Peristiwa Reportase

Meliput Aksi Demo “Marsinah” Ala Buruh KBN Nusantara

Blogger Jurnalis Lawyer
Written by nurterbit

Teks foto: Dengan kamera disandang era wartawan media cetak,  setiap peristiwa pun bisa diabadikan (foto dok Nur Terbit)

PERNAH DI-“MARSINAH”-KAN SAAT MELIPUT DEMO BURUH – Cerita Nur Terbit bagian/hari keempat (4).

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, baru saja digelar pada tanggal 17 Agustus 2026 lalu di seluruh pelosok Nusantara. Puncaknya di Istana Presiden.

Meraih kemerdekaan tersebut, seperti sering diulang-ulang dalam pidato resmi para pejabat, bukanlah hadiah dari penjajah kolonial Belanda dan disusul pendudukan Jepang atas tanah air kita semua.

Tapi sebuah perjuangan panjang para pahlawan kita, leluhur dan nenek moyang kita, yang berjuang sampai titik darah penghabisan agar kita semua anak-cucunya bisa merdeka. Ya merdeka berpendapat, merdeka berfikir dan sejahtera bangsanya.

Tapi ada juga perjuangan serupa, meski dalam bentuk lain dari perjuangan para buruh kita. Masih ada yang ingat dengan Marsinah?

Marsinah adalah pejuang buruh yang namanya dijadikan simbol perlawanan. Beritanya heboh. Viral karena ramai diberitakan media ketika itu.

Nasibnya tragis. Marsinah ditangkap lalu disekap usai memimpin aksi demo. Belakangan dia ditemukan sudah tidak bernyawa lagi. Sudah jadi mayat. Marsinah diduga tewas terbunuh.

“Saya pernah ikut baca bocoran laporan visum et repertum dr. Mun’im ldris atas Marsinah ini, ngeri banget,” kata tetangga saya, Ading Brotoadikusumo.

MELIPUT AKSI DEMO BURUH

Seorang teman wartawan yang cukup senior dari koran harian “Sinar Pagi” Jakarta, namanya Effendi Siahaan, mengingatkan saya kembali dengan peristiwa yang saya alami dan mirip kasus tragedi Marsinah.

“Bang Nur sudah lupa dengan teman kita Rukma Bangun dari surat kabar Sinar Pagi?,” kata Bang Fendy, sapaan akrab Effendi Siahaan. Mendengar nama Rukma Bangun, saya langsung terbayang ketika pernah juga disekap saat meliput aksi demo buruh.

Benar kata Bang Fendy. Rukma Bangun dari “Sinar Pagi” kog dilupakan Daeng?, tulisnya di kolom komentar laman FB saya.

“Oh iya betul, lupa padahal kenal baik sama saudaraku Rukma Bangun ini,” kata saya, menjawab komentar bang Fendy di laman Facebook saya soal status “Rencana Reuni Wartawan Bangkotan”.

Saya pun akhirnya bercerita ke Bang Fendy. Bahwa ada pengalaman unik saya dengan Bang Rukma, ketika saya meliput demo buruh di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cilincing, Jakarta Utara, era tahun 1980-an.

“Waktu itu saya sempat disekap oknum Koramil di pos keamanan perusahaan yang buruhnya lagi demo”.

Oknum Koramil tersebut mungkin trauma dengan kasus Marsinah di Jatim, takut demo buruh di KBN Nusantara ini ikut pula saya beritakan,” kata saya.

Namun karena memang saat itu sudah deadline (batas waktu pemuatan berita) untuk koran sore seperti di tempat saya bekerja di “Harian Terbit”, Pos Kota Grup, akhirnya saya tidak sempat memuat lagi berita aksi demo buruh hari itu juga.

Lalu begitu saya kembali dari lokasi liputan di KBN (setelah saya dilepas, selesai disekap di pos keamanan perusahaan oleh oknum Koramil), saya mampir di press room kantor Walikota Jakarta Utara tempat teman wartawan berkumpul.

