BUKU “ISLAM ALA PRABOWO”
YANG TIBA-TIBA MENIMBULKAN KONTROVERSI – Catatan Nur Terbit
Terus terang, saya ini baru penulis buku pemula yang masih belajar menulis buku dari kumpulan artikel atau tulisan yang pernah dimuat di berbagai platform media. Kalau mau diberi judul buku-bukunya, ya buku ala Nur Terbit-lah.
Dari mulai artikel atau tulisan yang pernah dimuat di surat kabar sore “Harian Terbit”, Pos Kota Grup, tempat saya pernah bekerja selama 34 tahun (1980-2014).
Dimulai dengan status sebagai koresponden (wartawan daerah untuk koran nasional) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), disusul sebagai wartawan di Jakarta setelah hijerah ke Ibukota.
Tulisan atau artikel lainnya, saya juga ambil dari yang pernah dimuat di media lain. Seperti “Kompasiana” dari Kompas Grup, “Kumparan”, “Blogdetik” dari Detikcom dan beberapa media online.
Jumlah buku saya pun belum seberapa. Baru dalam hitungan jari-jemari tangan.
Di antaranya buku “Wartawan Bangkotan” oleh penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) dan “Lika Liku Kisah Wartawan” oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.
Dari belasan buku yang sudah terbit, hanya 10 (sepuluh) yang termasuk karya sendiri. Sisanya, adalah buku keroyokan. Satu judul buku setebal 100-200 halaman, biasanya dikeroyok oleh 10-20 penulis.
Artinya satu judul buku ditulis secara “rame-rame” oleh sejumlah kumpulan penulis. Ya seperti buku “Islam Ala Prabowo” itulah yang “dikeroyok” oleh 21 orang nama penulis.
BUKU VIRAL YANG DILUNCURKAN
OLEH MUI DAN BAZNAS
Buku “Islam Ala Prabowo” yang diluncurkan oleh Majelis Ulama Indonesia – Badan Amil Zakat Nasional (MUI – BAZNAS) belum lama ini, menjadi perbincangan seru di kalangan kaum Muslimin. Apakah sekarang ada Islam model baru, paling tidak ala Prabowo?
Buku setebal 346 halaman, diluncurkan pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional Baznas di Jakarta oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar bersama Ketua Baznas Prof. Dr. KH Noor Achmad.
Buku “Islam Ala Prabowo” ini diberitakan diinisiasi oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani, ditulis oleh trio sakti Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
Katanya, buku “Islam Ala Prabowo” ini merupakan mosaik tafsir para tokoh tentang bagaimana nilai-nilai Islam tercermin dalam kepemimpinan Prabowo Subianto.
DIKRITIK TOKOH AGAMA
Pendakwah Hilmi Firdausi atau Gus Hilmi, ikut menyoroti buku tersebut melalui akun X pribadinya pada Sabtu (5/9/2026), seperti dikutip kembali oleh Tribunenews pada hari yang sama.
Selain itu ada seorang teman, kebetulan staf pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, salah satu perguruan tinggi negeri keagamaan di negeri ini, masih satu alumni dengan saya, ikut memberi komentar:
“Bisa dilihat dari daftar isi buku itu; siapa-siapa penulisnya dan apa judulnya,” kata Emharjum, sapaan akrab Mohamad Harjum Rahim, teman tersebut. Oh pantas….., kata bathin saya.
Nama penulis yang tertera di daftar isi buku “Islam Ala Prabowo” ini, memang bukan orang biasa. Setidaknya mereka adalah mantan menteri dan menteri aktif, tokoh organisasi, ormas, politikus, intelektual dan profesional lainnya.
3 PENULISNYA MEMBANTAH
Lebih serunya lagi di buku ini, sebab 3 (tiga) di antara 21 orang yang namanya tercantum sebagai penulis buku tersebut, membantah tidak ikut menulis tapi namanya ada dalam daftar sebagai salah satu penulis. Loh?
Misalnya, Gus Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Melalui istrinya, Ning Jazilah Annahdliyah alias Ning Jazil menyatakan, suaminya tidak pernah membuat tulisan apa pun, seperti dikutip Rosadi Jamani di akun FB-nya.
Demikian pula, suaminya tidak pernah memberi izin penggunaan namanya. Dalam buku itu Gus Kautsar menulis dengan judul “Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto” halaman 318.
Begitu juga Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui Instagram pribadinya, ia dengan tenang menyampaikan, dirinya tidak pernah mengirimkan tulisan terkait buku tersebut.
Di dalam buku itu, tulisan beliau berjudul “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan, dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan” halaman 222.
Bantahan terbaru datang dari KH Said Aqil Siroj mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) dua periode masa khidmat 2010–2021 yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022–2027.
Said Aqil Siroj, kini juga menjabat sebagai rektor Univesitas Nahdlatul Ulama Cirebon dan komisaris utama Kereta Api Indonesia (KAI), mengaku namanya dicatut dan membantah ikut menulis di buku “Islam Ala Prabowo”.
Selengkapnya baca pengakuan para penulis yang mengaku namanya “dicatut” di buku tersebut, klik di link FB ini
BUKU YANG PERNAH JADI
KONTROVERSI DI INDONESIA
Beberapa judul buku di Indonesia yang sempat memicu kontroversi, dilarang edar, atau dibredel karena dianggap bertentangan dengan kebijakan politik, norma sosial, atau ideologi negara pada masanya.
* Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer): Terdiri dari “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “Rumah Kaca”; sempat dilarang pada era Orde Baru karena dituduh menyebarkan ajaran Marxisme-Leninisme.
* Demokrasi Kita (Mohammad Hatta): Esai kritik tajam terhadap sistem Demokrasi Terpimpin era Presiden Soekarno yang berujung pada pelarangan peredarannya pada tahun 1959.
* Jokowi Undercover (Bambang Tri Mulyono): Buku yang memuat klaim palsu dan menyesatkan mengenai latar belakang serta ijazah Presiden Joko Widodo.
* Prabowo Sang Kontroversi (Erros Djarot): Buku tahun 2007 yang menyoroti isu penculikan aktivis dan rivalitas militer di penghujung Orde Baru.
* Di Bawah Lentera Merah (Soe Hok Gie): Membahas sejarah pergerakan kiri awal di Indonesia dan dinamika Sarekat Islam di Semarang.
Nah kalau menurut pendapat Anda sendiri, bagaimana dengan buku “Islam Ala Prabowo” yang menimbulkan kontroversi ini?
Salam : Nur Terbit
* Tulisan blog hari kedua puluh satu (ke-21) Senin 7 September 2026 untuk Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81 “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri”, yang digelar Wijaya Kusumah (Omjay) – https://www.wijayalabs.com
Video peluncuran buku biografi Sabri Saiman yang dihadiri Anies Baswedan di Tanjung Priok, Jakarta Utara (sumber video : Channel YouTube @NURTERBIT) 👇







