Reportase

Trik Dan Tips Menulis Catatan Perjalanan (1)

Written by nurterbit

Menjadi penulis catatan perjalanan (travel writer) memang mengasyikkan. Kerjanya cuma jalan-jalan, lalu pengalamannya ditulis dalam sebuah catatan perjalanan.

Laris dibaca dan “meledak” setelah jadi buku dan difilmkan.

Banyak travel writer terkenal di tanah air. Menulis catatan perjalanannya di blog, di media sosial maupun cetak, menerbitkan buku lalu difilmkan. Selain sudah menjelajah Nusantara, juga melanglangbuana ke mancanegara.

Di antara para penulis catatan perjalanan tersebut, salah satunya yang cukup berhasil dan sukses, adalah Teguh Sudarisman.

“Menjadi penulis catatan perjalanan atau travel writer punya trik dan teknik tersendiri,” kata Teguh Sudarisman, penulis catatan perjalanan sejak tahun 2007.

“Karena menulis catatan perjalanan itu mengasyikkan, akhirnya saya keterusan hingga sekarang,” katanya. Teguh sendiri mengaku lebih suka menulis tentang budaya dan lingkungan.

Indonesia ini sungguh kaya akan budaya dan lingkungan yang mempesona. Tidak akan habis jika mau ditulis. Coba saja dari luas wilayahnya, sekitar 30 persen lautan. Dari luas wilayah tersebut, berapa yang sudah kita jelajahi, berapa gunung yang sudah kita daki?

“Saya sendiri baru 5 sampai 6 gunung sudah saya daki, seperti gunung Kakatau, Sundoro, Merapi,” katanya dalam satu kesempatan pelatihan menulis perjalanan, yang saya ikut hadir.

Belum lagi taman nasional, kegiatan festival, jenis makanan, restoran, permandian air panas, hotel. Semua ini bisa di-review. Orang Indonesia itu suka traveling loh, minimal 2 kali setahun. Nah pengeluaran sudah berapa untuk traveling.

Bagi saya, apa yang ditulis Teguh Sudarisman di blog atau yang dikirim ke media, sebenarnya sederhana dan semua blogger sudah melakukannya. Bedanya, Teguh mengemasnya sedemikian rupa sehingga menarik sekalipun tulisan seperti itu sudah banyak di blog. Itu kehebatan seorang Teguh Sudarisman sebagai travel writer.

PANTAI LOSARI Kota Makassar, Sulawesi Selatan (foto: Nur Terbit)

PANTAI LOSARI Kota Makassar, Sulawesi Selatan (foto: Nur Terbit)

APA ITU TRAVEL WRITER?

Bagi seorang blogger, travel writer itu adalah nge-blog tentang perjalanan, itulah travel writer. Artinya menulis catatan di blog setelah melakukan perjalanan. Jadi kalau cuma browsing di Google atau laptop, dia bukan travel writer tapi hanya laptop traveller atau Google traveller.

Padahal travel writer itu bukan sekedar hura-hura. Tapi menulis catatan perjalanan sesuai dengan pengalaman sendiri, sekalipun yang ditulis itu adalah obyek wisata yang sudah lama ada dan sudah sering dikunjungi orang.

Eh iya, lalu bagaimana pula menulis obyek wisata yang sudah lama pernah kita kunjungi? Masih bisakah ditulis, apakah perlu di-update  dengan data terbaru?

Nah, ini pengalaman Ani Berta, blogger senior yang ikut hadir di pelatihan Teguh Sudarisman.

“Saya sudah lama pernah datang ke lokasi sebuah obyek wisata tapi belum sempat saya tulis, lalu bagaimana triknya.

Menurut Teguh Sudarisman, jika itu terjadi, bisa saja ditulis sekarang asal detailnya masih diingat. Misalnya namanya siapa orang yang kita temui di sana, sarana atau apakah ada bangunan tambahan di sana? Lebih aman lagi, coba simpan data dan bahan-bahan tulisan tersebut via email sehingga memudahkan jika mau ditulis kembali.

Satu hal yang perlu diingat oleh seorang travel writer, adalah wajib membawa peralatan rekaman atau tape recorder selain kamera. Bikinlah backup-nya.

Pengalaman Teguh Sudarisman waktu melakukan perjalanan wisata ke Danau Toba, Sumatera Utara, kameranya basah terkena air sehingga tidak bisa digunakan lagi. Akhirnya harus pakai kamera jadul dengan roll film. Jadi intinya, bawalah kamera cadangan kalau melakukan perjalanan wisata. (Bersambung/Nur Terbit)

PARE - PARE, salah satu daerah kotamadya di Sulsel dengan pesona Pantai Mattiro Tasi (foto : Nur Terbit)

PARE – PARE, salah satu daerah kotamadya di Sulsel dengan pesona Pantai Mattiro Tasi (foto : Nur Terbit)

15 Comments

Leave a Comment