Reportase

Napak Tilas Makassar-Gowa Lewat ‘Jalan Tikus’

Written by nurterbit

Kotamadya Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, secara geografi bertetangga dengan Kabupaten Gowa.

Ibarat di Provinsi Jawa Barat dan Banten dimana Bekasi, Bogor, Tangerang, Depok adalah penyanggah Jakarta sebagai ibukota negara, maka Kabupaten Gowa ini juga berfungsi penyanggah Kota Makassar sebagai ibukota Sulsel selain Kabupaten Maros.

Problema urban dan kemacetan arus lalulintas yang selama ini menjadi “penyakit perkotaan”, juga sudah berjangkit di kedua wilayah yang bertetangga ini.

MAKASSAR-GOWA, gerbang batas wilayah Kabupaten Gowa - Kota Makassar (foto : Nur Terbit)

MAKASSAR-GOWA, gerbang batas wilayah Kabupaten Gowa – Kota Makassar jalan poros pinggiran kota (foto : Nur Terbit)

JALAN TIKUS

Untuk melintasi kedua kota/kabupaten ini, perlu melalui “jalan tikus” sebagai alternatif keluar dari kemacetan lalulintas. Banyak pilihan jalan alternatif, antara lain Jalan Hertasning di perbatasan Kota Makassar – Kabupaten Gowa, Sulsel ini. Atau melalui bukit Kariango dari arah Maros, juga bisa lewat Antang, belakang PLTU Tallo tembus ke Sungguminasa Gowa.

Di daerah jalan Hertasning, Panakkukang menjelang perbatasan Makassar-Gowa ini cukup unik. Pada gerbang batas kota ini, terdapat sebilah Badik — senjata tajam khas Makassar — menempel dsn berdiri tegak di gapura batas kota dalam ukuran raksasa.

Setelah batas kota Makassar – Gowa dengan gerbang berupa badik raksasa ini, di jalan poros menuju Samata, ada lagi mesjid unik dengan arsitektur Cina di sebelah kanan arah Gowa. Itulah mesjid Cheng Hoo, milik komunitas Muslim Tionghoa Makassar.

Ini mengingatkan saya, kalau dulu pernah ada film nasional berjudul “Jenderal Cheng Hoo” dibintangi Yusril Ihza Mahendra — mantan menteri era Soeharto. Apa ada kaitan ceritanya dengan mesjid ini? Awak belum sempat telusuri.

RAJA GOWA KE-37 I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II (dok pribadi)

RAJA GOWA KE-37 I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II (dok pribadi)

ISTANA RAJA GOWA

Sementara jika kita sudah tiba di Sungguminasa sebagai ibukota Kabupaten Gowa, ada bangunan peninggalan sejarah yang masih lestari hingga sekarang, yakni istana “Balla Lompoa” (Rumah Besar, Bahasa Makassar) peninggalan Kerajaan Gowa.

Istana ini sekarang dalam penguasaan Bupati Gowa, pasca Perda No.51 tahun 2016 tentang Lembaga Adat Daerah (LAD) disyahkan oleh DPRD setempat. Perda ini di antaranya berisi aturan di mana bupati sekaligus sebagai “Sombayya” atau Raja Gowa. Dalam versi Perda tersebut, bupati berperan dan berfungsi sebagai “pemangku adat” alias…ya, Raja.

Proses pengambil-alihan aset budaya ini dan berlanjut berlakunya Perda LAD tadi — sempat berbuntut aksi demo yang berujung pembakaran gedung DPRD Gowa oleh massa pendukung Raja Gowa. Kasus ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat hingga ke Mendagri di Jakarta.

Bahkan, bupati dan Raja Gowa saling melapor ke polisi. Kasusnya saat ini tengah ditangani Polda Sulsel dan sudah tahap penyidikan. Sebentar lagi berderet para tersangka dan perkaranya digelar di ruang sidang pengadilan.

Baca Juga : Bupati Jadi Raja, Lucu Kata Akbar Faisal

JEMBATAN KEMBAR, dua jembatan yang menjadi ciri khas Kabupaten Gowa. Malam haru lampu hias jembatan ini menjadi patokan para pilot pesawat saat menjelang mendarat di bandara (foto : Nur Terbit)

JEMBATAN KEMBAR, dua jembatan yang menjadi ciri khas Kabupaten Gowa. Malam haru lampu hias jembatan ini menjadi patokan para pilot pesawat saat menjelang mendarat di bandara (foto : Nur Terbit)

JEMBATAN KEMBAR

Setelah Istana Balla Lompoa, saya juga melintasi jalan poros ke kota Kabupaten Takalar arah ke Selatan. Di siniĀ ada jembatan kembar yang jika malam hari, memunculkan panorama indah karena dihiasi lampu kerlap-kerlip. Lampu tersebut melintang dari ujung Selatan ke ujung Utara jembatan kembar ini.

Menurut cerita dari teman seorang pilot sebuah maskapai, kerlap-kerlip lampu-lampu di jembatan kembar pada malam hari, menjadi salah satu petunjuk atau patokan jika pesawat mau mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar di Maros.

Pesawat terbang yang menuju Kota Makassar akan melintas di atas jembatan kembar, sebelum “landing” di landasan pacu bandara Hasanuddin.

Beginilah pemandangan Kabupaten Gowa malam hari dalam liputan video blog :

Begitulah catatan perjalanan saya melintasi dua kota bertetangga ini: Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa.

Napak tilas menyusuri daerah kekuasaan para GALLARRANG, perangkat pemerintahan setingkat bupati/walikotadi lingkungan Kerajaan Gowa.

Di antaranya melintasi wilayah Gallarrang Sudiang, Bira, Monconglowe, Mangasabyang terhimpun di bawah BATE SALAPANG Kerajaan Gowa. Sampai jumpa pada reportase napak tilas saya berikutnya. Salam (Nur Terbit)

Ditemani ponakan Ilham sebagai driver, kami napak tilas Makassar-Gowa (foto : Nur Terbit)

Ditemani ponakan Ilham sebagai driver, kami napak tilas Makassar-Gowa (foto : Nur Terbit)

Jalan Perintis Kemerdekaan kami lewati saat napak tilas Makassar-Gowa (foto : Nur Terbit)

Jalan Perintis Kemerdekaan kami lewati saat napak tilas Makassar-Gowa (foto : Nur Terbit)

Jalan alternatif Makassar - Gowa lewat pinggiran kota (foto : Nur Terbit)

Jalan alternatif Makassar – Gowa lewat pinggiran kota (foto : Nur Terbit)

 

 

 

2 Comments

    • Ya nabung dulu atau cari sponsor hehehe…tapi ada yang murah-meriah koq, naik kapal laut PT Pelni. Dari Tanjung Priok kelas ekonomi cuma 400 ribu, lama perjalanan 2 hari 3 malam. Dengan pesawat terbang tiket promo paling murah 750 ribu.

Leave a Comment