1980-an yang pernah tugas liputan di Jakarta Utara. Meskipun mereka “wartawan Bangkotan” atau “wartawan jadoel”, namun tetaplah ingin eksis meskipun tidak akan seheboh lagi ketika mereka masih muda seperti dulu.

Mau ngapain mereka sebenarnya di era Indonesia sudah memperingati ulang tahun kemerdekaannya yang ke-81 pada tanggal 17 Agustus 2026 lalu?

Mereka berencana mau mengadakan reuni sambil bernostalgia. Tapi yang mau diajak reuni, ternyata banyak di antaranya yang sudah meninggal.

Ceritanya saya diminta oleh Mas Oesodo, mantan wartawan Harian Merdeka (versi BM Diah), yang menyatakan siap menjadi “Sahibul Bait” alias tuan rumah, mengkoordinir teman-teman yang mau diundang.

Persoalannya, bagaimana mereka bisa dihubungi? Apalagi yang masuk daftar undangan, umumnya mereka yang termasuk sudah sepuh dan sudah kategori “Wartawan Bangkotan”. Tentu kesulitan. Bagaimana menghubungi mereka?

Selain ya itu tadi, banyak yang sudah berpulang ke Rahmatullah, juga sudah tidak saya ketahui lagi alamat dan nomor kontaknya. Lucu tapi bikin terharu. Mau ketawa tapi malah menetes air mata.

Mereka yang sudah berpulang, nama dan medianya, antara lain:

1. Laode Hafid (Pos Kota)
2. Syafrul Anas (Neraca)
3. Syafri Kadir (PR Grup)
4. Ali Firman (Fakta)
5. Hendrik Tobing (Buana)
6. David Pakasi (Sinar Harapan)
7. Basyir Kamarullah (Bisnis Ind).
8. Jaya Kamarullah (Bisnis Ind).
9. Herman Gojang (Merdeka).
10. Dan lain-lain.

Maklum kami yang mau reuni ini adalah wartawan jadoel. Datang dari berbagai media yang ketika itu masih edisi surat kabar cetak. Rata-rata medianya pun sudah ada yang bubar.

Wartawannya sudah pada beralih profesi yang tidak ada lagi kaitannya dengan media dan dunia tulis-menulis berita. Seperti ada yang jadi pengusaha, pengacara, dan ada yang sibuk jadi MC – alias Momong Cucu hehe….

LIPUTAN PERISTIWA BESAR

Selama kami semua bertugas meliput di wilayah Jakarta Utara, tentu tidak sedikit peristiwa besar yang menjadi bahan berita kami di koran masing-masing. Di antaranya bisa disebutkan sebagai berikut:

Pertama: Peristiwa Tragedi Tanjung Priok, 12 September 1984 yang menewaskan banyak korban. Versi pemerintah ada 12 orang meninggal. Sedang puncak tragedi dimulai di sebuah panggung ceramah di sekitar Pasar Permai, Sindang, Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok.

Salah satu tokoh peristiwa Tragedi Tanjung Priok 12 September 1984 yang terkenal adalah Amir Biki.

Pria asal Gorontalo ini, sehari-hari adalah pengusaha EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut) di Pelabuhan Tanjung Priok, tapi juga adalah aktivis eksponen 66 seangkatan Akbar Tanjung, Cosmas Batubara dan lainnya.

Kasus Tragedi Tanjung Priok 12 September 1984 ini, termasuk salah satu peristiwa yang dilaporkan keluarga korban ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Kami wartawan anggota dan pengurus PWI Jakut saat itu ikut meliput dan mengikuti peristiwanya. Dari lokasi kejadian hingga disidangkan di pengadilan.

Kedua: Peristiwa penggusuran dan penertiban pemukiman warga di lahan eks Mangga Dua, perbatasan Jakarta Utara dengan Jakarta Pusat.
Kini lokasi yang pernah mencuri perhatian pembaca surat kabar kami ini, sudah menjelma menjadi Pusat Perbelanjaan Mangga Dua.

Kasus Mangga Dua ini juga termasuk beritanya viral. Ini karena sempat menimbulkan kegaduhan dan bentrokan, antara aparat keamanan dengan warga setempat. Selama hampir seminggu, teman-teman wartawan menurunkan beritanya di media masing-masing.

Ketiga: Peristiwa penggusuran dan penertiban pemukiman warga di Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok di atas lahan yang diklaim milik perusahaan perakitan kendaraan: PT Prospek Motor.

Kasus Papanggo ini, sedikit mirip dengan peristiwa penggusuran dan penertiban pemukiman warga di lahan eks Mangga Dua, perbatasan Jakarta Utara dengan Jakarta Pusat. Sama-sama penggusuran paksa dan rebutan lahan pemukiman.

Keempat: Peristiwa penggusuran dan penertiban pemukiman warga di Pedongkelan, Jalan Perintis Kemerdekaan. Rumah di sepanjang jalan ini, dibongkar paksa oleh aparat Tibum (Ketertiban Umum) — sekarang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dari Pemprov DKI Jakarta.

