Reportase

Mudik Terlama di Makassar Sejak 35 Tahun Merantau ke Jakarta

Written by nurterbit

Cerita Mudik dari Kota Makassar

Hari ini adalah lebaran hari kelima saya di Kota Makassar dalam rangka liburan mudik lebaran Idul Fitri 1436 H. Mudik kali ini memang termasuk mudik istimewa. Betapa tidak, selama 35 tahun merantau ke Jakarta, baru tahun 2015 ini bisa mudik cukup lama. Hampir dua bulan penuh. Biasanya mudik bersama anak istri di malam takbiran, atau kadang sehari setelah lebaran (H + 1).

Makanya, mudik kali ini sangat bahagia sekali sebab bisa sekalian berpuasa Ramadhan sekaligus berlebaran dan berkumpul dengan seluruh anggota keluarga. Kebahagiaan yang lain adalah “peserta” mudik keluarga kali ini — selain Saya, Bunda Sitti Rabiah (istri), Akbar Ramadhan (putra sulung) — juga sudah bertambah dengan adanya Annisa Wulandari (anak mantu) dan seorang cucu yang cantik dan lucu: Senandung Aqila Akbar (1,5 tahun) ikut dalam rombongan.

Duhai “Kota Anging Mammiri” kami datang dengan tim spesial, minus Siti Harfiah Nur, putri bungsu yang sejak dua tahun lalu sudah menetap di Makassar karena menjalani kuliah di Universitas Negeri Makassar, salah satu perguruan tinggi negeri di ibukota Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus ibukota Indonesia Bagian Timur ini.

Di balik mudik spesial ini, ada cerita tersendiri dengan si putri bungsu selama kuliah di “Kota Daeng” ini. Awalnya cerita ini saya tulis berupa status panjang di Facebook dengan judul: KETIKA ANAK RANTAU PULANG KAMPUNG, dipublish 8 Oktober 2013 pukul 9:19. Berikut cerita selengkapnya:

*****

Buka puasa bersama istri restoran Pualam, Pantai losari Makassar (dok pribadi)

Buka puasa bersama istri restoran Pualam, Pantai losari Makassar (dok pribadi)

Anak gadis saya yang bungsu, cerita soal pengalamannya di awal2 kuliah di Makassar, Oktober 2013 sebulan terakhir ia diterima registrasi di kampus Phinisi di Jalan Andi Pangeran Pettarani ini. Sebagai hasil “produksi” anak rantau yang lahir di Jakarta, dia terkadang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang2 sekitarnya, terutama jika menggunakan bahasa daerah lokal, Bugis atau Makassar.

Contoh kecil, ketika berangkat kuliah di pagi hari. Dia memilih angkutan “Bentor” (Becak Motor) yang diangapnya lebih praktis, lebih cepat, dan sedikit eksklusif-lah menurut dia. Awal-awal “berbentor-ria”, dia langsung dikenakan tarif¬† “istimewa” sebagai orang pendatang, kaum urban.

Jadinya, tarif penumpang lebih mahal, karena dianggap anak Jakarta, atau mungkin dikira orang yang “buta” soal peta dan situasi kota Makassar. “Jarak dekat aja, sampai bayar Rp20.000-30.000, deh pak,” katanya mengeluh kepada saya.

Putri Bungsu di kampus Phinisi UNM Makassar (foto:Nur Terbit)

Putri Bungsu di kampus Phinisi UNM Makassar (foto:Nur Terbit)

Pagi itu, dia menelpon lagi dari Makassar — yang seringkali diakhiri dengan permintaan rutin, minta dikirim uang jajan bulanan dan yang paling sering adalah minta dikirimin pulsa. Sebuah kebiasaan baru lainnya adalah selalu melapor aktivitas kampusnya. Lapor kalau naik Bentor lagi, tapi bayarnya sudah beda. Tidak lagi Rp20.000-30.000, tapi dengan tarif biasa, Rp10.000,- layaknya orang asli kota Makassar.

“Kenapa bisa murah begitu, Dek?,” tanya saya. Dia ketawa, seolah merasa menang lomba.
“Adek coba-coba nekat pake logat Makassar aja Pak, kayak ngomongnya temen-temen kampus. Adek bilang, ‘jangki mahal kodong, sepuluh ribumo na Daeng?“. “Oh iya, bisaji sepuluh ribu ka anak sekolah jako, naik mako paleng,” kata Daeng Bentor.

Beberapa saat, komunikasi terputus. Saya yakin, si Adek pasti kehabisan pulsa. Sebentar lagi dia pasti ngirim SMS, “Pak, kirimin pulsa dong. Uang jajan Adek sudah menipis, LABBUSU’MI (sudah habis, bahasa Makassar)”.

“Cepat amat sih Dek, diirit dong, jangan boros”, balas saya.
“Ya, maklum aja pak, Adek ini mahasiswa PACCE KODONG (miskin, melarat kasihan)”.

Hahaha…..Adek…Adek…manjanya nggak sembuh-sembuh.

Bersama Putri Bungsu dalam penerbangan ke Makassar (foto: dok Nur Terbit)

Bersama Putri Bungsu dalam penerbangan ke Makassar (foto: dok Nur Terbit)

Leave a Comment