Teks : Kepala BGN Sudaryono (foto : Makassar Info)
Ini tulisan saya sebagai “Wartawan Bangkotan” atau NUR TERBIT di blog pribadi sekaligus ingin MENJAWAB pernyataan sejumlah tokoh yang membahas tentang korban keracunan — yang diduga akibat Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Antara lain menjawab Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB sekaligus Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia.
Juga ada pernyataan Prof. KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), tapi justeru sebaliknya. Buya Yahya menolak pernyataan kedua tokoh di atas yang viral di media sosial.
Seperti diketahui, Sudaryono dan Prof. Dr. Ir. Hardinsyah menuding semua yang keracunan MBG, akibat karena KESALAHAN dan KELALAIAN guru, orangtua kemudian “dikomporin” oleh wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Para guru menghadiri Hari Guru Nasional (HGN) di Stadion Patriot Kota Bekasi era Presiden Jokowi (foto dok Nur Terbit)
GURU JADI KELINCI PERCOBAAN
Luar biasa. Di Bekasi, Provinsi Jawa Barat, kalangan para Ibu Guru TK (Taman Kanak-kanak) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Kelompok Bermain (KB) dan Play Grup (PG) mendapat pujian.
Hal ini karena mereka dengan sukarela dijadikan “kelinci percobaan” soal makanan dari program andalan Presiden Prabowo Subianto ini.
Sebelum menu MBG (Makanan Bergizi Gratis) diberikan kepada anak TK, gurunya yang lebih dahulu disuruh mencicipi.
“Koq guru yang dijadikan kelinci percobaan ya? Tega kalian ya,” canda seorang guru TK.
Kalau setelah guru mencicipi MBG ternyata aman, misalnya tidak ada yang keracunan, maka orang tua murid TK barulah mau mengizinkan anaknya makan menu MBG tersebut.
Menurut pihak sekolah, jatah makan MBG ini mereka terima kiriman dari dapur SPPG sejak akhir Oktober 2025. Umumnya didrop ke sekolah-sekolah TK di Bekasi.
Jadi kalau ada yang keracunan, maka gurunya yang lebih dahulu sebagai “tumbal” dari keracunan makanan hehehe…Tapi masih sehat kan Bu Guru sampai sekarang? 🥱
Luar biasa tanggung jawab kalian sebagai Bu Guru, sampai nyawa taruhannya demi keselamatan murid-murid kalian. Semangat Bu Guru.
MBG JUGA DIBERIKAN UNTUK ANAK TK
Pemberian menu MBG bagi anak TK ini, juga sepertinya dari awal tidak dipertimbangkan apakah menu tersebut cocok bagi anak usia dini.
Pasalnya, makanannya sama dengan yang didrop ke murid Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Seperti kejadian yang dialami oleh murid di salah satu sekolah TK. Menu makanannya memakai sambal, sehingga anak mengeluh kepedesan. Juga diberi lalapan (daun-daunan).
“Anak murid saya protes, koq ada daun-daunnya? Apa ini makanan kambing,” cerita salah satu ibu guru TK.
“Ada naget tapi isinya tempe, gak sama dengan naget yang ibu biasa beli di mal,” sambungnya.
Kendala lain dalam pemberian MBG bagi anak TK, sebab Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) anak TK hanya efektif 5 hari, yakni Senin-Jumat.
Adapun hari Sabtu sudah libur. Lalu dikemanakan menu MBG tersebut? Dibawa pulang sama gurunya?
Akibatnya, pemberian makanan MBG ini harus diberikan dobel di hari Jumat, sekaligus jatah untuk hari Sabtu.
Sehingga makanan tersebut menumpuk di sekolah untuk jatah 2 hari dan dibawa pulang para guru. Jatah MBG ini akhirnya mubazir.
“Misalnya jika ada anak yang kebetulan hari itu tidak masuk sekolah, atau jatah anak tapi menolak menerima karena dilarang orang tua mereka,” komentar Ibu Guru menceritakan pengalamannya.
Seperti diketahui bersama, MBG adalah program yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai program andalan.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah dan kelompok rentan lainnya (seperti ibu hamil dan ibu menyusui) demi menciptakan generasi sehat, cerdas, dan produktif.
Selain itu, program ini juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal dengan melibatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), petani, nelayan, dan peternak.
Program MBG ini telah berjalan secara bertahap sejak Januari 2025.
Pelaksanaannya melibatkan satuan pendidikan dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
PERNYATAAN KEPALA BGN
Setelah program MBG yang sudah berjalan lebih dari dua tahun (sejak tahun 2025), kemudian menimbulkan sejumlah masalah di lapangan. Di antaranya dugaan keracunan.
Hal ini terjadi dan dialami khususnya bagi mereka yang mengkonsumsi MBG, seperti pelajar SD, SMP hingga siswa SMA.
Berdasarkan pemberitaan media yang viral, sudah ada ratusan yang terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan ada yang dikabarkan hilang ingatan. Orang tua murid dan masyarakat pun heboh.
