Pers

Bincang Santai Dengan Asep Syarifuddin, Bupati Kepulauan Seribu

Kesan pertama bertemu dengan pria satu ini, adalah sosoknya tegas, bersahaja namun bukan keras. Jiwanya sangat komunikatif dan selalu menghargai pendapat orang lain, termasuk bawahannya.  Bahkan seorang stafnya, tanpa sungkan memberi cap atasannya ini dengan, “bupati cerdas, santun, selebritis dan sedikit preman”.

Itulah sosok Bupati Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, Drs. H. Asep Syarifuddin, M.Si yang dilantik oleh Gubernur Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai bupati sejak 5 Juni 2013.

Selain itu, semangat hidup yang melandasi pengabdiannya selama ini,  dikelolanya dengan manajemen yang baik, sehingga mampu menjadi energi luar biasa. Pria yang sesekali melontarkan ucapan humor ini, memang mengaku senang bergaul dengan siapa pun, dari strata sosial apa pun.

“Saya itu dari dulu memang senang bergaul. Dengan teman-teman wartawan, saya akrab, bahkan dari kalangan LSM (lembaga swadaya masyarakat) sekalipun,” kata Drs. H. Asep Syarifuddin, M.Si, Bupati Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta kepada KIBAR, majalah bulanan yang saya wakili untuk wawancara santai, usai menghadiri acara lounching edisi perdana majalah ini, awal Maret 2014 lalu di Grand Cempaka Hotel Jakarta.

Pria kelahiran Jakarta, 13 Februari1958 atau 56 tahun lalu itu, sebelum mendapat amanah memimpin Kabupaten Kepulauan Seribu, pernah menjabat sebagai Kepala BPMPKB DKI Jakarta, Wakil Walikota Jakarta Timur, Wakil Walikota Jakarta Pusat, dan Wakil Bupati Kepulauan Seribu.

Tentang sifatnya yang senang bergaul ini, suami dari Hj Susi Andriana ini mengaku silaturrahmi itu penting karena bisa membuka jaringan. Suka berbagi dan menghargai orang, dengan siapa pun bisa bergaul. “Yang penting belajar, di situlah aura kita untuk memimpin,” katanya.

Itu sebabnya, Asep Syarifuddin bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kondisi wilayah di mana ia berada. Misalnya berkunjung pemukiman warganya di Pulau Seribu, ia mengaku kadang tampil jadi ustadz , bahkan lebih ekstrim lagi, kalau perlu jadi “bajingan”.

 

KETEMU JAGOAN PULAU

Sekali waktu, ia berkunjung ke satu pulau di mana di daerah tersebut ada warganya yang selalu tampil ala jagoan, jawara, reseh dan meresahkan warga lainnya. Sayangnya tidak satu pun warga yang berani melarang atau sekedar menegur karena ulahnya selama ini yang merusak terumbu karang.

“Menurut cerita warga di pulau itu, si jagoan ini kerjanya mencari ikan di laut tapi tidak segan-segan merusak terumbu karang dengan cara membom. Kelakuan tengiknya ini sudah berlangsung lama, sudah 12 tahun. Suatu saat, saya mengunjungi pulau itu selain bersosialisasi dengan warga penghuni pulau, juga sekalian mau berkenalan dengan sang jagoan itu,” kata kata Bupati yang gemar menyanyi ini.

Bagaimana caranya, Asep Syarifuddin punya trik tersendiri. Dia menyempatkan ikut sholat  Jumat bersama warga. Kebetulan si jagoan tadi yang diceritakan warga suka merusak terumbu karang itu, ternyata ikut jumatan,  libur tidak melaut mencari ikan.

Ketika diberi kesempatan memberi tausyiah, Asep pun tidak menyianyiakan kesempat itu. Di atas mimbar, Bupati yang “santri” ini pun mengutip salah satu ayat Al-quran Surah Ar-Rum ayat 41.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, ini semua akibat perbuatan manusia. Maka, tunggulah azab dari Allah”. Asep kemudian menambahkan kata-kata ancaman, “makanya jangan kaget, kalau tidak akan lama lagi pulau ini akan tenggelam kalau terus-terus dibom terumbu karangnya.

Belum selesai sampai di situ. Dalam “ceramah”-nya itu Asep juga mengutip Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya”. Nah, Itulah bahasa rakyat. Ini pulalah realitas masyarakat kita, kata Asep.

“Jadi saya yakinkan masyarakat saya bahwa, saya ini datang ke Pulau Seribu bukan untuk mengacak-acak daerah mereka, tapi datang untuk membangun, “jadi mari sama-sama mendukung saya”.

332789_328899853799235_1946812870_o

 GEMAR BERNYANYI

Sebagai alumni sekolah Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), Asep Syarifuddin sangat menjaga penampilan dan sudah terlatih sebagai pamong. Ia pun ingat pesan-pesan dosennya di APDN, “kalau mau jadi pemimpin, maka kamu harus disayang dan dicintai. Tidak harus pintar,  jago tapi apa saja bisa”.

“Nah, saya itu orangnya suka menyanyi meski tidak memiliki suara yang bagus. Sering di setiap kesempatan, saya selalu bilang, saya bukan tipe penyanyi, tapi saya suka yang namanya penyanyi ..hehe,” kata Asep sambil tertawa.

Kegemaran menyanyi dan selalu siap melakukan apa saja untuk masyarakatnya, sering kali dibuktikan oleh ayah tiga anak (Adriana Dhananjaya, SE, MH, Ardhila Parama Arta, BSc (HONS), MSc, Alvia Anjani, semester III Fakultas Psikologi UI) buah pernikahannya dengan Hj Susi Adriana, BSc, ME ini.

Pernah sekali Asep diminta jadi saksi untuk perkawinan warganya di Pulau Seribu. Selesai menjadi saksi, tuan rumah masih memintanya agar tidak pulang dulu ke Jakarta, karena malamnya warga menggelar acara Maulid Nabi.

“Mohon bapak usai menjadi saksi pernikahan anak saya, malamnya bapak sudi memberikan tausyiah. Lah, saya kan bukan ustadz.  Tapi gak apa-apa deh, masak bupati harus menolak permintaan warganya. Apalagi ini tawaran mulia. Apa yang saya lakukan, saya kemudian ngapalin satu ayat Al-quran. Nah itu saja yang saya kupas habis,” kata Asep.

Belum selesai sampai di situ, kata Asep, habis makan, bukannya diminta berdialog dengan warga, tapi disuruh menyanyi. Usai menyanyi, masih juga diajak turun joget.

Ditanya apa programnya ke depan, Asep mengatakan bahwa tugasnya dalam waktu singkat, bagaimana merubah mindset, baik yang ada di kabupaten atau aparat maupun yang ada di masyarakat. Konsolidasi ke dalam. “Saya butuh waktu dua minggu untuk itu, dan minggu ketiga sudah saya putuskan apa yang harus saya lakukan”.

Maka yang terjadi kemudian, Asep Syarifuddin harus berangkat ke masjid-masjid yang ada di Kepulauan Seribu. Malam hari ke masjid-masjid di pulau untuk berdialog bersama-sama masyarakat, dan siang harinya dimana ada kesempatan, ia berdialog dengan warga sekitar.  Demikianlah perkenalan kita dengan Bupati Kepulauan Seribu ini (nah)

Leave a Comment