Teks foto : Kartu pers pertama seorang Pak Bagus Sudharmanto (dok FB Bagus Sudharmanto).
VIDEO REUNI MANTAN WARTAWAN 1šSumber video YouTube: Channel Nur TerbitĀ
KARTU PERS PERTAMA, 1979. Selembar kartu pers yang mulai memudar warnanya, tetapi tidak pernah memudar maknanya (Judul Status Facebook Bagus Sudharmanto)
Status tersebut saya baca setelah diunggah Minggu 19 Juli 2026 oleh Pak Dar, sapaan akrab bagi wartawan senior sekaligus mantan Pemimpin Redaksi (Pemred) sewaktu saya masih wartawan surat kabar sore “Harian Terbit”, Pos Kota Grup.
Selembar kartu pers adalah kebanggaan seorang wartawan, apalagi jika kartu pers tersebut adalah kartu pertama yang dipegang oleh seorang wartawan muda dan pemula.
Setidaknya, seperti yang ditulis Pak Dar di status Facebook (FB) -nya, dari sinilah perjalanan itu dimulai. Saat menjadi jurnalis belia di “Pos Kota” (mulai magang 1978).
“Saya belajar bahwa menggapai asa tidak dibangun dalam semalam, melainkan dari keberanian mengetuk pintu pertama, menulis berita pertama, dan menjaga integritas sejak langkah pertama,” kata pemegang gelar doktor bidang ilmu kriminal Universitas Indonesia (UI) ini.
Menurutnya, tanda tangan Pak Harmoko di kartu pers pertamanya itu, bukan sekadar tinta, tetapi pengingat bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari kesempatan kecil yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Sekedar diketahui, Pak Harmoko adalah salah satu pemegang saham dan pendiri Pos Kota Grup. Selama berkarier sebagai wartawan, Pak Harmoko pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PW) Pusat.
Sementara di bidang organisasi politik dan pemerintahan,Ā Pak Harmoko menjadi Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) dan Menteri Penerangan di era Presiden Soeharto.
NILAI SELEMBAR KARTU PERSĀ
Karena itu menurut Pak Bagus Sudharmanto (Pak Dar) pada akhirnya, yang bertahan bukanlah selembar kartu pers ini, bukan pula jabatan yang pernah disandang, melainkan jejak nilai yang kita tinggalkan.
“Jadi, kawan-kawan saya kira kita sepemahaman bahwa waktu hanya menguji usia, sementara integritaslah yang menentukan apakah perjalanan hidup layak dikenang,” kata Pak Dar.
VIDEO REUNI MANTAN WARTAWAN 2šSumber video YouTube: Channel Nur TerbitĀ
“Keren mas”, begitu komentar saya, selesai membaca pernyataan Pak Dar terkait kartu pers pertamanya sebagai seorang wartawan.
Ini mengingatkan juga kepada saya saat pertama kali resmi diangkat jadi wartawan pemegang kartu pers.
Di mulai ketika masih awal kuliah, saya diterima di surat kabar mingguan “Mimbar Karya” (MK) di Makassar Sulsel, 1979.
Sebelumnya hanya menulis cerita anak, cerpen dan opini di surat kabar harian “Pedoman Rakyat” (PR) di kota yang sama.
Selanjutnya 1980, ada teman mengajak bergabung sebagai koresponden “Harian Terbit” (Pos Kota Grup) perwakilan Sulawesi berkedudukan di Kota Makassar.
“Nur, mau gabung tidak? Ini ada surat kabar Jakarta punya Pak Harmoko”
Pak Harmoko waktu itu masih Ketua PWI Pusat, belum jadi Menteri Penerangan. “Masih butuh wartawan untuk koresponden,” kata teman.
Teman yang mengajak ini, memang pernah satu tim dengan saya di mingguan MK. Tapi dia resign dan gabung sebagai koresponden “Pos Kota” Grup di Makassar.
Mendengar kalau dia menyebut nama koran Jakarta, saya tertarik. Ya biasalah. Ingin juga merasakan bagaimana menulis berita peristiwa dari Sulsel, lalu di muat di koran nasional Jakarta.
Wah pasti mantap nih, berita yang saya tulis, dimuat di koran nasional, bisa dibaca di seluruh Indonesia, pikir saya. Waktu itu belum ada medsos, internet belum familiar.
Maka berita dari Makassar lalu dikirim lewat pos atau faximile. Kalau beritanya mendesak, dikirim lewat telepon interlokal.
Atau nitip di pilot atau pramugari Garuda, nanti redaksi di Jakarta yang datang menjemput naskah berita dalam amplop tersebut ke bandara Soekarno Hatta Cengkareng.
VIDEO REUNI MANTAN WARTAWAN 3šSumber video YouTube: Channel Nur TerbitĀ
Sekedar diketahui, Televisi saat itu juga baru ada TVRI, masih hitam putih pula. Untuk mengetahui berita nasional, harus nonton siaran “Dunia Dalam Berita” di malam hari. Belum ada TV swasta.
