Transportasi

Flyover Bulakkapal, Solusi Atasi Macet dan Senggolan KA

Penunjuk arah ke Tol Kota Bekasi dan Cibitung - Cikarang (foto dok Nur Terbit)

Penunjuk arah ke Tol Kota Bekasi dan Cibitung – Cikarang (foto dok Nur Terbit)

Bagi Anda yang pernah melintas di daerah sepanjang jalan Ir H. Juanda arah Tambun menjelang Taman Makam Pahlawan maupun sebaliknya, atau Jalan H. M. Joyomartono, Bulakkapal arah pintu Tol Bekasi Timur, Kota Bekasi maupun arah sebaliknya, pasti akan mengalami kemacetan parah.

Kenapa? Karena hampir setiap hari di daerah ini terjadi kemacetan: dari pagi, siang, sore hingga malam, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja para pegawai dan karyawan.

Padahal kondisi ini berbeda dengan apa yang ada di jalan yang ada di bawah daerah macet ini. Arus kendaraannya ramai-lancar saja.

Ini karena sudah ada jalan Underpass yaitu jalan di bawah kolong yang sudah dioperasikan dari arah perbatasan Kabupaten Bekasi dengan Kota Bekasi menuju Terminal Bus, atau arah sebaliknya.

Sumber video YouTube: Channel NURTERBIT 👇

DISHUB COBA URAI KEMACETAN

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat (Jabar) sudah menutup putaran di Jalan Juanda dari Taman Cut Mutia sampai dengan Bulak Kapal. Hal ini bagian dari upaya pemerintah mengurai kemacetan di sana.

Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Teguh Adrianto, mengatakan, semula hal ini masih “uji coba” yang dilakukan untuk memperlancar arus lalu lintas di lokasi tersebut yang dinilai sangat padat. Mulai pukul 10.00 WIB hingga sore hari.

“Itu merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kelancaran terutama di jam sibuk, terutama pagi dan sore hari,” kata Teguh saat dikonfirmasi awak media.

Kawasan Bekasi Timur kerap padat kendaraan, terutama di titik persimpangan seperti Jalan Ampera, simpang Bulak Kapal, hingga Stasiun Bekasi Timur.

Ia menilai kondisi terparah ada di simpang Ampera karena perlintasannya tidak berpalang dan jaraknya ke jalan utama sangat sempit, hanya sekitar 3 meter.

“Saat sore hari, antrean kendaraan kerap memanjang hingga Duren Jaya dan menghambat arus lalu lintas ke arah Bulak Kapal maupun terminal”

Selain itu, penyebab utama macetnya di kawasan ini, karena angkot, taksi, “tumpah-ruah” dengan ojol motor dan mobil, bus karyawan, bus lintas daerah, halte bus Transjakarta lokasinya berdekatan.

Mereka berhenti menunggu, menaikkan dan menurunkan penumpang sesuka hatinya.

Belum lagi banyaknya perusahaan otobus (PO) sepanjang Jalan H.M. Joyomartono Bulakkapal depan Depsos arah pintu Tol Bekasi Timur.

Tanpa merasa berdosa dan bersalah, seenaknya memarkir bus besarnya di tepi jalan, atau bahkan memutar arah hingga melintang di tengah jalan.

Rambu lalulintas dilarang parkir (P) dan berhenti (S), hanya jadi pajangan di pinggir jalan. Mereka tidak peduli rambu-rambu lalulintas tersebut.

Jalan alternatif di Kota Bekasi juga macet di pagi hari (foto Nur Terbit)

Jalan alternatif di Kota Bekasi juga macet di pagi hari (foto Nur Terbit)

RENCANA FLYOVER BULAK KAPAL

Dengan parahnya kemacetan di Bulakkapal tersebut, akhirnya banyak yang mengusulkan bahwa sudah waktunya daerah Bulakkapal, Bekasi Timur, Kota Bekasi dibangun Flyover atau jalan layang di perlintasan rel kereta api.

Terutama untuk mengurai kemacetan dari ruas Jalan H.M. Joyomartono ke arah Perumnas 3 samping Taman Makam Pahlawan arah perumahan Wismajaya, atau arah sebaliknya.

Buktinya setiap hari jika ada kereta melintas, akan terjadi macet panjang, kendaraan menumpuk. Padahal sudah ada Underpass. Belum lagi jika kendaraan yang nekat melintas rel lalu tertabrak kereta. Macet bisa jadi tontonan gratis.

Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko, mendorong percepatan pembangunan infrastruktur transportasi di wilayah Jawa Barat.

Ini katanya dikhususkan untuk pembangunan flyover dan underpass pada sejumlah perlintasan sebidang yang memiliki tingkat lalu lintas tinggi guna meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Sudjatmiko menjelaskan, khusus untuk pembangunan Flyover Bulak Kapal di wilayah Kota Bekasi telah disiapkan dengan skema pembiayaan yang melibatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Menurutnya, pemerintah pusat akan membiayai pekerjaan konstruksi, sementara pembebasan lahan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bekasi.

“Untuk Flyover Bulak Kapal di Bekasi Timur, konstruksinya akan dibiayai pemerintah pusat”

“Sedangkan pembebasan lahannya menjadi tanggung jawab pemerintah kota,” ujarnya usai kunjungan kerja spesifik Komisi V DPR RI ke Provinsi Jawa Barat, Jumat 3 Juli 2026 lalu.

TERKENDALA GANTI RUGI LAHAN

Saat ini sudah terlihat tanda-tanda persiapan pembangunan Flyover Bulakkapal. Sejumlah bangunan sudah dibongkar kios, rumah makan dan rumah warga.

Terutama yang berdiri di kiri-kanan sepanjang Jalan H. M. Joyomartono, arah pintu Tol Bekasi Timur atau sebaliknya ke arah rel kereta menuju Perumnas 3.

Namun menurut informasi, ada kendala baru soal pembayaran ganti rugi lahan untuk proyek jembatan layang Flyover Bulak Kapal, Bekasi Timur. Pembayaran sempat ditunda hingga Agustus 2026.

Alasannya, Pemkot Bekasi berdalih ada pergantian pimpinan Badan Pertanahan Nasional Kota Bekasi serta masih ada sanggahan dari pemilik lahan yang perlu segera diselesaikan.

Sedianya, Pemkot Bekasi melakukan pembayaran ganti rugi pembebasan lahan warga terdampak pada Juni 2026.

“Jadi, memang saat ini belum bisa direalisasikan kepada masyarakat. Target kami bulan Agustus mendatang”

Begitu kata Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Bekasi Widayat Subroto Hardi, kepada wartawan Kamis 9 Juli 2026

Meski begitu, kata dia, rencana lelang pembangunan fisik tetap berjalan sesuai rencana.

Pemkot Bekasi sudah menganggarkan hampir Rp60 miliar untuk pembebasan 73 bidang tanah di Kelurahan Margahayu, Durenjaya, dan Arenjaya.

Sedangkan, pembangunan fisik menggunakan anggaran pemerintah provinsi dan pusat.

Rencana pembangunan Flyover Bulak Kapal di Bekasi Timur ditargetkan mulai berjalan pada Agustus 2026 setelah sempat mengalami penyesuaian jadwal pembebasan lahan.

Detail rencana proyek Flyover ini akan menghubungkan Jalan Joyomartono hingga Jalan Pahlawan.

Flyover Bulakkapal akanmelintang di atas rel kereta api dengan panjang trase sekitar 768 meter.

Tujuan utamanya untuk mengurai kemacetan parah di perlintasan sebidang rel kereta api dan meningkatkan keselamatan lalu lintas.

Pembiayaan dengan total anggaran mencapai lebih dari Rp361 miliar, yang dibagi menjadi tanggung jawab Pemkot Bekasi (sekitar Rp100 miliar lebih untuk hampir seratus bidang lahan terdampak).

Sementara konstruksi fisik dibiayai oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Semoga dengan akan terwujudnya Flyover Bulakkapal ini, kemacetan yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut akan bisa teratasi. Aamiin.

Salam : Nur Terbit 

Tulisan blog ini ditulis di hari kesebelas (ke-11) Jumat 28 Agustus 2026, dalam program menulis setiap hari selama sebulan ke depan yang digelar Wijaya Kusumah (Omjay).

Sponsor lomba blog (dok : Istri)

Sponsor lomba blog (dok : Omjay)

Kemacetan menjelang masuk dan keluar pintu Tol Bekasi Timur, Kota Bekasi (Sumber video YouTube: Channel NURTERBIT) 👇

 

 

 

Leave a Comment