Pengalaman disekap oleh oknum Koramil saat meliput demo buruh tersebut, kemudian saya ceritakan kepada bang Rukma Bangun, teman wartawan dari “Sinar Pagi”.

Beberapa teman wartawan yang lain juga ikut mendengar pengalaman konyol saya ini hehe..

Besok paginya, eh beritanya sudah dimuat di halaman depan oleh Bang Rukma Bangun. Istilahnya berita utama alias HeadLine (HL) di “Sinar Pagi”, koran tempat kerjanya Bang Rukma sehari-hari.

Judulnya: “Wartawan Disekap, Liput Demo Buruh di KBN Cakung”. Maka hebohlah KBN, juga di kantor saya dengan munculnya berita tersebut hehe….

Aduh Bang Rukma Bangun, koq gak ngomong ke saya kalau mau dimuat beritanya? Pantas waktu saya cerita pengalaman disekap, si Abang ini pura-pura terlihat wajahnya tidak serius mendengarnya.

Ternyata diam-diam dia mencatat pengalaman saya disekap oknum Koramil…bukan dicatat di notesnya, tapi di kepalanya hahaha…

Gara-gara berita “Sinar Pagi” itulah, akhirnya saya dapat tugas baru. Lebih tepatnya tugas tambahan sebagai wartawan. Yaitu, ditugaskan menulis cerita dibalik aksi demo buruh yang pernah terjadi di Indonesia.

Salah satunya, minta dituliskan juga aksi demo buruh di KBN ala demo Marsinah sebagai contoh kasus terbaru. Nah sebagai background kasus, adalah kisah tragis Marsinah itu. Ya…ampun, kerja keraslah saya.

Tapi alhmdulillah, akhirnya tulisan saya itu dimuat bersambung di surat kabar “Harian Terbit”, di halaman depan (kaki) selama seminggu.

Rasa tegang, pusing, capek, hingga harus begadang menulis berita ala kasus Marsinah, langsung terbayar. Hilang semua beban berat tersebut hehehe…

SIAPA ITU MARSINAH?

Masih ada yang ingat dengan Marsinah? Pejuang buruh yang namanya dijadikan simbol perlawanan. Begitu pernah ramai diberitakan media, salah satunya http://www.tumblr.com/tagged/marsinah.

Martin Luther King Jr pernah berkata bahwa sejarah adalah guru besar. Sekarang semua orang tahu bahwa gerakan buruh tidak mengurangi kekuatan negara.

Dengan meningkatkan standar hidup, kata Martin, jutaan tenaga kerja secara ajaib menciptakan pasar bagi industri dan mengangkat seluruh bangsa pada tingkat produksi.

“Mereka yang menyerang pekerja melupakan kebenaran yang sederhana, namun sejarah mengingat mereka (buruh),“ kata Martin.

Marsinah sendiri adalah nama yang tak asing di telinga para buruh dan pegiat buruh. Namanya menjadi kaca besar yang mencerminkan buruknya nasib kaum buruh di Indonesia.

Dia adalah perempuan desa yang bekerja sebagai buruh di PT. Catur Putra Surya, Sidoarjo. Kehidupan ekonomi yang kian surut, membulatkan tekadnya untuk berjuang menuntut keadilan.

Ia dan teman-teman sesama buruh, diperas tenaganya tanpa mendapat bayaran yang layak. Namun, perjuangannya di masa Orde Baru membuat Marsinah meregang nyawa pada 08 Mei 1993.

Tanggal kematian Marsinah itulah, yang menjadi simbol perjuangan atas hak kaum buruh. Hingga 20 tahun pasca penangkapan dan pembunuhan Marsinah.

Demikian cerita ringan dari pengalaman saya sebagai wartawan, saat meliput aksi demo buruh di KBN Nusantara. Cukup ngeri-ngeri sedap. Semoga bermanfaat.

Salam : Nur Terbit.

Tulisan (ke-5) ini adalah edisi perjuangan buruh, yang diikutkan pada lomba blog kemerdekaan yang digelar Wijayah Kusuma (Omjay) di hari keempat: Jumat 21 Agustus 2026.

Leave a Comment