Hiburan Music

Begini Serunya Jadi Penyiar Radio

Written by nurterbit

Teks: Saya di tengah dalam pakaian adat Bugis-Makassar, usai jadi MC pernikahan adat didampingi saudara sepupu dan paman (foto dok Nur Terbit)

DARI GANDARIA KE GAMASI, RADIO BERBAHASA DAERAH DI KOTA MAKASSAR SULAWESI SELATAN – Cerita Nur Terbit

Sekitar tahun 1960-1980-an ada stasiun pemancar radio swasta bernama “Radio Gandaria” di Jalan Buru No. 28 Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Radio ini mengudara di frekuensi atau gelombang AM. Saya salah satu penyiarnya. Berikut pengalaman saya sewaktu jadi penyiar radio.

Radio swasta “Gandaria” milik Haji Ambo ini, pada pagi dan siang hari banyak dimonitor atau didengar oleh warga “Kota Daeng” nama lain Kota Makassar. Pada pagi hari ada program acara “Indo’ Sidenreng” yang berbahasa Bugis.

Diasuh oleh duet penyiar: Bung Zaenal sebagai “Baso Pangkaje’ne” dan Ida Syahrani sebagai “Indo’ Sidenreng” atau emak, ibu dari Sidenreng.

Adapun Sidenreng adalah nama daerah mayoritas etnis Bugis di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.

Sebagai mantan penyiar radio, sering diminta jadi MC atau host acara adat (foto dok Nur Terbit)

Sebagai mantan penyiar radio, sering diminta jadi MC atau host acara adat (foto dok Nur Terbit)

Sementara di siang hari, ada program acara “Baso’-baso’na Radio Gandaria”. Di program berbahasa daerah Makassar ini, diasuh oleh penyiar mayoritas kaum pria (Baso) yang para pendengarnya selain di Sulawesi Selatan, bahkan siarannya didengar sampai ke negeri Jiran Malaysia.

Sedang pada malam hari, ada program acara untuk anak muda yang cukup digemari oleh banyak pendengar setia usia remaja di Radio Gandaria. Namanya “Bisikan Kalbu”, disingkat “Biskal”. Disiarkan mulai pukul 22.00 – 24.00 WIB.

Acara “Biskal” ini diasuh oleh Bung Zaenal, penyiar tetap Radio Gandaria — yang di pagi hari juga mengelola “Indo’ Sidenreng” bersama Ida Syahrani dan siang hari ikut nimbrung di acara “Baso’-baso’na Radio Gandaria” dengan teman penyiar lain.

PENDENGAR RADIO YANG SETIA 

Sekedar diketahui, umumnya program acara di radio selama ini memang sengaja melibatkan langsung para pendengar setianya dalam program “Pilihan Pendengar”.

Mereka memilih lagu dan ucapan dan sapaan, lalu penyiar dibantu operator di studio memutarkan lagunya.

Para generasi muda yang menjadi fans atau pendengar radio yang datang dari penjuru kota, bahkan hingga ke daerah terjauh di kabupaten, mengirim karya puisi, cerita pendek (cerpen) atau surat terbuka mereka ke studio (radio) untuk orang yang dicintainya.

Saya sendiri mengenal Radio Gandaria di “Kota Anging Mammiri” ini, juga berawal sebagai pendengar terutama di siang dan malam hari.

Pada siang hari, saya mengirim ucapan dan permintaan lagu daerah Makassar di acara “Baso’-baso’na Radio Gandaria”. Atau laki-lakinya Radio Gandaria.

Sedang di malam hari, mengirim “cerpen” atau “surat terbuka” di acara “Bisikan Kalbu” (Biskal).

Tidak menyangka ketika tiba-tiba ditawari jadi penyiar radio, mentang-mentang terbiasa pegang mic hehe...(foto dok Nur Terbit)

Tidak menyangka ketika tiba-tiba ditawari jadi penyiar radio, padahal hanya modal nekat saja hehe…(foto dok Nur Terbit)

DITAWARI JADI PENYIAR 

Suatu malam, saya membawa sendiri “surat terbuka” karya saya ke studio Gandaria untuk dibacakan penyiar, sambil berkenalan langsung dengan Bung Zaenal, sebagai pengasuh “Biskal” di malam hari.

Ternyata tidak sekedar dapat melihat langsung penyiar siaran, tapi ada tawaran yang menggiurkan. Apa itu?

“Bagaimana kalau penulis surat terbuka ini dibacakan sendiri oleh penulisnya?,” kata Bung Zaenal.

“Jadi bukan saya sebagai penyiar radio yang bacakan seperti selama ini. Bagaimana? Apakah bersedia baca sendiri surat terbuka ini?,” usul Bung Zaenal, yang tiba-tiba mengajak saya masuk ke ruang siar yang berada dibalik dinding kaca.

Maka malam itu, untuk pertama kalinya di acara “Biskal” Radio Gandaria tersebut, penulisnya sendiri yang baca surat terbuka karyanya.

