Reportase

Belajar Jadi Pengusaha Lewat Pelatihan Virtual

Suasana pelatihan jadi pengusaha kerja sama PT Inapen & President University (foto: Nur Terbit)
Suasana pelatihan jadi pengusaha kerja sama PT Inapen & President University (foto: Nur Terbit)
Written by nurterbit

Punya bakat wirausaha atau berbisnis dan mau jadi eksekutif muda di dunia usaha? Atau mau jadi pengusaha kaya raya yang sukses? Semua pasti menjawab, “mau dong”, atau, “enak tau jadi pengusaha kaya”.

Coba deh. Keren kan kedengarannya kalau di perusahaan kita duduk di posisi jabatan divisi marketing, purchasing, finance, human relation development (HRD). Bahkan bisa menjadi CEO (Chief Executive Officer) yang dipercaya memimpin jajaran direksi suatu perusahaan. Gile coy…

Nah, sejumlah jabatan yang menggiurkan tersebut di atas, tentu cukup menggelitik di tengah sulitnya lapangan kerja bagi generasi muda angkatan kerja di negeri yang bernama Indonesia ini. Betapa akan makin banyak angka pengangguran jika kita tidak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

Misalnya kita mau jadi PNS atau pegawai negeri sipil? Wow.. lebih sulit lagi. Lagi pula tidak setiap saat ada penerimaan pegawai negeri. Artinya tipis peluang untuk jadi pegawai di instansi pemeritahan.

Menjadi pengusaha, sebenarnya juga tidak gampang-gampang amat. Tetapi tetap perlu bakat, modal pengetahuan dasar, latihan, magang, pendidikan memadai dan tentu saja kesempatan serta peluang. Nah, hal inilah yang diupayakan oleh PT Inapen, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pelatihan virtual.

Peserta pelatihan berperan sebagai CEO, memaparkan kinerja perusahaan yang dipimpinnya dalam bahasa Inggeris di hadapan fasilitator (foto : Nur Terbit)

Peserta pelatihan berperan sebagai CEO, memaparkan kinerja perusahaan yang dipimpinnya dalam bahasa Inggeris di hadapan fasilitator (foto : Nur Terbit)

Selasa pekan lalu (15 Desember 2015) saya dan teman-teman dari komunitas blogger berkesempatan mengunjungi tempat “magang” para peserta pelatihan virtual tersebut di daerah Kabupaten Bekasi. Kami disambut dan diantar oleh “tuan rumah” Pak Purwanto, ST, MM salah satu instruktur, staf pengajar, fasilitator dari 8 fasilitator dari President University, juga Pak Hartono dari PT Inapen.

Inapen sebagai perusahaan asli milik anak bangsa yang berpusat di Gedung Ifa Lantai 2 Jl. Victor Raya, Buaran, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten ini, kemudian bekerja sama dengan President University, sebuah perguruan tinggi swasta bergengsi di kawasan Cikarang Baru, Kabupaten Bekasi.

Para mahasiswa terutama dari jurusan bisnis, ikut pelatihan di PT Inapen melalui Training of Trainer (ToT) lalu kemudian ilmunya dipraktekkan dalam usaha nyata sebagaimana layaknya pengusaha dalam mengelola bisnisnya.

Sebuah ruangan bertuliskan “Business Simulation Laboratory” di lantai 4 kampus President kemudian disulap jadi layaknya satu “perusahaan” di mana para peserta magang mempraktekkan ilmunya. Selain semua ruangan menggunakan istilah bahasa asing, pengantar sehari-hari dan komunikasi di kampus ini memang berbahasa Inggeris.

Nama perusahaan tempat magang para mahasiswa bernama PT IFA Virtual, bergerak di bidang pembuatan sepatu dan busana. Beralamat di kampus President University lantai 4, Jalan Ki Hajar Dewantara, Jababeka Education Park, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Suasana pelatihan, semua serius bekerja sesuai peran mereka masing-masing. Ada yang CEO, marketing dan lain-lain (foto: Nur Terbit)

Suasana pelatihan, semua serius bekerja sesuai peran mereka masing-masing. Ada yang CEO, marketing dan lain-lain (foto: Nur Terbit)

Belajar Jadi Pengusaha

Untuk menjadi pengusaha, tentu harus dipelajari ilmunya. Nah, melalui pelatihan yang digelar President University dengan PT Inapen inilah diharapkan para peserta yang nota bene adalah mahasiswa jurusan bisnis semester 6 tersebut bisa langsung terjun ke dunia usaha sebagai tenaga “siap pakai”.