Saat itu banyak wartawan senior di Makassar, bekerja sebagai koresponden sekaligus biro/perwakilan koran Jakarta.
Seperti Fahmi Miala sebagai koresponden “Kompas”, Charles Arstaka di “Merdeka”, Burhanuddin Amin di “Pelita”, Dahlan Abubakar di “Suara Karya”, Syahrir Makkuradde di Majalah “Tempo”, Mahaji Noesa di Majalah “Selecta” (Detektif Romantika/DR) dan koresponden lainnya.
Ketika Pak Muh Thahir Ramli (pensiunan Intel Kodam XIV Hasanuddin) yang diangkat sebagai Kepala Perwakilan “Pos Kota Grup” untuk Sulawesi meninggal, itulah babak baru saya menjadi wartawan Ibukota.
Dimulai ketikaĀ esok harinya Pak Hadikamajaya (alm) Pemred “Harian Terbit” datang melayat ke rumah duka almarhum Pak Tahir, sapaan akrab Muh Thahir Ramli di Makassar.
Saya kebetulan yang ditugaskan menjemput dan mengurus hotel tempatnya menginap beliau. Dari sini saya iseng bertanya.
Boleh tidak koresponden daerah pindah ke Jakarta untuk jadi wartawan?
“Bisa saja. Tapi kami di Jakarta belum bisa menyiapkan asrama untuk wartawan,” kata Pak Hadi, panggilan akrab Pemred kami itu.
Dalam hati, itu mah gampang. Kalau perlu saya tidur di kantor, seperti yang saya lakukan selama ini di Makassar. Pagi kuliah, siang-sore jadi wartawan, malam jadi penyiar radio. Kalau ngantuk, ya tidurnya di manapun jadi deh.
AWAL JADI WARTAWAN IBUKOTA
Beberapa bulan kemudian, Juni 1984, saya sudah nekad merantau ke Jakarta dengan kapal laut milik PT Pelni. Numpang sementara di rumah keluarga sesama perantau asal Sulsel di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
3 (tiga) bulan kemudian, meletus “Tragedi Tanjung Priok” 12 September 1984 dengan tokoh utama Amir Biki, yang rumahnya ternyata masih bertetangga dengan tempat saya menumpang (ini bisa nanti ditulis kisahnya tersendiri).
Singkat cerita, saat itu juga saya menemui Pak Hadi, Pemred “Harian Terbit”. Menyatakan siap “bertarung” sebagai wartawan di ibukota, ciiieeh…
Cukup lama juga saya menjalani profesi sebagai wartawan ibukota, 30 tahun dari sejak 1984-2014 kemudian pensiun. Lanjut kini ke media online.
Sebelum saya pensiun, terjadi pergantian pemimpin redaksi. Dari Pak Hadi ke Pemred baru,Ā dari media induk yakni wartawan senior “Pos Kota”. Siapa beliau? Ya Pak Bagus Sudarmanto (Pak Dar).
Dari Pak Dar, kemudian digantikan oleh Pak Tarman Azzam (alm) sampai kemudian koran sore ini berganti manajemen.
“Iya Mas Daeng Nur, ternyata kita sudah sepuh sekali ya. Tahun 1979, loh,” seloroh Pak Dar.
“Bolehlah sesekali mengenang perjalanan panjang keprofesian yang penuh dinamika. Dan, alhamdulillah kita masih diberi kesehatan untuk terus bergiat”.
“Makasih ya respon kerennya. Tetap sehat, tetap semangat, gasss terus ⦔
“Iya Pak Dar,” jawab saya. Alhamdulillah selama jadi wartawan ibukota Jakarta di “Harian Terbit”, berbagai pos liputan sudah pernah saya jalani sesuai penugasan kantor. Tinggal penugasan sebagai wartawan di Istana Presiden yang belum pernah hehe…
JADI WARTAWAN KRIMINALĀ
Suatu hari saya pernah ditugaskan meliput ke Polda Metro Jaya sebagai wartawan kriminal. Gabung dengan wartawan lain di press room Polda.
Saya tanya teman-teman, dari “Pos Kota” siapa wartawannya yang ditugaskan di Polda Metrojaya?
Mereka bilang ada wartawan senior, namanya Pak Bagus Sudharmanto atau Pak Dar, sosok yang saya ceritakan di tulisan saya di blog ini. Wow…sayang hari itu tidak sempat ketemu. Bahkan ketika saya ditarik kembali ke pos liputan lain.
Saya jugaĀ pernah beberapa bulan ditugaskan di tempat yang cukup seram. Yakni ketika ditugaskan meliput/ngepos di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Sebagai wartawan koran sore, pagi-pagi saya sudah harus ada di kamar mayat RSCM, menunggu ada “kiriman” mayat tak dikenal, korban pembunuhan, atau korban kecelakaan yang terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).
