Wisata

Teka-teki Seputar Pantai Losari Makassar

Berbagai jenis kuliner dapat dijumpai di sepanjang Pantai Losari Kota Makassar (foto: Nur Terbit)
Written by nurterbit

Tulisan ini diawali dari sebuah status di wall facebook saya berjudul: SEJUTA KENANGAN DI PANTAI LOSARI MAKASSAR. Tak banyak data & sejarah yang saya miliki mengenai Pantai Losari di sepanjang Jalan Penghibur Kota Makassar ini di luar kuliner Pisang Epe dan Coto – Konro – Sop-nya.

Kecuali, ya hanya satu, yakni bahwa pernah lahir sebuah film dengan setting tepi laut di sini, dengan judul SENJA DI PANTAI LOSARI. Selebihnya hanya mengandalkan ingatan dan kenangan, terutama ketika saya pulang kampung akhir November 2015 sekarang ini.

Yang pasti, sudah banyak orang yang meninggalkan jejak langkah masa lalu di sepanjang Pantai Losari, ya termasuk saya pribadi. Sebagai produk generasi era 70-80-an, saya pernah menghabiskan masa muda saya di Pantai Losari saat jadi perjaka jomblo Makassar.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, Pantai Losari disebutkan sebagai sebuah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah.

Pantai Losari Kota Makassar era tahun 1980-an (foto: Nur Terbit)

Pantai Losari Kota Makassar era tahun 1980-an (foto: Nur Terbit)

Kenangan berikutnya yang tidak kalah berkesan, saat masih jadi jurnalis muda karena di deretan bangunan sepanjang Jl Penghibur ini, saya dan teman2 wartawan pada tahun 1980-1986 (lalu saya hijerah ke Jakarta) pernah berkantor di Perwakilan Harian Terbit – Pos Kota Wilayah Indonesia Timur, di samping gedung CV Alam (sekarang Pualam).

Kantor Perwakilan Harian Terbit – Pos Kota ini posisinya menghadap langsung ke bibir pantai dan membelakangi toko olah raga Akbar Ali di Somba Opu. Di kantor inilah mengalir bertia-berita kasus 2 besar yang terjadi di Sulawesi, kawasan Indonesia Timur, terutama kota Makassar, ke kantor redaksi kami di Pulogadung, Jakarta Timur lalu menghebohkan dunia persuratkabaran di tanah air.

Itu berkat kejelian dan kegesitan alm Muhammad Thahir Ramli sebagai kepala perwakilan mengomandoi tim Terbit – Pos Kota melakukan investigasi report di lapangan. Tim investigasi kami ketika itu, selain saya (Nur Aliem Halvaima – Nur Terbit, jurnalis, lawyer dan blogger) juga dua bersaudara Mas Alim Katu, Samiang Katu (kini guru besar di UIN Alauddin Makassar), Theten Alhabsy (setelah berhenti jadi wartawan kini jadi pengusaha sukses di Saudi Arabia), Muhammad Said Mochtar (pengacara di Jakarta), Rabiatun Drakel (masih wartawan di Jakarta), Andi Salman Maggalatung (kini guru besar UIN Syahid Jakarta dan Komisi Fatwa MUI Pusat).

Juga ada Bustamin Amin (aktivis sosial), La Ode Hiari Zaidin (PNS di Sultra), Syahroel Ode (wiraswasta), Ilham Nur Putri (PNS di Jakarta), Rabiatun Drakel (jurnalis di Jakarta), Usamah Kadir (masih eksis sebagai wartawan di Makassar), fotografer Chandra Noor dan L. Hasan, Ibrahim Manisi (kini memegang media grup Jawa Pos Biro Pare-pare), Saleh Yadaeni (PNS Sulsel). Kami juga dibantu teman2 koresponden di daerah seperti Mohammad Chalid Said (Gorontalo), alm Siradjuddin Palaguna (Kendari Sultra), Andie Makasau (Palu Sulteng, kini jadi pengacara sukses).

Selain secara rutin di kantor berbentuk ruko ini, kami mengadakan diskusi dengan berbagai topik setiap bulan — di antara peserta diskusi itu: Hamid Awaluddin (mantan Menkumham) dan Aidir Amin Daud (kini Dirjen AHU Kemenkumham) ketika keduanya masih jadi reporter di surat kabar harian FAJAR.

