Keluarga Kesehatan

Hati-hati Dengan Parkinson, Petinju Mohammad Ali Saja KO

Written by nurterbit
Parkinson banyak menyerang kalangan lansia. Biasanya serangannya cenderung ringan sehinga sering tanpa disadari oleh penderita. Apa gejala Parkinson?

“Wah, jangan-jangan saya juga sudah terkena Parkinson dokter?”
“Alasannya apa, koq begitu yakin sudah terkena Parkinson?”

Dokter menunggu jawaban “pasien”-nya. Yang ditanya malah cengengesan hehe..

“Dokter kan bilang, salah satu tandanya kalau tangan selalu gemetar. Nah tangan saya suka gemetar dok, apalagi kalau lama baru pegang duit. Lebih parah lagi, kalau lama baru pegang istri hehehe….”

“Ha..ha..ha..Apalagi megang istri orang ya?”, balas dokter.

PARKINSON — Sebagian anggota komunitas blogger dan vlogger yang ikut acara mengenal penyakit Parkinson (foto dok WAG)

Suasana spontan terdengar gemuruh oleh suara tawa siang itu. Semua yang hadir tertawa mendengar dialog kocak kami dengan dr Sukono Djojoatmodjo, Sp.S saat sesi tanya jawab. Gelak tawa seolah tak terbendung, karena ditingkahi pula oleh candaan Mbak Astryovie yang siang itu bertindak sebagai MC dan moderator acara.

Apa itu Parkinson? Dari penjelasan dokter saraf RS Premier Jatinegara, dr Sukono Djojoatmodjo, Sp.S, salah satu gejala yang bisa dikenali jika seseorang terkena penyakit Parkinson adalah jika tangannya gemetar tak terkendali — atau dalam istilah kedokteran adalah “Tremor”.

Hari itu, Kamis 7 november 2019, saya bersama istri dan putri bungsu, diundang menghadiri seminar di RS Premier Jatinegara, Jakarta Timur di acara “Vlogger dan Blogers Gathering, Mengenal Parkinson” bersama pembicara oleh dr Sukono Djojoatmodjo, Sp.S.

“Umurnya berapa sekarang?”, tanya dokter Sukono.
“Agustus 2019 lalu, sudah 59 tahun”, kata saya serius.
“Hati-hati, satu tahun lagi menunggu giliran hehehe….rata-rata Parkinson menyerang pria, berusia di atas 60 tahun. Jarang menyerang wanita,” kata dokter Sukono serius. Meski disampaikan dalam nada bercanda.

Parkinson lebih banyak menyerang pria dari pada wanita, terutama yang berusia 60 tahun (foto dok : Nur Terbit)

Parkinson lebih banyak menyerang pria dari pada wanita, terutama yang berusia 60 tahun (foto dok : Nur Terbit)

Apa itu Parkinson?

Menyebut Parkinson, yang terlintas dalam ingatan saya adalah wajah Mohammad Ali, petinju juara kelas dunia yang pernah dikabarkan terserang Parkinson. Wajahnya yang biasanya periang — bahkan sering menari di atas ring tinju mengejek lawan tinjunya — tiba-tiba terlihat berwajah kaku, pandangan kosong dan tangan gemetar. Itulah gejala serius dari penyakit Parkinson.

PARKINSON — Anggota komunitas blogger dan vlogger menerima hadiah door prize (foto dok WAG/Sumiyati)

Dari penjelasan dokter saraf, Sukono Djojoatmodjo, salah satu gejala yang bisa dikenali jika seseorang terkena penyakit Parkinson adalah tangan korbannya gemetar tak terkendali — atau dalam istilah kedokteran adalah “Tremor”.

Menurut dokter yang humoris ini, saat ini data menyebutkan ada sekitar 2,6 juta orang di seluruh dunia terkena Parkinson pada tahun 1990. Sedangkan pada tahun 2015, mengalami kenaikan yang signifikan, yakni 6,5 juta jiwa.

Parkinson sendiri adalah istilah medis untuk penyakit gangguan atau kelainan pada sistem saraf. Penyakit ini terbukti berhasil membunuh secara bertahap. Ia mempengaruhi otak yang selama ini berfungsi mengkoordinasikan gerak organ tubuh manusia.

“Jika penyakit Parkinson sudah menyerang, akan mengakibatkan penderita kesulitan mengatur gerakan tubuhnya, termasuk saat berbicara, berjalan dan menulis. Nah itulah yang dialami petinju Mohammad Ali,” kata dokter Sukono.

Seperti telah disebutkan di awal tulisan artikel ini, menurut dr Sukono, gejala dan penyebab penyakit Parkinson bisa cepat dikenali dari gejala awal dari penyakit yang banyak menyerang para lansia ini. Biasanya serangannya cenderung ringan. Karena ringan itulah, tanpa disadari oleh penderitanya sendiri.