Sebelum jam 12.00 siang berita dari kamar mayat RSCM sudah harus diterima redaktur di kantor redaksi.
Sementara Pak Bagus Sudharmanto sendiri, mengaku cukup lama mengabdikan diri sebagai reporter di bidang kriminal. Pada masa itu, sistem kaderisasi redaksi “Pos Kota” dibangun dengan disiplin yang ketat.
Menurut Pak Dar, seorang reporter muda tidak serta-merta ditempatkan di pusat peristiwa, melainkan ditempa bertahap dari tingkat Polsek hingga Polres sebelum dipercaya meliput di Polda Metro Jaya.
“Saya memulai perjalanan itu dari Polsek Pasar Rebo, Kramajati, dan Matraman, kemudian berlanjut ke Polres Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun”
Dari sanalah, kata Pak Dar, fondasi kerja jurnalistik dibangun. Sebab meliput peristiwa kejahatan berarti harus belajar membaca fakta, memahami perilaku, sekaligus menangkap denyut kamtibmas dari lapisan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika kemudian Pak Dar ditempatkan di Polda Metro, tanggung jawab itu bertambah luas. Selain meliput, dia harus menjadi koordinator liputan bagi rekan-rekan reporter yang ditempatkan di Polres se-Jabodetabek.
Sedikitnya ada sekitar 22 reporter yang musti dikoordinasikan dalam ritme kerja yang nyaris tidak mengenal jeda, selama 24 jam.
Karena itu, hampir tidak ada peristiwa kriminal penting di Jakarta dan sekitarnya yang luput dari pemantauan kami.
Pada masa itu, berita kriminal merupakan salah satu komoditas utama “Pos Kota”.
Namun, di balik aspek komersial tersebut, sesungguhnya tersimpan fungsi sosial yang jauh lebih penting. “Pos Kota” menjadi semacam barometer untuk membaca dinamika Kamtibmas Ibu Kota.
“Dalam perspektif kriminologi, media pada akhirnya tidak hanya menjalankan fungsi informasi, tetapi juga berperan sebagai āagent of social controlā yang ikut membentuk kesadaran publik terhadap hukum dan ketertiban”.
“Saya sendiri sudah lupa berapa lama bertugas di Polda Metro Jaya. Yang saya ingat, beberapa tahun kemudian pimpinan menugaskan saya ke Surabaya untuk mewakili bidang redaksi dalam proyek besar pendirian ‘Harian Surya’, hasil kolaborasi ‘Pos Kota’ dan ‘Kompas’.”
Penugasan ke Harian Surya Surabaya itu menjadi salah satu fase paling berharga dalam perjalanan karier Pak Dar.
Untuk pertama kalinya, kata Pak Dar, dirinya menyaksikan dari dekat bagaimana sebuah media dibangun sejak tahap perencanaan hingga operasional, bukan hanya dari sisi redaksi, tetapi juga aspek bisnis, distribusi, dan manajemen.
Di sana Pak Dar mengaku memperoleh bimbingan langsung dari para senior terbaik, terutama dari lingkungan “Kompas”. Pengalaman itu memberi pelajaran yang tidak mungkin diperoleh hanya dari ruang kuliah atau buku-buku.
“Jika boleh diringkas dalam satu kalimat, itulah ‘sekolah kehidupan’ yang justeru dibayar untuk saya jalani, hehe.⦔ š
Pada akhirnya Pak Dar menyadari bahwa menjadi wartawan bukan sekadar profesi mencari dan menulis berita.
Ia adalah proses panjang membentuk cara berpikir, mempertajam kepekaan, sekaligus menempa integritas.
Sebab, semakin luas pengalaman lapangan, semakin kita memahami bahwa setiap berita pada hakikatnya adalah potongan kecil dari perjalanan peradaban masyarakat.
“Begitulah ⦠sori Daeng Nur, saya jadi ikut cerita panjang nih” š
Saya kemudian menimpali. “Wah bagus nih Pak Dar kalau dikumpulkan lalu diterbitkan jadi buku”.
Saya sendiri saat ini sudah mengumpulkan beberapa tulisan dari pengalaman di lapangan, terutama ketika jadi koresponden daerah lalu berlanjut sebagai wartawan “Pos Kota” Grup di Jakarta.
“Rencana mau dijadikan buku dari seri kedua “Wartawan Bangkotan” yang sudah terbit perdana 2022″ š
Demikianlah tulisan blog saya tentang KARTU PERS PERTAMA seorang wartawan di hari ketigabelas (ke-13) Sabtu 29 Agustus 2026. Menulis setiap hari selama sebulan dari 17 Agustus – 17 Seotember yang digelar Wijaya Kusumah (Omjay).
Semoga bermanfaat. Salam Nur Terbit
VIDEO REUNI MANTAN WARTAWAN 4 šSumber video YouTube: Channel Nur TerbitĀ