Bung Zaenal sebagai operator dan saya bertindak sebagai “penyiar” dadakan. Itu adalah pengalaman berkesan bagi saya. Penyiar radio swasta euy.. Keren…

Bukan itu saja. Ada info keren yang lain dari Bung Zaenal. Katanya, disaat saya baca surat terbuka melalui microphone radio yang lagi mengudara itu, Bung Zaenal ditelepon oleh pemilik radio. Katanya lagi, Sang Boss memuji suara saya.

“Siapa tadi yang baca Bisikan Kalbu? Suaranya berat. Ngebass, cocok jadi penyiar. Coba ditawarin. Mau tidak jadi penyiar Radio Gandaria?,” kata Sang Boss, seperti yang ditirukan Bung Zaenal.

Tanpa pikir panjang, saya jawab: “Ya…maulah”, kata saya. Masa’ kesempatan langka seperti ini dibiarkan terlewatkan begitu saja ya, hehehe.

Nama udara saya: “Aliem Halvaima” untuk siaran berbahasa Indonesia, atau “Baso Balangpocci” untuk siaran berbahasa Makassar.

Maka sejak itu, saya termasuk orang tersibuk. Pagi saya berangkat kuliah di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN – kini UIN – Universitas Islam Negeri) Alauddin di Gunung Sari, siang menyiar di Radio Gandaria dengan bahasa daerah, malam baca surat di “Bisikan Kalbu”.

Di sela-sela kesibukan tersebut, saya di lapangan masih sempat mengejar narasumber untuk bahan berita sebagai wartawan. Ya..”Wartawan Bangkotan” karena dari tahun 1979 hingga sekarang masih setia menjalani profesi wartawan.

Berpose di foto KH Noer Alie, pahlawan nasional dari Bekasi, Jawa Barat (foto dok Nur Terbit)

Berpose dengan latar belakang foto KH Noer Alie, pahlawan nasional dari Bekasi, Jawa Barat (foto dok Nur Terbit)

DARI GANDARIA KE GAMASI

Sekali waktu saya pulang kampung mudik ke Makassar. Saya mendengar siaran radio “Gamasi” yang memutar lagu-lagu daerah Makassar.

Saya sebagai mantan penyiar Radio Gandaria, juga di Makassar era 1980-an jadi ingin bernostalgia lagi lalu mendatangi studio Gamasi di Jl. Veteran Selatan No. 71 Kompleks Marindah Blok B12 Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Di studio Radio Gamasi ini, ternyata saya bertemu teman lama; ada Adi yang nama udaranya “Baso Kaca” (Baso panggilan laki-laki Makassar, Kaca karena berkacamata), pernah sama-sama dulu di Gandaria.

Saya sendiri di Radio Gandaria memakai sebagai penyiar dengan nama udara “Baso Balangpocci” (nama lain dari Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, tempat kelahiran saya).

Baso Balangocci  saya plesetkan dalam bahasa Makassar yang artinya: laki-laki yang selalu basah pusarnya hehehe….

Saya juga bertemu di radio Gamasi hari itu Syarif Daeng Nai, penyiar idola saya waktu di Gandaria pakai nama Baso Gambang (tape beras ketan hitam), juga ada Usman Hendrayanis (Baso Pahella, petualang).

Membaca sejarah berdirinya radio Gamasi, ada nama Masno, ternyata adalah sebagai pendiri Gamasi, tapi sudah keluar dari Gandaria ketika saya ikut bergabung di studio yang pemancar dan studionya berada di Jalan Buru Nomor 28 Kota Makassar itu.

Selain Daeng Nai, Usman Hendrayanis, Adi Baso Kaca, Masno, masih banyak lagi teman-teman eks penyiar Gandaria yang tidak saya ketahui lagi kabarnya sampai sekarang.

Seperti Sahabuddin (Baso Poteng, tape ubi kayu), Zainal (Baso Pangkajene, nama daerah di Sulsel), Ida Syahrani (Indo Sidenreng, emak dari Sidrap ) dan lain-lain.

Terakhir, saya ketemu Agus Dharmakusuma (Baso Pedda, pitak di kepala) di Tanjung Priok Jakarta Utara bersama istrinya karena sama-sama merantau ke Jakarta (meski saya lebih duluan hijerah ke ibukota).

Dia sempat “numpang” di rumah kontrakan saya di Tanjung Priok, Jakarta Utara sebelum akhirnya pria suku Tanah Toraja (Tator) Sulawesi Selatan ini diterima menjadi penyiar “Radio Cenderawasih”, Jl. Batu Ceper, Jakarta Pusat.

Kabar terakhir, Agus sudah almarhum meninggalkan seorang istri dan seorang putri.

Nah itulah sekedar kenangan bersama Radio Gamasi, Radio Gandaria dan teman-teman sesama mantan penyiar. Adapun Gamasi sendiri dengan tagline: “Gaya Makassar Ada Disini”.