Adapun jenjang posisi bagi mahasiswa yang menjalani proses magang di perusahaan “binaan” President University ini antara lain dimulai dari posisi tertinggi yakni CEO, operator, sales hingga paling bawah sebagai staf biasa di perusahaan. Jadi semua peserta magang harus sama kemampuannya. Tidak heran jika setiap peserta bisa saja jadi bawahan di “perusahaan”, atau manager, tapi besoknya bakan bisa berperan sebagai bos.

Mereka para peserta pelatihan untuk menjadi pebisnis itu, tentu saja awalnya tidak diketahui kemampuan masing-masing oleh para instruktur atau fasilitator masing-masing. Seperti bagaimana menerima telepon pelanggan. Memang tidak boleh sembarangan karen sudah ada etikanya bagaimana tata cara menerima telepon.

Peserta pelatihan ini juga diroling atau digilir 2 hari sekali. Ada 5 siklus yang harus dilewati oleh para peserta magang ini, dan tidak boleh menempati posisi yang sama. Dalam praktek magang itulah, mereka dilatih bagaimana melayani pelanggan yang berhubungan dengan perusahaan. Misalnya ada konsumen dari petugas Depnaker mengenai ketenagakerjaan, juga penempatan dan prosedur penerimaan tenaga asing.

Mereka yang mengikuti kegiatan magang ini, adalah umumnya mahasiswa jurusan bisnis, dan masih duduk di semester 6. Para mahasiswa ini dipersiapkan untuk magang di pabrik yang sesungguhnya di luar kampus. Sekali magang dibutuhkan waktu sekitar 10 hari.

“Selama kurun waktu  tersebut mereka belajar bernegosiasi dengan kostumer dan suplyer. Bulan pertama diharapkan bisa beradaptasi. Untuk selanjutnya di bulan kedua baru deh diperdalam ilmunya biar lebih mahir,” kata Hartono, fasilitator dari PT Inapen.

Untuk pelatihan angkatan kedua ini, diikuti 35 mahasiswa jurusan administrasi bisnis. Rencana ke depan, semua mahasiswa dari 4 fakultas yang ada akan diikutkan juga dalam pelatihan ini. alam 2 hari sekali ada pergantian fasilitator. Ada jurnal kegiatan setiap hari.

Pada sore hari ada kegiatan laporan evaluasi sesuai bidang masing-masing. Hari itu saat kami berkunjung dan ikut berbaur di ruang laboratorium praktek, seorang mahasiswa sedang berperan sebagai pimpinan, manajer keuangan, menjelaskan kinerja perusahaan kepada tiga fasilitator yang duduk di depan mereka. Hebatnya, itu semua disampaikan dalam bahasa Inggris. Wow…

Blogger mengikuti suasana pelatihan, juga ikut serius (foto: Nur Terbit)

Blogger mengikuti suasana pelatihan, juga ikut serius (foto: Nur Terbit)

Kendala Teknis

Tidak berarti dalam menjalankan usaha, semua berjalan mulus saja tanpa kendala. Menurut Purwanto dari President University, kendala yang dialami mahasiswa magang ini secara umum adalah masalah kendala teknis. Lalu kendala tersebut dievaluasi dan dicarikan solusinya berdasarkan teori yang mereka sudah dapatkan di bangku kuliah.

“Misalnya bagaimana mengatasi problem di perusahaan kalau mengirim barang milik kostumer, apa perlu ekspedisi, juga asuransi jika dalam perjalanan atau proses pengiriman mengalami kerusakan dan lain sebagainya,” kata Purwanto.

Inapen sendiri adalah murni perusahaan milik putra Indonesia asli. Awalnya mau bekerja sama dengan Malaysia, dan berinduk ke Eropah. Tapi ternyata negosisasinya tidak ketemu sampai harus menunggu setahun vakum. Akhirnya bikin sendiri perusahaan bernama PT Inapen yang terhitung sejak Januari 2015 mulai beroperasi.

Melalui pelatihan yang dilaksanakan PT Inapen ini, menurut Hartono, diharapkan bagi peserta bisa memiliki kemampuan manajerial yang baik karena telah menjalani pelatihan proses bisnis dan kewirausahaan. (Nur Terbit)

 

8 Comments

Leave a Comment