Menurut dokter Sukono, gejala utama gangguan gerak Parkinson ditandai dengan 3 gejala yaitu :   

PARKINSON — Dokter Ahli Saraf RS Premier Jatinegara, Jakarta Timur, dr Sukono Djojoatmodjo (foto repro Nur Terbit)

Gemetar (Tremor),
Kekakuan Gerak (Rigidity) dan,
Kelambanan Gerak.

Sedangkan gejala gangguan yang non motor dari penyakit Parkinson ini adalah antara lain:

Gangguan peghidu,
Gangguan tidur,
Susah buang air besar,
Depresi,
Mudah mengantuk,
Halusinasi,
Tekanan darah rendah,
Gangguan jiwa

Selain itu, kata dokter Sukono, penyakit ini akan semakin memburuk secara bertahap seiring dengan berjalannya waktu dan beberapa tingkatan (stadium).

Misalnya bisa dikenali dari tahapan antara lain :

Stadium pertama : Gejala penyakit Parkinson tergolong ringan dan tidak mengganggu aktifitas penderita.
Stadium dua : Berbeda pada tiap penderita dan berlangsung dalam hitungan bulan atau tahun.
Stadium tiga : Terlihat dari gerakan tubuh yang sudah melambat dan mulai mengganggu aktifitas penderita.
Stadium empat : Penderita sudah mulai kesulitan berdiri atau berjalan. Gerak tubuh penderita semakin melambat sehingga membutuhkan orang lain untuk menunjang aktifitasnya.

Penanganan Penderita Parkinson

Ketika ditanya bagaimana penanganan penderita Parkinson ini?

Dokter Sukono menjelaskan, ada beberapa metode penangan penyakit Parkinson. Antara lain dengan melakukan pengobatan melalui Terapi (suportif seperti fisiotrapi), penggunaan obat-obatan seperti Kolonergik dan Levo Dopa.

Sementara untuk pengobatan Parkinson ini, bisa dilakukan dengan cara : minum obat secara oral, melalui obat infus, dan terakhir adalah tindakan operasi jika penyakit Parkinsonnya dianggap sudah akut.

Meski masih susah mengobati penyakit Parkinson ini, tapi sejauh ini para dokter saraf sudah berusaha mencegah dengan cara menyarankan para pasien Parkinson berolah raga, secara rutin mengkonsumsi makanan yang kaya antioksidan. Makanan ini dipercaya dapat mengurangi resiko seorang yang terkena penyakit Parkinson.

Sejauh ini pihak dokter saraf sudah bisa mendeteksi apa penyebab munculnya penyakit Parkinson ini. Antara lain karena faktor : Genetik, Lingkungan, Usia, Jenis Kelamin, Adanya Kehadiran Lewy Body, Alpha, Synuclein yang ditemukan di dalam Lewy Body.

Foto bersama usai Mengikuti seminar pengenalan Parkinson (dok WAG/Sumiyati)

Melayani Pasien BPJS

Sementara itu, Drg Kencana Widya, Marketing Manager RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, mengatakan kalau RS Premier juga menangani pasien BJPS. Artinya, sudah bisa juga mengcover pengobatan penyakit Parkinson dan juga asuransi lainnya.

“Saya bersyukur, pasien BPJS juga bisa ditangani. Makanya saya menanyakan di sesi tanya jawab, mumpung bisa sekalian konsul dengan dokter ahlinya,” kata Dewi Nuryanti, salah seorang blogger yang hadir di acara ini.

Menurut Drg Kencana Widya, pasien penyakit Parkinson yang menggunakan fasilitas BPJS di Premier Jatinegara, akan ditangani langsung oleh pakarnya yakni dokter Sukono Djojoatmodjo, Sp.S.

“Sekarang kita sudah punya klinik khusus penyakit Parkinson”, kata Kencana Widya.

Layanan baru bagi penderita Parkinson di RS Premier ini, kata Kencana Widya, merupakan perluasan dari center of excellent rumah sakit yang berlokasi di Jalan Raya Jatinegara Timur No. 85 – 87 Jatingera, Jakarta Timur. Salah satunya yaitu dibidang Neurology.

“Kami berharap para blogger dan vlogger, bisa mem-viralkan apa itu Parkinson. Mungkin masih banyak masyarakat yang belum paham apa itu penyakit lansia ini, apa penyebabnya, bagaimana pencegahan dan pengobatannya, dan lain-lain,” harap Kecana Widya.

Ya, mudah-mudahan dengan sedikit ulasan di artikel hasil liputan dari RS Premier ini, bisa bermanfaat bagi yang membaca. Dengan demikian, tidak perlu panik, repot, jika ada keluarga yang terkena gejala Parkinson, RS Premier siap menangani.

Salam

(Nur Terbit)

Leave a Comment