Sama dengan kasus Mangga Dua dan Papanggo, warga yang bermukim di Pedongkelan khususnya di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Utara ini harus rela pindah pemukiman dengan kompensasi uang kerohiman.

Kelima: Pemindahan lokasi pemukiman warga dan penghapusan obyek rekreasi Sampur yang cukup populer saat itu, dialihkan menjadi lokasi Terminal Peti Kemas Koja, berderet dengan Pelabuhan Tanjung Priok milik Pelabuhan Indonesia (Pelindo).

Selain pemukiman warga, Pasar Ular sebagai tempat yang dikenal penjualan barang-barang impor yang ada di Sampur ketika itu, ikut juga dipindahkan ke Plumpang, Semper, Kecamatan Koja.

Sebagian lagi dari eks pedagang Pasar Ular Sampur ini, bertahan dan membuka kios di seberang Bioskop Permai, Jalan Yos Sudarso, masuk wilayah Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Keenam: Penutupan Kramat Tunggak (Kramtung), Jalan Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Lokalisasi dan Realisasi (Lokres) Kramtung ini sangat populer di Jakarta karena termasuk lokasi pelacuran terbesar kedua di Indonesia setelah Dolly di Surabaya. Jawa Timur.

Tamu pengunjung Lokres WTS Kramtung, di antaranya adalah pelaut asing yang kapalnya sedang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok.

Jarak dari pelabuhan ke Kramtung yang dikelola dan diawasi oleh Dinas Sosial Pemrov DKI Jakarta ini memang cukup dekat.

Kramtung sendiri, seperti penuturan seorang pejabat Suku Dinas (Sudin) Jakarta Utara, adalah lokasi penampungan “wanita malam” — nama halus dari Wanita Tuna Susila (WTS) — hasil operasi yang terjaring razia karena “berpraktek” secara liar di tepi jalan pada malam hari.

Buku Nur Terbit

Dua buku saya sebelumnya : Lika-Liku Kisah Wartawan dan Wartawan Bangkotan (dok Nur Terbit)

SUDAH ALIH PROFESI

Kembali ke topik wartawan jadoel yang mau reuni. Wartawan dan para mantan yang masih bertahan sebagai pekerja pers hingga sekarang, adalah termasuk wartawan generasi muda, pendatang baru.

Yang jika ikut diajak kumpul dengan kami yang jadoel ini, gak bakal asyik. “Sebab awalnya mau bernostalgia, berbagi cerita, tapi tidak bakalan nyambung,” canda Tavip Mohune, mantan wartawan harian ekonomi Bisnis Indonesia, milik pengusaha Sukamdani.

Wartawan yang akhirnya bersedia hadir di acara reuni ini, adalah mereka wartawan dengan kategori LUNA MAYA (Lanjut Usia NAmun MAsih bergaYA). Mereka tetap eksis sebagai wartawan, setelah sudah beralih ke edisi digital berwujud media online.

Jika dihitung sudah berapa lamanya kami semua tidak bertemu dan putus komunikasi lagi, bisa dihitung saat pernah berkumpul di era tahun 1980-an.

Sudah sekitar 46 tahun berpisah jika dihitung saat sekarang yang sudah tahun 2026, jika wartawan jadoel ini berencana reuni.

Kami yang mau reuni ini, dari sisi  organisasi profesi wartawan adalah mantan pengurus dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Unit Kantor Walikota Jakarta Utara. Tentu sudah lama sekali kan?

Saat itu Ketua PWI DKI Jakarta masih era almarhum Pak Sofyan Lubis, yang kemudian belakangan jadi Ketua Umum PWI Pusat menyusul seniornya Pak Haji Harmoko.

Dengan Pak Harmoko pula (mantan Menteri Penerangan, Menteri Khusus, Ketua Umum Partai Golkar), Pak Sofyan Lubis tercatat sebagai dua dari beberapa orang pemegang saham surat kabar harian Pos Kota Grup.

Karena itu, jika ada yang namanya termasuk diharapkan akan hadir di acara reuni mantan wartawan anggota PWI Unit Kantor Walikota Jakarta Utara ini, atau ada teman Facebook yang mengenalnya, mohon dikabarin melalui kolom komentar di bawah ini.

1. Wilmar Pasaribu (Suara Karya)
2. Bang Saban (Pos Kota)
3. Djoni Sulu (Selecta Grup)
4. Upa Labuhari (Sinar Harapan)
5. Marto (Berita Yudha)
6. Dwi Yantoro (Pos Kota)
7. Tjipto Umboro
8. Nico Karundeng (Pos Kota)
9. Mirza (RRI)
10. Didi Djuhriyadi (PAB)
11. Darman Celebes (Angkatan Merdeka).
12. Nurterbit (Harian Terbit).
13. Tavip Mohune.
14. Musfaah (Antara)
15. ……..dst.

Demikian sekilas info akan rencana pelaksanaan reuni wartawan era 1980-an, terutama anggota dan mantan pengurus PWI Unit Kantor Walikota Jakarta Utara. Salam 🙏

Nur Terbit

Leave a Comment