Juga sejumlah wartawan senior sering ikut bergabung baik saat berlangsung acara diskusi, atau hanya sekedar mampir bersilaturrahim. Antara lain alm Andi Syahrir Makkuradde, Sohra Andi Baso, Mahaji Noesa, Burhanuddin Amin, Charles Arstaka, Yusuf Moha dan lain sebagainya.

Kasus-kasus Besar

Beberapa kasus besar juga berhasil kami ketik di kantor perwakilan surat kabar Jakarta yang terletak di Jl Penghibur tersebut sebelum dikirim ke Jakarta. Sambil mengetik, ditemani pula hembusan “anging mammiri” dari tepi bibir Pantai Losari.

Adapun berita2 kasus tersebut yang sempat mencuat menjadi berita nasional melalui kantor perwakilan koran Jakarta ini, antara lain:

Kasus penyimpangan dana APBD KMUP (Kota Madya Ujung Pandang era Walikota Abustam), Komersialisasi Foto Gubernur Amiruddin, Kasus Selingkuh Bupati Selayar, Pembunuhan Bupati Bone PB Harahap, Penemuan Mayat Wanita Hamil Tanpa Kepala, Korupsi Ganti Rugi Proyek Gula Bone di Camming, Percaloan Ganti Rugi Perumnas Sudiang Biringkanaya, Percaloan Pemindahan TPU Makassar ke Sudiang.

Juga tak kalah heboh, di kantor perwakilan ini pula dirangkai berita kasus2 yang diungkap alm Baharuddin Lopa saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel. Antara lain: Kasus Ganti Rugi SD Inpres, Kantor KUD, Reboisasi, Tukar Guling Penjara Karebosi ke Gunungsari, Ruislaq Penjara Maros, Pengurukan Pantai Losari jadi Makassar Golden Hotel, Ganti Rugi Perluasan Bandara Sultan Hasanuddin dan banyak lagi.

Panorama di senja hari di Pantai Losari Kota Makassar (foto: Nur Terbit)

Panorama di senja hari di Pantai Losari Kota Makassar (foto: Nur Terbit)

Losari Tempo Doeloe

Dahulu, pantai Losari ini dikenal dengan pusat makanan laut dan ikan bakar di malam hari (karena para penjual dan pedagang hanya beroperasi pada malam hari), serta disebut-sebut sebagai warung terpanjang di dunia (karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang pantai yang panjangnya kurang lebih satu kilometer).

Salah satu penganan khas Makassar yang dijajakan di warung-warung tenda itu adalah pisang epe (pisang mentah yang dibakar, kemudian dibuat pipih, dan dicampur dengan air gula merah. Paling enak dimakan saat masih hangat).

Saat ini warung-warung tenda yang menjajakan makanan laut tersebut telah dipindahkan pada sebuah tempat di depan rumah jabatan Walikota Makassar yang juga masih berada di sekitar Pantai Losari. Selain itu pada sore hari, semua orang bisa menikmati proses atau detik-detik tenggelamnya matahari.

Tahun 2006 pantai Losari tampil dengan wajah baru, dengan nama ikon: “Pelataran Bahari”. Ini menambah ikon baru bagi Makassar.

Salah satu sudut di Pantai Losari Kota Makassar (foto: Nur Terbit)

Salah satu sudut di Pantai Losari Kota Makassar (foto: Nur Terbit)

Siapa yang memberi nama Pantai Losari? Belum dipastikan apakah ada catatan yang berkenaan dengan sejarah dan riwayat pemberian nama pantai tersebut. Nama Pantai lokasi sudah melekat dengan kehidupan sehari-hari orang Makassar sehingga keberadaannya ibarat mengenal rumah sendiri tanpa perlu mengetahui dari mana asal usulnya.

Sejumlah literature juga tidak satu pun menyebutkan sejarah dan siapa yang memberi nama Pantai Losari. Sebelum dikenal sebagai Losari, warga Makassar menyebutnya Pasar Ikan. Di masa itu banyak pedagang pribumi yang berjualan. Di pagi hari dimanfaatkan sebagai pasar ikan, sedangkan di sore hari dimanfaatkan pedagang lainnya untuk berjualan kacang, pisang epe dan makanan ringan khas Makassar lainnya.

