Peristiwa Wartawan

Investigasi Kasus Besar, Bagi Wartawan Itu Ngeri-ngeri Sedap

Written by nurterbit

KLIK LINK INI – Video Pemkot Makassar belum bayar ganti rugi tanah rakyat setelah dijadikan TPU Sudiang – Sumber video: Channel YouTube @ NURTERBIT 

Investigasi Kasus Besar, Bagi Wartawan Ngeri-ngeri Sedap. Profesi yang cukup menantang. Di lapangan mengejar narasumber dan peristiwa, di kantor dikejar deadline atau batas akhir penurunan berita.

Awalnya saya hanyalah seorang reporter biasa, wartawan lapangan, di salah satu koran lokal di Kota Makassar Sulawesi Selatan, era tahun 1979.

Selanjutnya sambil kuliah, mencoba menjadi koresponden (wartawan daerah di Makassar tapi beritanya dimuat oleh koran nasional di Jakarta).

Saat itu, saya bekerja untuk surat kabar sore Harian Terbit, Pos Kota Grup, Jakarta.

Grup media Pos Kota ini salah satu pemilik dan pemegang sahamnya adalah mantan Ketua PWI Pusat, mantan Ketua Umum Golkar dan mantan Menteri Penerangan, H. Harmoko.

Pak Harmoko di atas kursi roda semasa hidup (Foto : Tempo.co)

Pak Harmoko di atas kursi roda semasa hidup (Foto : Tempo.co)

Selain harus menulis artikel di sejumlah majalah dan tabloid, bahkan “nyambi” jadi penyiar radio demi bisa menutupi uang kuliah, beli diktat dan buku, bayar kos dan transport sehari-hari.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Saya merantau ke Jakarta. Itu karena ingin menambah wawasan dan pengalaman di dunia jurnalistik, terutama ingin merasakan sendiri bagaimana menjadi wartawan di Ibukota Negara RI.

HIJERAH KE JAKARTA

Maka tahun 1984 saya nekat hijerah ke Jakarta dan bergabung dengan teman-teman lain di redaksi Harian Terbit, di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur.

Tugas sehari-hari meliput situasi dan peristiwa Jakarta, juga kesibukan masyarakatnya Kota Metropolitan.

Ya berita kriminalnya, peristiwa hukumnya, liputan persidangan di pengadilan dan situasi perkotaan Kota Jakarta — sebagai ibukota yang menjadi tumpuan harapan para pencari kerja, khususnya kaum urbanisasi dari daerah.

Kebetulan selama jadi reporter di Jakarta — kemudian selanjutnya dipercaya memegang desk kriminal, hukum dan perkotaan — sejak itulah saya banyak meliput berita hukum karena sering berhubungan dengan Aparat Penegak Hukum (APH).

Seperti bertemu dan akrab dengan petugas polisi, jaksa, hakim, pengacara, bahkan petugas Lapas – Lembaga Pemasyarakatan (penjara) dan kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Dua buku saya sebelumnya : "Lika-Liku Kisah Wartawan" dan "Wartawan Bangkotan"(dok Nur Terbit)

Dua buku saya sebelumnya : “Lika-Liku Kisah Wartawan” (diterbitkan PWI Pusat) dan “Wartawan Bangkotan” YPTD (foto dok Nur Terbit)

MELIPUT PERISTIWA BESAR

Beberapa berita besar di Jakarta dan sekitarnya, sempat jadi obyek liputan saya dan menjadi berita utama di Harian Terbit.

Antara lain seperti kasus Tanjung Priok (12 September 1984) yang menewaskan Amir Biki dan ratusan umat Islam. Kasus konflik etnis Madura-Betawi di Cakung, Jakarta Timur.

Bersama teman-teman wartawan peliput sidang di pengadilan (foto dok Nur Terbit)

Bersama teman-teman wartawan peliput sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, saya paling kanan (foto dok Nur Terbit)

Juga berita penemuan mayat terpotong 13, pembunuhan mantan peragawati Dice dengan pelaku Pak De Sirajuddin, pembunuhan pengusaha Nazaruddin melibatkan caddy golf wanita dan Antasari Azhar (mantan Kajari Jakarta Selatan dan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi – KPK).

Juga ada kasus pembunuhan anak kandung Arie Hanggara yang tewas setelah disiksa oleh orangtuanya, pembunuhan Ibu Guru Diah yang meregang nyawa di tangan suaminya sendiri, hingga sidang praperadilan terhadap Menteri Sosial (Mensos) karena kasus perjudian dan Undian Harapan.

Begitu juga liputan sidang korupsi pembobolan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dengan terdakwa Kepala Cabang Suparman dan pengusaha Edy Tansil.

Kasus korupsi ini melibatkan mantan Pangkopkamtib Sudomo sebagai saksi, serta pemboman bank BCA dan Candi Borobudur.

Tidak ketinggalan ikut meliput berbagai aksi demo dan kerusuhan di Jakarta.

Di antaranya demo anti Soeharto di DPR Senayan, kerusuhan 1998, kebakaran gedung Sarinah Thamrin, sidang teroris dan kasus penyerobotan tanah warga Mangga Dua Utara, Jakut dan sekarang jadi pusat perbelanjaan.

Meliput kasus besar dan berat seperti ini, bukan saja ketika sudah di Jakarta. Sebelumnya sudah sering meliput di daerah terpencil di Sulawesi Selatan, terutama Kota Makassar.

Seperti pembunuhan Bupati Bone PB Harahap yang tewas di tangan Kaseng, tukang kebunnya sendiri. Semua tidak terlewatkan dari mulai pengungkapan kasus hingga perkaranya digelar di pengadilan, serta Kaseng menjalani hukuman dan meninggal di penjara.

Sebagai wartawan koresponden Harian Terbit - Pos Kota Perwakilan Sulawesi menjelajah pelosok desa di Sulawesi Selatan dengan kendaraan operasional Harian Terbit. (dok Nur Terbit)

Sebagai koresponden Harian Terbit – Pos Kota Perwakilan Sulawesi, menjelajah pelosok desa di Sulawesi Selatan dengan kendaraan operasional. (dok Nur Terbit)

Peristiwa menghebohkan lainnya, adalah penemuan mayat wanita hamil tanpa kepala di persawahan, di Kabupaten Bone melibatkan oknum petugas.

Juga ada kasus perselingkuhan oknum Bupati di Selayar, serta oknum Camat di Makassar yang membackingi lokasi pelacuran.

Demikian kisah perjalanan saya sebagai wartawan, dari daerah di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), hingga kemudian merambah ke Ibukota Jakarta.

Mohon maaf jika ada salah kata, khilaf dalam penyebutan nama, kota dan lain-lain sebab saya ingat sebagai manusia sangat terbatas. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin…

Salam : Nur Terbit 

* Tulisan blog personal hari kesembilan belas (ke-19) edisi Jumat 4 September 2026, untuk Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81 “Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri”, yang diadakan oleh Wijaya Kusumah (Omjay) – www.wijayalabs.com

KLIK LINK INI – Peringatan Hari Anti Korupsi di Tepi Pantai Losari Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) – Sumber video : Channel YouTube @NURTERBIT

Sponsor lomba blog (dok : Ist)

Sponsor lomba blog (dok : Ist)

Leave a Comment