Atas kehebohan ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan bahwa polemik dan kasus yang terjadi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibesar-besarkan oleh guru, orang tua siswa, dan wartawan serta LSM.
Adapun poin utama dari pernyataan yang muncul tersebut, datang berbagai pihak baik dari pihak BGN maupun masyarakat luas.
Klaim Kondisi Lapangan:Â
Kepala BGN Sudaryono menyebut program MBG pada dasarnya baik-baik saja dan tidak bermasalah secara substansial.
Pihak Yang Disalahkan:Â
Sudaryono menilai keramaian di media sosial mengenai kasus keracunan atau kendala pangan dipicu oleh guru, orang tua siswa, wartawan, serta oknum LSM dengan nuansa politis dan ideologis.
Respon Publik:
Pernyataan ini menuai kritik tajam dari publik dan pengamat karena dianggap menyudutkan guru dan mengabaikan evaluasi terhadap kasus keracunan yang dialami oleh anak-anak.
PERNYATAAN GURU BESAR IPB
Pernyataan juga datang dari Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB sekaligus Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah.
Menurut Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, banyaknya dugaan keracunan MBG selama ini disebabkan kelalaian di pihak sekolah, seperti dikutip dari Fajar.co.id.
“Ini karena guru tidak mencicipi MBG terlebih dahulu,” kata Prof Hardinsyah.
Kemudian saat ditanya apakah etis menyalahkan guru sementara hanya menerima, Hardinsyah menegaskan bahwa jelas salah.
Alasan pernyataan dari Hardinsyah kemudian mendapatkan sorotan karena dinilai menyalahkan guru dan sekolah dalam kasus keracunan massal siswa dalam program MBG.
Lewat salah satu cuitan di akun media sosial X (dulu Twitter) pribadinya, Iman Zanarul Haeri menyampaikan kritkannya soal pernyataan tersebut.
Salah satu pernyataan yang disoroti Iman, adalah terkait pandangan yang menyebut keracunan MBG disebabkan kelalaian di sekolah. Karena guru tidak mencicipi MBG terlebih dahulu.
Pernyataan dari Prof Hardinsyah ini, kemudian mendapat respon dan kritik tajam dari Kepala Bidang Advokasi Guru dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) sekaligus pengajar dan aktivis pendidikan, Iman Zanarul Haeri.
Menurut Hardinsyah, keracunan MBG disebabkan kelalaian di sekolah, tulis Iman Zanarul Haeri dikutip Minggu 13 September 2026.
“Karena guru tidak mencicipi MBG terlebih dahulu,” sebutnya.
“Kalau ada yang bisa mempertemukan saya dengan beliau, debat terbuka dan live. Saya bersedia,” jelasnya.
Menurut Iman Zanarul, program MBG yang justru beracun hanya saja yang disalahkan adalah guru.
“MBG yang beracun, lantas yang disalahkan gurunya. Ini sudah sangat keterlaluan,” paparnya.
“Mana anggarannya diambil, haknya diambil, jam ngajarnya di ambil, suruh bagiin pula, nyicipin juga. Keracunan, guru disalahkan juga,” terangnya.
Iman Zanatul pun mengungkap keinginan besarnya untuk bertemu langsung dengan Prof Hardiansyah untuk bisa berdiskusi terkait hal ini.
Setelah Kepala BGN Sudaryono, menyalahkan guru, orangtua siswa, hingga jurnalis terkait keracunan MBG, potongan ceramah Prof. KH Yahya Zainul Ma’arif kini juga ikut ramai di X (dulu Twitter).
Buya Yahya, sapaannya, meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan introspeksi terhadap pelaksanaan program tersebut.
Buya Yahya mengingatkan agar pemerintah tidak hanya melihat MBG dari sisi kebijakan, tetapi juga memastikan proses penyaluran hingga pembagiannya benar-benar berjalan sesuai tujuan.
Menurut Buya Yahya, persoalan MBG perlu dilihat secara jujur dan adil.
Kesalahan dalam pelaksanaan, kata dia, tidak semestinya langsung dibebankan kepada Presiden apabila memang persoalan tersebut berada pada level teknis.
“Ulasan yang sangat menarik, Pak, terima kasih sudah berbagi. Sehat dan sejahtera selalu,” komentar Karnita.
“Pasti repot kalau duitnya gak ada buat beli makanan dan minumannya hehehe..,” kata Wijaya Kusumah.Â
“Makasih infonya Bang Nur,” tambah Omjay, sapaa akrabnya.
Demikian cerita saya di blog pribadi https://www.nurterbit.com kali ini. Semoga dapat menjadi pertimbangan bagi Presiden Prabowo Subianto demi perbaikan MBG ke depan dan mengurangi korban dugaan keracunan.
Salam : Nur TerbitÂ
* Tulisan hari ketiga puluh (ke-30) edisi Selasa 15 September 2026 untuk Lomba Blog Tema Kemerdekaan RI yang digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com
Video viral soal dugaan keracunan MBG, sumber video : Kompas TV 👇