Satu catatan menyebutkan bahwa di tahun 1945, bangunan tambahan pantai Losari yang pertama dibuat. Desain lantai dasar beton sepanjang 910 meter digagas oleh Pemerintah Wali Kota Makassar, DM van Switten (1945-1946). Dimasa pemerintahan NICA tersebut, pemasangan lantai ditujukan untuk melindungi beberapa objek dan sarana strategis warga di Jalan Penghibur dari derasnya ombak selat Makassar.

Jadi, bisa diasumsikan bahwa pemberian nama Pantai ini pada saat dilakukan pembangunan pertamanya oleh Pemerintahan NICA namun makna kata Losari sendiri belum diartikan sampai saat ini. Apakah kata Losari itu berasal dari bahasa Belanda atau bahasa Makassar? Boleh ditelusuri lagi di http://tau-sejarah.blogspot.co.id/2013/03/sejarah-pantai-losari-beserta-teka.html

(Makassar, Jumat 20 November 2015)

Pantai Losari tempo doeloe (koleksi pribadi)

Pantai Losari tempo doeloe, tahun 1930 (koleksi pribadi)

8 Comments

  • Wow … masih kita’ ingat nama2 teman wartawan ta’ dulu dan kasus2 itu, Daeng? Oooh … pasti masih ada arsipnya ya?

    Waah, kalau wartawan ngeblog di sini uniknya, fakta dan datanya kuat.

    Eh, sekarang lagi di Makassar, ya?

    • @Mugniar, alhamdulillah masih berfungsi file ingatan saya sedikit hehehe…..masih banyak sih teman2 wartawan lain, tp saya tidak sebutkan karena di antaranya ada yang sudah wafat, pensiun atau alihprofesi. Arsip berita2nya masih ada, kalau untuk re-write, masih bisa tapi mungkin hrs diupdate data terbaru biar bisa nyambung dgn situasi sekarang.. tks sdh mampir di blog saya, kemarin saya juga blog walking ke blog bu Mugniar, luar biasa sdh banyak tulianta…

      Iya, sy sdh di Jakarta lagi, semalam baru tiba dari Makassar tp istri (Bunda Sitti Rabiah) masih bertahan melunasi rasa rindunya sama kampung dan keluarga, rencana balik ke Jakarta Rabu depan 25/11. Salam utk keluarga

  • Pantai Losari kini akan berubah jadi teluk Losari mas, soalnya akan termakan dengan reklamasi di depannya.
    Tapi memang losari punya banyak cerita, dulu sewaktu saya kecil sering diajak orang tua jalan-jalan disini menikmati senja sambil makan pisang epe, romantisme kala itu bener-bener masih teringat sekali

    • Wah menarik, dari pantai losasi jadi teluk losari hahahaha……. saya ingat wktu masih aktif jadi wartawan di Makassar, dulu era Kajati Sulsel Baharuddin Lopa, pernah menyeret pungasaha hotel tekenal di Makassar ke pengadilan gara2 reklamasi pantai losari utk membangun hotel. Pejabat pelabuhan juga diperiksa karena memberikan “ketebelece”.Eh sekarang, malah menjadi-jadi dan tambah gila-gilaan ya?

  • Bagus, Hebat & Penulis ber-Motifasi. Ma’af Pembetulan Korreksi Gbr. Tsb di atas yang sebenarnya Ini adalah : Pa’Lelongang atau Pasar ikan bertuah & bukan Pantai Losari, sedangkan yang letak sebenar-nya dari Nama Pantai losari itu tepat-nya antara didepan Saluran Selokan air Got Besar (bekas Gedung Studio serta Pemancar RRI yang Pertama (Radio Republik Indonesia Bahagian Timur) dengan Pe Rumahan Walik Kota Kota Madiya Makassar-Ujung-Pandang yang di mana dulu ada Pohon besar ber-Nama *Kembang Api, karena berwarna Merah* atau yang di sebut juga Kembang Pohon Flamboyan asal dari bahasa Perancis atau France [f l a m e] = api yang di sebut-kan menjadi Flamboyan. Journalist, Penulis & Fotograf. Raman Raman Roet Ramanroet Pasoloi

Leave a Comment