AWAL BERDIRINYA RADIO GAMASI

Radio Gamasi 105.9 Fm Makassar ini didirikan oleh Abdul Hamid yang akrab disapa Masno. Dia adalah penyiar senior, kelahiran Makassar 31 Agustus 1948, jebolan penyiar Radio Gandaria tahun 60-an.

Cikal bakal berdirinya Radio Gamasi 10.59 Fm berawal dari impian Masno yang ingin mempopulerkan budaya Makassar lewat radio. Sehingga muncullah ide di benak Masno untuk mendirikan radio yang kontennya khusus lagu-lagu Makassar.

Awal tahun 1980 akhirnya Masno mundur sebagai penyiar radio Gandaria, dan Juni 1980 dia dirikan stasiun Radio namanya Gamasi.

Radio Gamasi konsisten dengan format etnik Makassar, salah satu dari 4 etnis besar di Provinsi Sulawesi Selatan. Antara lain etnis Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja.

Adapun program acara andalan Radio Gamasi antara lain: Tambara, Damai, Pacarita, Laugi, Tenda, Kelong Melayu.

Sedangkan penyiar Gamasi FM Makassar antara lain: Ummi Erbita Daeng Jinne, Rani Gamajaya, Daeng Tompo, Mila Karmila, Erna Wasty, Amar Mannaungi, Novi Deng Rannu, Zita Suharman, Citra Ariesta , Asiz Daeng Nojeng dan Syarif Daeng Nai.

SEJARAH AWAL MUNCULNYA RADIO

Pada akhir abad ke-19, penemuan gelombang elektromagnetik oleh James Clerk Maxwell dan pembuktiannya oleh Heinrich Hertz membuka jalan bagi komunikasi nirkabel. Guglielmo Marconi kemudian berhasil mengirim sinyal tanpa kabel.

Sinyal ini melintasi Samudra Atlantik pada tahun 1901, menandai awal era komunikasi radio. AM pada radio merupakan singkatan dari Amplitude Modulation. Inilah yang dipakai Radio Gandaria dan Garmasi di Makassar.

Teknologi AM menjadi metode utama dalam penyiaran radio karena kesederhanaannya dalam modulasi dan demodulasi sinyal.

Dikutip dari buku Merawat Radio, Erlita (2024: 17), dalam sistem AM, amplitudo gelombang pembawa diubah-ubah.

Amplitudo tersebut diubah sesuai dengan sinyal audio yang akan dikirimkan. Sementara frekuensinya tetap konstan. Penerima radio AM akan mendeteksi variasi amplitudo dan mengonversinya menjadi sinyal audio yang dapat didengar.

Meskipun teknologi ini efektif, sinyal AM rentan terhadap gangguan atmosfer dan interferensi elektromagnetik. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas suara.

Duet dengan istri menyanyikan “SALASAKU” lagu daerah Makassar. (Sumber video : TikTok @nurterbit_) 👇

https://vt.tiktok.com/ZSq1RhQGP/

PERBEDAAN AM DENGAN FM

Selain AM, terdapat juga teknologi FM (Frequency Modulation) atau Modulasi Frekuensi. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada cara modulasi sinyal.

1. AM (Amplitude Modulation): Mengubah amplitudo gelombang pembawa sesuai dengan sinyal audio, dengan frekuensi tetap.

2. FM (Frequency Modulation): Mengubah frekuensi gelombang pembawa sesuai dengan sinyal audio, sementara amplitudo tetap konstan.

Radio FM cenderung memiliki kualitas suara yang lebih baik dan lebih tahan terhadap gangguan dibandingkan dengan AM. Namun, radio AM memiliki jangkauan siaran yang lebih luas.

Terutama pada malam hari, karena sifat propagasi gelombangnya. Salah satu keunggulan utama radio AM adalah kemampuannya untuk menjangkau area yang luas, bahkan hingga daerah terpencil.

Hal ini menjadikannya pilihan ideal untuk penyiaran berita dan informasi di wilayah yang luas.

Namun, kualitas suara pada siaran AM seringkali kurang jernih dibandingkan dengan FM, terutama karena rentannya terhadap gangguan dan interferensi.

Meskipun teknologi FM dan digital telah banyak menggantikan peran AM dalam penyiaran komersial, radio AM masih tetap digunakan.

Radio AM terutama untuk siaran berita, talk show, dan informasi publik.

Radio AM menjadi bagian penting dari sejarah dan perkembangan teknologi komunikasi, menawarkan jangkauan luas dan peran penting dalam penyebaran informasi. Red dari berbagai sumber

Demikianlah kisah pengalaman saya sebagai penyiar radio. Semoga bermanfaat.

Salam : Nur Terbit

Tulisan di hari ketujuhbelas (ke-17) Rabu 2 September 2026 ini, diikutkan Lomba Blog Kemerdekaan yang digelar oleh Wijaya Kusumah (Omjay) — Guru Blogger Indonesia – https://www.wijayalabs.com

Menyanyi lagu daerah Makassar “Boli’ma Kamma Salasa”, lagu yang sering diputar Radio Gandaria dan Garmasi ketika saya menyiar 👇

Leave a Comment